
Melihat Anne yang pergi makan di luar dengan pria lain, tentu saja membuat Brian cemburu dan kesal. Niat hati, pulang cepat agar bisa bertemu dan melepaskan rasa rindu dengan gadis pujaannya. Tapi, siapa sangka jika kepulangannya justru mendapatkan kejutan luar bisa.
Tanpa berlama-lama, Brian segera pergi kembali menuju tempat dimana Anne berada. Namun, ketika baru saja sampai lobi, ternyata Anne sudah pulang dan diantar oleh pria itu.
" Makasih banyak untuk hari ini, Anne," ucap Caka dengan tersenyum manis.
" Sama-sama, lagian aku juga senang kok bisa berbagi canda tawa dengan anak-anak."
Hari ini, ketika Anne akan pulang kuliah, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Caka yang ingin pergi ke sebuah rumah kanker. Mendengar cerita bahwa Caka merupakan seorang relawan pendamping penyintas kanker anak-anak, membuat Anne tertarik dan ingin ikut. Jadi, Caka pun mengajaknya.
" Anne!" seru Brian dengan suara beratnya.
Mendengar ada yang memanggilnya, membuat Anne membalikkan tubuhnya.
" Kak Brian? Kapan dia datang?" gumam Anne yang cukup terkejut saat melihat Brian sudah berdiri tak jauh dari tempatnya sekarang.
" Jam segini baru pulang habis dari mana saja?" tanya Brian dengan tatapan yang begitu tajam ke arah Caka.
" Kita habis dari rumah sakit terus___"
" Kamu sakit, Anne?" tanya Brian yang memotong perkataan Caka.
Melihat Brian yang menempelkan telapak tangannya ke keningnya, membuat Anne cukup terkejut.
" Tidak demam, lain kali kalau sakit bilang aja sama Kakak. Nggak usah pergi sama orang ASING!" ujar Brian dengan menekan kata asing.
"Apaan sih, aku tuh___"
" Kita pulang." Brian langsung mencekal tangan Anne dan membawanya pergi menjauh dari Caka.
" Kak, lepasin!" rengek Anne yang berusaha melepaskan diri. Namun, Brian justru semakin mengeraskan cekalannya.
Melihat Anne yang terkesan memberontak untuk ingin di lepaskan, membuat Caka ingin mengejarnya. Namun, segera di hentikan oleh Seva.
" Lebih baik kamu pulang saja!" titah Seva.
" Tapi, Anne ..."
__ADS_1
" Itu biar menjadi urusan saya!"
" Apa kamu yakin? Tapi dia tadi___"
" Sudahlah, jangan banyak ikut campur jika ingin selamat!" tandas Seva yang segera berlalu pergi meninggalkan pria itu yang masih diam membeku dan merasa kesal karena ucapannya selalu saja di potong.
Seva hanya bisa menarik napas panjangnya saat menyaksikan Brian yang kembali marah gara-gara Anne pergi dengan pria lain. Sebenarnya, Seva sudah lama menyadari jika Brian itu menganggap Anne lebih dari seorang adik. Tapi, dia diam saja dan tak ingin ikut campur.
Ketika sudah masuk ke dalam lift, Brian menggiring tubuh berjalan sampai menempel pada tembok. Lalu, mengunci pergerakan gadis itu dengan kedua tangannya. Melihat tatapan Brian yang begitu menakutkan, membuat jantung Anne berdetak semakin cepat.
Anne mencoba memalingkan wajahnya agar tak beradu tatap dengan sorot tajam bola mata berwarna hazel itu. Namun, Brian memegang dagu Anne agar menatap ke arahnya.
" Ka-k ... Jan-gan menatapku seperti itu!" lirih Anne dengan nada yang sedikit bergetar karena ketakutan.
" Kamu takut, Anne?" tanya Brian yang diangguki oleh Anne.
" Kenapa kamu takut padaku? Apa wajahku ini menakutkan?" tanya Brian dengan wajah datar.
" Bagaimana aku tida___
Brak ...
" Au, sakit Anne," protes Brian.
" Cemen!" hina Anne. " Lagian, Kakak nggak sopan sekali main nyium-nyium kening aku!" omel Anne sembari memegang keningnya.
" Astaga Anne, itu tidak sengaja. Lagian kamu juga tahu kalau___"
" Stop! Jangan bicara lagi, dan jangan dekat-dekat denganku!" pinta Anne dengan tatapan tajam.
Jujur, Anne benar-benar merasa bersalah karena sudah melakukan hal-hal yang tidak baik. Melihat Anne yang seperti sedang menahan tangisnya, membuat Brian merasa bersalah.
" Anne, maaf. Aku serius, tidak bermaksud untuk mencium kamu, tapi tadi itu___"
" Cukup! Sudah aku katakan jangan di bahas ya jangan di bahas, Kakak paham nggak sih?" bentak Anne.
Brian pun hanya mengangguk.
__ADS_1
***
Di luar, terlihat Seva yang kelimpungan mencari petugas keamanan untuk membantu membukakan pintu lift yang berhenti.
" Pak, buruan! Soalnya ada orang di dalam lift!" Seva terus mendesak petugas keamanan agar segera membukakan pintu lift. Dia sangat khawatir karena di dalam lift itu ada Anne dan juga Brian.
" Iya, Nona. Kami akan berusaha untuk segera membukanya," ujar salah satu sang petugas.
Sesampainya di depan lift, ternyata lift kembali bergerak ke bawah, membuat Seva dan beberapa petugas keamanan segera pergi untuk mengejar lift lewat tangga darurat.
Ketika lift terasa kembali bergerak, Brian spontan menarik tubuh Anne masuk ke dalam pelukannya dengan posisi jongkok di tengah ruangan lift.
" Kamu gapapa, Anne?" tanya Brian cemas ketika lift sudah berhenti.
Anne hanya mengangguk karena ia masih dalam kondisi terkejut. Lagipula, siapa yang tak terkejut jika berada di posisi seperti ini. Beberapa detik kemudian, Anne langsung berusaha melepaskan diri agar tak terlalu lama berpelukan dengan pria yang bukan muhrimnya.
" Anne, apa kalian baik-baik saja di dalam?" teriak Seva dari luar.
Mendengar ada suara Seva di luar, membuat Anne segera bangun dari duduknya, dan mendekat ke pintu lift.
" Kak Seva ... Tolong bantu bukakain pintu liftnya," teriak Anne dari di dalam sana. Sedangkan Brian, masih duduk bersandar sembari menatap punggung Anne.
" Anne," panggil Brian.
" Kenapa!" ketus Anne karena masih merasa kesal dengan Brian.
" Maaf karena aku sudah membuatmu terjebak bersamaku di sini. "
" Syukurlah kalau Anda sadar." Anne tetap membelakangi Brian. Dia malas menatap wajah Brian yang begitu menyebalkan.
" Aku bersikap seperti itu juga karena kamu," lanjut Brian yang seketika membuat Anne memutar balik badannya.
" Apa maksud Kakak berbicara seperti itu, huh? Kenapa bisa aku yang salah? 'kan yang menarik aku secara paksa masuk ke dalam lift adalah Kakak! Jadi yang salah itu ya Kakak, jangan suka melemparkan kesalahan ke orang lain deh!" Anne terus mengomel tanpa henti, membuat Brian hanya bisa menghembuskan nafas panjang dan geleng-geleng kepala.
" Bisakah jangan marah-marah terus, Anne?" pinta Brian tulus.
" Aku tidak akan marah kalau Kakak tidak nyebelin dan membuat aku emosi!" dengus Anne sembari melipat kedua tangannya di depan dada serta mengalihkan pandangannya agar tak saling tatap dengan Brian.
__ADS_1
" Anne ... aku begini juga karena cemburu!"
...****************...