
Di luar ruangan, terlihat Seva yang sedikit terkejut ketika melihat Anne sudah keluar dari ruangan UGD.
"Kenapa Kakak memandangku seperti itu?" tanya Anne bingung dan merasa tak nyaman dengan tatapan Seva.
" Cie ... Yang habis di tembak ," goda Seva sambil menyenggol lengan Anne.
" Kak Seva apaan sih!" Anne mencoba menutupi wajahnya yang memerah akibat ledekan dari Seva.
"Nggak usah malu, aku juga pernah muda kok!" tukas Seva.
"Memangnya sekarang sudah tua?" Anne justru kembali bertanya.
" Ya ... Nggak tua juga sih! Hanya sedikit lebih dewasa," Papar yang mengganti kata tua dengan dewasa. Biar lebih enak di dengar.
" Idih ... alesan!" dengus Anne. " Kalau gitu kita pulang!" Anne mengajak Seva pulang karena dia ingin mengistirahatkan hati dan pikirannya.
" Loh kenapa pulang? Emangnya nggak mau nungguin ayang bebebnya? " Seva terus saja menjahili Anne yang terlihat begitu menggemaskan ketika merasa malu dan bersemu merah.
" Eyang bebek kali!" Anne mulai kesal dengan sikap Seva yang terus saja menggodanya.
Walau sebenarnya mereka itu adalah majikan dan bawahan, tapi Anne tak pernah menganggap Seva seperti itu. Dari awal, Anne memang meminta agar Seva bisa menjadi teman sekaligus keluarganya ketika berada di kota ini karena dia adalah satu-satunya orang yang menemaninya. Dan untungnya Seva bisa menjadi seperti itu, walau terkadang dia tetap menjaga batasan karena bagaimana pun, Anne tetaplah majikannya.
" Anne, kita seriusan pulang?" tanya Seva yang berjalan mengekor di belakang Anne.
" Em," jawab Anne singkat.
" Terus, Tuan Brian gimana? Dia 'kan baru sadar setelah mengalami kecelakaan. Masak iya, di tinggal sendirian."
Anne menghentikan langkahnya, lalu membalikkan setengah badannya agar bisa menatap Seva.
" Minta tolong hubungi Jeremy, biar dia saja yang menjaganya,"titah Anne dengan memasang wajah datar.
Melihat sikap Anne yang terlihat begitu aneh, membuat Seva jadi bingung. Padahal, ketika Brian belum sadar, dia nangis-nangis minta Brian untuk segera sadar. Tapi, setelah sadar, justru di tinggalkan.
__ADS_1
Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah seharusnya mereka sedang dalam masa kasmaran, dan tak ingin jauh-jauh. Tapi, kenapa justru sebaliknya?
Begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Seva. Jujur, Ia benar-benar tak mengerti dengan hubungan Anne dan juga Brian.
***
Selama di perjalanan, Anne terus diam tanpa kata. Ia terlihat menutup mata, seakan sedang menyembunyikan sesuatu.
" Anne, kamu baik-baik saja?" tanya Seva penasaran.
" Aku baik-baik saja," jawab Anne yang masih menutup matanya.
Sesampainya di apartemen, Anne langsung mengambil air wudhu, lalu sholat. Kebetulan, waktu sholat maghrib telah tiba sehingga membuat Anne langsung bergegas sholat karena waktu maghrib hanya sebentar.
Di dalam doanya, Anne meminta maaf atas dosa-dosa yang telah ia lakukan. Meski semua kejadian terjadi bukan karena kehendaknya, tapi bagaimana pun kejadian itu telah terjadi.
Tiba-tiba, ingatan tentang di mana Brian tanpa sengaja mencium keningnya, terlintas kembali.
" Astagfirullah hal adzim, Maafin Anne ya Allah ...," ucap Anne yang merasa bersalah karena tak bisa menjaga dirinya dengan baik. Anne memang bukanlah orang suci, dia hanyalah seorang makhluk yang tak sempurna, tempatnya salah dan juga khilaf.. Selama bersama Brian, Anne bahagia,dan ia suka itu. Namun, begitu banyak kekhilafan yang kadang terjadi tanpa di duga. Anne tak menyalahkan Brian, karena dia bukanlah seorang muslim. Jadi, mungkin tak tahu apa saja batasan-batasannya.
***
Tak ada sapaan selamat pagi seperti biasanya dari keduanya, hanya ada suasana canggung akibat kejadian kemarin.
Ketika berada di dalam lift yang sama, keduanya tetap tak ada yang bersuara atau membuka pembicaraan. Hal itu tentu membuat Seva merasa aneh, bingung, dan tak mengerti. Saat ini, ia seakan sedang berada pada lapisan atmosfer yang begitu dingin.
" Bukankah mereka itu sama-sama cinta ya? Tapi kenapa justru jadi seperti ini?"
" Kalian ada masalah?" Seva mencoba membuka pembicaraan.
" Gak ada," jawab keduanya bersamaan.
" Tapi kok diem-dieman?" Seva memberanikan diri untuk bertanya lagi.
__ADS_1
Namun, sebelum keduanya menjawab. Pintu lift sudah terbuka, membuat ketiga orang itu segera keluar.
" Mau barengan?" tawar Brian.
" Nggak usah, nanti ngerepotin," tandas Anne yang segera bergegas pergi.
Melihat Anne yang terkesan menghindar, membuat Brian menyesal karena sudah mengutarakan perasaannya. Andai ia tak mengatakan bahwa dia mencintai Anne, mungkin hubungan mereka masih baik-baik saja seperti biasanya.
" Anne, kalian berdua kenapa?" tanya Seva ketika mereka sudah sampai di basement apartemen.
" Buruan, nanti kita telat!" Anne mencoba mengalihkan pembicaraan karena ia masih tak ingin membahas soal ini.
Melihat gestur dan raut wajah Anne yang seperti tidak suka, membuat Seva tak lagi bertanya. Lagipula, itu sudah masuk kedalam ranah pribadi. Jadi, Seva tak boleh terlalu ikut campur lebih jauh lagi.
...***...
" Pagi, bos," sapa Jeremy ketika menyambut kedatangan Brian.
" Pagi," jawab Brian dengan dingin.
" Apa ada masalah, bos?" tanya Jeremy ketika menyadari sikap Brian yang tak seperti biasanya.
" Tidak ada, jelaskan jadwal saya hari ini."
" Baik, bos. " setelahnya, Jeremy menjelaskan rangkain pekerjaan Brian hari ini.
Selama bekerja, entah kenapa Brian jadi sangat tak fokus. Ia terus memikirkan kenapa sikap Anne tiba-tiba berubah dingin dengannya.
" Jer, apa kamu pernah pacaran atau menyukai seorang wanita? " tanya Brian yang mencoba mencari saran.
" Memangnya ada apa, bos?"
" Bisakah jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi? Jawab saja!" kesal Brian. Sudah tahu, moodnya sedang tak bagus, justru di buat makin bagus.
__ADS_1
" Kalau saya, jarang berkencan yang serius begitu bos. Tapi, kalau teman one night stand, cukup banyak, "jujur Jeremy yang membuat Brian memutar bola matanya jengah.
...****************...