
Saat malam hari, tiba-tiba Anne belum juga bisa memejamkan matanya. Jadi, Ia memutuskan keluar rumah untuk mencari udara segar. Dari Pertama masuk rumah ini, Anne mengira bahwa rumahnya kecil. Tapi ternyata sangat luas, bahkan ada rumah khusus untuk tamu yang datang menginap, dan saat ini sedang Anne tempati.
Ketika berjalan-jalan di halaman, tanpa sengaja Anne bertemu dengan Pangeran yang sepertinya tengah menelpon dengan seseorang.
Ketika Anne ingin pergi demi menghindari pria itu, tiba-tiba sudah terdengar suara yang memanggil namanya.
" Anne," panggil Pangeran.
" Kamu belum tidur?" tanya Pangeran seraya berjalan mendekati Anne.
Karena sudah ketahuan, terpaksa Anne membalikkan tubuhnya.
" Em, iya."
" Apa Kamu sedang tidak bisa tidur?" tanya Pangeran dan dijawab anggukan kepala oleh Anne.
" Kenapa? Apa tempatnya kurang nyaman? "
Anne menggeleng.
" Bukan, tempatnya nyaman kok, bersih lagi. Mungkin, karena berada di tempat baru saja. Jadi, sulit untuk tidur. " Anne mencoba memberikan sebuah penjelasan agar Pangeran tak salah paham. Karena sejatinya, apa yang dikatakan Anne benar.
"Oh, baguslah kalau begitu. Aku kira, Nona muda tidak bisa tidur jika___"
" Jangan mulai deh!" potong Anne yang paling tak suka di sebut sebagai Nona muda.
" Sorry, aku hanya bercanda."
" Oh, ya. Apa kamu mau aku buatkan minuman yang dapat membuat orang bisa cepat tertidur?" tawar Pangeran.
" Memangnya ada?" tanya Anne yang belum pernah mendengar hal itu.
" Tentu ada!"
Setelahnya, Pangeran mengajak Anne untuk pergi ke dapur. Karena dapurnya berada di ruangan yang terbuka, membuat hembusan angin malam semakin menembus kulit Anne.
Melihat Anne yang seperti sedang kedinginan, membuat Pangeran pergi ke sebuah lemari penyimpanan untuk mengambilkan sebuah selimut kecil.
" Udara malam di sini, sangat dingin. Berbeda dengan di kota, jadi kalau keluar harus pakai pakaian tebal," nasehat Pangeran seraya menyelimuti tubuh Anne.
Sementara Anne terlihat diam membisu ketika tiba-tiba mendapatkan sebuah perlakuan seperti ini.
" Apakah sudah lebih hangat? "tanya Pangeran.
Anne mengangguk.
Pangeran tersenyum, lalu pergi lagi menuju dapur untuk melanjutkan membuat Teh Chamomile.
Tak lama kemudian, pria tampan itu sudah kembali dengan membawa sebuah nampan berisikan teko berisi teh chamomile dan dua cangkir kosong.
Dengan tlaten dan sabar, Pangeran menuangkan teh chamomile kedalam gelasnya dan juga Anne.
" Minumlah, biar hangat," ujar Pangeran.
Awalnya, Anne sedikit mencium aroma teh itu yang terasa menenangkan, kemudian lanjut menyeruputnya secara perlahan.
" Terimakasih," ucap Anne.
" Sama-sama."
" Oh, ya Anne. Boleh aku bertanya padamu?" izin Pangeran.
" Silahkan. "
" Em, apa lukisan itu ber seri?" tanya Pangeran, pasalnya ia seakan melihat ada kode di sana.
__ADS_1
" Oh. Soal itu. Ya, dia adalah salah satu seri dari lukisan in memories, " jawab Anne.
Pangeran mangut-mangut.
" Kamu sendiri, sejak kapan bisa merestorasi lukisan? " Anne kembali bertanya sebagai imbal balik pembicaraan.
" Oh, dari kecil. Aku memang sudah suka melihat nenek melukis atau memperbaiki lukisan. Ketika remaja, baru mulai belajar membantu merestorasi sedikit demi sedikit. "
" Terus, kenapa kamu tidak menjadi seorang pelukis?"
Pangeran tersenyum, akhirnya Anne sudah mulai bertanya tentang dirinya. Tak seperti dulu, dia hanya akan menjawab jika di beri sebuah pertanyaan.
" Kamu sendiri, anak dari seorang pengusaha properti nomor satu di Indonesia kenapa justru menjadi seorang pelukis? " Pangeran justru kembali bertanya. Pasalnya, Ia memang pernah mendengar jika Kenzo mempunyai seorang putri. Namun, identitasnya seakan di sembunyikan dari media.
"Bukannya menjawab, malah nanya balik!" kesal Anne.
" Ya, aku 'kan juga penasaran."
" Kalau begitu, cari sendiri jawabannya!" tandas Anne yang tiba-tiba sudah merasa mengantuk.
" Kalau begitu, aku pergi duluan. Soalnya udah mulai mengantuk," pamit Anne yang sudah bergegas bangun dari tempat duduknya.
" Anne, "panggil Pangeran ketika Anne baru berjalan beberapa langkah.
Anne pun menengok." Ya, ada apa? "
" Good night, " ucap Pangeran.
Anne hanya mengangguk, lalu kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi kembali ke kamarnya. Sementara Pangeran, masih terus menatap kepergian Anne.
...***...
Ke esokan harinya, Anne dan Pangeran kembali melanjutkan restorasi lukisan 'Sea' dari seri in memories.
Kini, Anne baru menyadari jika pekerjaan merestorasi lebih sulit daripada melukis. Karena merestorasi harus benar-benar memperhatikan setiap detil - detilnya agar bisa sama seperti lukisan asli. Sedangkan melukis di kanvas kosong, lebih mudah karena hanya mengikuti imajinasi yang ada.
" Istirahat saja, Anne jika kamu sudah lelah."
" Memangnya, kamu sendiri gak lelah?" Anne kembali bertanya.
" Yasudah, kalau begitu kita rehat sejenak."
Setelahnya, Anne dan Pangeran istirahat untuk merenggangkan otot-otot yang tegang. Namun, tiba-tiba ponsel Anne berbunyi dan memperlihatkan sebuah panggilan vidio masuk dari sahabat sekaligus Kakak iparnya.
Anne pun sedikit menjauh untuk mengangkat panggilan itu.
" Halo, Assalamualaikum, Nal. Ada apa?"
" Waalaikumsalam, Anne kamu kemana sih!"
" Kenapa? Kangen ya?" goda Anne.
Dan ternyata Nala mengangguk.
" Tumben kangen, ada apa? Pasti ada masalah 'kan?" tebak Anne yang begitu tepat sasaran.
" Iya, masalahnya aku tuh lagi bosen sekarang. Pengen keluar cari udara segar, tapi gak di bolehin sama Papi, Mami, dan Kak Lean."
" Kamu tahu nggak? Aku tuh sudah bagaikan burung dalam sangkar yang di kurung di dalam rumah, tidak boleh keluar kemana pun!" Curhat Nala yang sedang menumpahkan semua isi hati dan pikirannya.
" Yaudah, kalau gitu aku kasih lihat pemandangan yang seger." Anne pun mengubah kameranya menjadi kamera belakang, lalu memperlihatkan pemandangan sekitar tempat restorasi yang begitu sejuk, indah, dan alami.
" Anne ... Bagus sekali, kamu lagi ada di mana sih? Healing kok gak ajak-ajak! "omel Nala yang sudah seperti emak-emak. Eh, tapi sekarang memang sudah emak-emak sih, emak muda buntut satu.
" Siapa yang healing, sih? Lagian aku tuh lagi ada urusan, tapi tempatnya emang bagus sih. Jadi, serasa healing, "papar Anne.
__ADS_1
" Urusan apa? "
" Anne, mau minum? "tawar Pangeran yang tak tahu jika Anne melakukan panggilan vidio.
" Anne siapa itu! "pekik Nala yang membuat Anne panik dan segera mengalihkan kamera.
" Bukan siapa-siapa, "bohong Anne.
" Gak usah bohong! Kamu lagi dimana sih? Sama siapa? Gebetan baru, ya? " Nala terus saja berbicara tanpa henti bagaikan tak ada remnya.
" Gebetan apa sih? "elak Anne.
" Coba lihat tempat di belakang kamu! "titah Nala penasaran.
Anne pun segera memberi kode pada Pangeran untuk bersembunyi agar Nala tak melihatnya saat Anne memperlihatkan kondisi tempat di belakang Anne.
" Tuh, gak ada siapa-siapa 'kan? "ujar Anne yang mencoba memastikan pada Nala bahwa ia sedang tak bersama dengan siapa-siapa.
" Perasaan aku tadi denger dan lihat kalau ada pria deh! "gumam Nala yang masih tak percaya jika Anne sedang sendirian.
" Keponakan ku yang cantik mana? "tanya Anne mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Dia lagi tidur sama suster, makanya aku bisa vidio call sama kamu. Kalau dia bangun mah, aku gak bisa ngapa ngapain. Soalnya, dia minta ***** terus ... " curhat Nala soal kisah dirinya yang tengah menjadi ibu baru.
" Namanya juga masih bayi, Nal. Sumber makanannya hanya ada pada asi."
" Iya, sih!. " Nala menyadari itu. Namun, Ia juga terkadang merasa lelah bercampur bosan dengan keadaannya sekarang.
" Aku jadi pengen kembali menjadi wanita single" ujar Nala.
" Bukankah baru kemarin kamu bilang kalau menikah dan punya anak itu enak? Kok sekarang jadi seperti ini?"
Nala terlihat menghembuskan nafas panjangnya. " Ya, enak sih! Tapi, terkadang rindu juga masa-masa waktu masih single dulu. Bisa pergi kemana-mana bebas, gak kayak sekarang. Apalagi, Kakakmu itu tiap hari kerja mulu! Aku 'kan jadi stres ngurus bayi sendirian."
" Kakakku, adalah suamimu Nala ... Lagipula, bukankah ada Baby sitter yang bantuin? Mami Senja dan Kak Lean kalau sudah pulang kerja juga pasti bantuin jaga' kan? " Anne berkata seperti ini karena ia sendiri pernah melihat Kakaknya juga ikut gantian jaga bayi ketika ia sudah pulang kerja. Mungkin, Nala sekarang mengalami baby blues sehingga membuat ia uring-uringan seperti ini.
Ditambah lagi, usianya juga terbilang masih sangat muda untuk menjadi seorang ibu. Jadi, pasti ia memiliki stress dan problem tersendiri.
" Iya juga sih! Intinya, aku tuh sekarang lagi butuh refreshing, butuh perawatan, dsb. Coba kamu lihat, wajahku kucel banget 'kan? Gimana nanti kalau__"
" Jangan berpikiran yang macem-macem deh! " potong Anne yang tak mau sahabatnya itu memiliki pemikiran-pemikiran negatif. Saat ini, Anne seakan harus bisa menjadi seseorang yang bisa mendinginkan Nala.
" Kamu tahu sendiri' kan jika Kak Lean itu sangat mencintai kamu. Jadi, tidak mungkin dia akan berpaling hanya karena wajah yang kamu bilang kucel itu. Lagipula, dia pasti bisa mengerti kondisi istrinya yang memang baru saja selesai melahirkan. So, berhenti berpikiran yang tidak-tidak. "
" Kalaupun dia berani melakukan itu, akan aku pastikan dia tidak akan bisa hidup dengan baik! "pungkas Anne.
Nala jadi terharu ketika mendengar perkataan Anne yang saat ini jauh lebih dewasa.
" Makasih ya, Anne. "
" Sama-sama, Kakak iparku yang cantik, "puji Anne agar hati Nala lebih dingin.
Dari kejauhan, ada seseorang yang semakin kagum dengan sosok Anneta yang ternyata cukup dewasa.
" Oh, ya. Kamu beneran hanya sendirian di sana? " Nala kembali bertanya karena feelingnua seakan berkata jika Anne sedang tak sendiri.
" Nal ..."
" Ya, aku 'kan hanya memastikan Anne. Lagipula, kalau udah ada gebetan baru juga gak ada masalah, karena sama yang itu kan sudah selesai. Tapi___ harus cari yang Seiman biar di restuin sama Papa." Nala mencoba memberikan saran pada sahabat dan juga adik iparnya itu.
" Em, udah dulu ya, Nal. Aku masih banyak kerjaan, nanti kita sambung lagi. "
Nala hanya bisa menghembuskan nafas panjang ketika melihat Anne yang selalu saja berusaha menghindar jika membahas soal itu. Meski hanya lewat vidio, Nala dapat melihat jelas dari raut wajah Anne jika ia belum berhasil melupakan Brian. Namun, Ia tak mau terlalu ikut campur karena itu sudah termasuk dalam privasi Anne.
Dia, sebagai sahabat hanya bisa memberikan nasehat, masukan, dan saran. Selebihnya, biar Anne yang mengurusnya sendiri.
__ADS_1
" Jadi, ternyata Anneta ..." Pangeran kembali menatap kearah lukisan yang sedang ia bantu perbaiki. Kini, Pangeran mulai mengerti kenapa raut wajah Anne akan berubah sendu ketika menatap lukisan itu.
...****************...