Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 13 : Keberangkatan ke New York


__ADS_3

Waktu terus berjalan tanpa berhenti sedikitpun. Selama Brian tinggal di Indonesia, hubungannya dengan Anne dan Papa Ken semakin baik dan dekat. Tidak ada lagi rasa canggung seperti dulu lagi, bahkan Papa Ken juga sempat berpesan agar Brian ikut menjaga Anne saat ia berada di New York nanti.


Namun, Brian kembali ke New York lebih dulu karena ada urusan yang harus segera ia urus.


Akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu telah tiba, di mana Anne akan berangkat pergi ke New York.


Ya ... Anne memilih untuk menerima persyaratan dari Papanya agar bisa kuliah di luar Negeri. Setidaknya, sang Papa masih menyetujui permintaan Anne dengan memberikan satu orang wanita saja yang bisa merangkap menjadi seorang asisten sekaligus bodyguard.


Di karenakan tidak bisa menemani Anne pergi ke New York, semua keluarga mengantarkan Anne sampai ke bandara.


" Hati-hati di jalan ya sayang ... Jaga diri baik-baik di sana. Setelah urusan Papamu nanti selesai, Mama akan segera datang berkunjung, Oke?" ucap Mama Dira sembari memeluk putrinya sebelum dia pergi jauh.


" Iya, Mama tenang saja." Anne juga ikut memeluk Mama Dira dengan erat. Selama tinggal di luar Negeri, dia pasti akan sangat merindukan pelukan hangat ini serta masakan yang di buat oleh sang Mama tercinta.


Kini, giliran Papa Ken yang memeluk putrinya sebagai tanda perpisahan.


" Jaga diri baik-baik di sana ya Anne, Papa pasti akan sangat merindukanmu." Papa Ken mencoba menahan kesedihannya. Ini adalah pertama kalinya dia akan hidup berpisah lama dari putri kesayangannya itu.


Anne hanya bisa mengangguk. Setelah itu Anne berjalan menghampiri kedua kakak kembarnya Kean dan Lean, Dinda, Nala serta ketiga keponakannya.


" Belajar yang rajin di sana, jangan main terus! Kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi Kakak, ya?" pesan Kean seraya memeluk sang adik. Begitulah Kakak tertuanya yang dingin dan irit bicara.


" Selamat berpisah adik tengilku, " ucap Lean seraya memeluk Anne.


" Ingat, di sana niatnya belajar! Jadi, jangan pacaran atau main api sama pria di sana, " goda Lean yang seketika mendapatkan cubitan dari Anne

__ADS_1


" Dasar, Kakak aneh! Masak iya mau main api, bisa kebakar dong. Kayak nggak ada mainan lain aja, "ketus Anne dengan polosnya, membuat Lean hanya bisa tepuk jidat.


Begitulah Anne yang polosnya kelewatan, sampai tidak paham apa arti sebenarnya dari main api yang di maksud oleh Lean.


Lean mencubit pipi Anne gemas." Walau sama-sama bisa terbakar, tapi bukan main api yang itu Anneta ... Masak sudah mau 20 tahun belum paham juga?" ujar Lean kesal.


" Terus main api yang mana?" tanya Anne polos.


" Ini kenapa jadi bahas main api?" ujar Mama Dira yang sedikit bingung.


" Sudahlah, suatu saat kamu pasti akan paham! " Lean menepuk pundak sang adik.


Setelahnya, berpamitan deng bumil yang sangat menggemaskan.


" Aku juga, nanti kalau Kakakku sudah tidak sibuk. Datanglah berkunjung ke sana, sekalian babymoon," usul Anne yang langsung di angguki oleh Nala.


Dan yang terakhir kalinya, Anne berpamitan dengan Dinda dan juga ketiga keponakannya.


" Jaga diri baik-baik di sana ya, Dek. Nanti, kalau ada waktu Kakak akan jenguk ke sana."


" Makasih Kakak iparku yang sekarang jauh lebih dewasa," goda Anne yang langsung mendapatkan cubitan gemas dadi Dinda. Bisa-bisanya adik iparnya itu berbicara seperti itu di depan orang banyak. Meski apa yang dikatakan Anne benar, tapi apakah harus dikatakan juga?


Sejak menjadi seorang Ibu dan istri dari pria cuek, Dinda memang jadi ikut-ikutan jadi irit bicara dan lebih dewasa. Pasalnya, suaminya itu selalu saja mode serius, sulit untuk diajak becanda. Jadi, sifat gesreknya mulai menghilang dengan sendirinya.


" Selamat tinggal ponakan-ponakan aunty yang menggemaskan. Aunty pasti bakalan kangen sama kalian, cepat gede dan makin pinter ya... Tapi jangan jadi pria kulkas seperti Papa Kalian," bisik Anne pada ketiga keponakannya.

__ADS_1


Selesai berpamitan, Anne segera berjalan menuju gerbang keberangkatan. Semua keluarga mengiringi kepergiannya dengan rasa haru dan lambaian tangan sayonara.


Ketika sudah berada di dalam pesawat, Anne membuka penutup jendelanya agar bisa melihat pemandangan yang sangat indah. Anne memang sangat suka naik pesawat, apalagi ketika pesawat sudah lepas landas. Dimana ia bisa menikmati indahnya pemandangan dari atas.


" Masya Allah ... Cantik sekali ...," puji Anne yang seketika mengambil buku sketsa dan juga pensilnya. Bagi seorang pelukis, mengabadikan momen ya lewat sebuah coretan manual di atas kertas.


" Sepertinya kamu sedang dalam mode bahagia, Nona," ucap Sevana asisten sekaligus bodyguard Anne.


Anne tersenyum." Tentu saja, melihat pemandangan yang sangat indah itu bisa membuat hormon bahagia itu meningkat!" canda Anne dan di angguki oleh Sevana.


Selama di perjalanan, Anne terus menghabiskan waktunya dengan melukis, mendengarkan lagu, menonton film, makan dan tidur.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 22 jam. Akhirnya Anne sampai juga di kota New York.


" New York ... I'm coming..." seru Anne dalam hati. Meski ini bukanlah pertamakalinya ia datang ke kota ini, tapi rasanya jauh berbeda dari sebelumnya. Mungkin efek akan tinggal beberapa bulan di negara ini sehingga membuat Anne jauh lebih bersemangat lagi.


Akhirnya, setelah hampir 20 tahun hidup di dunia ini. Anne bisa pergi ke suatu tempat tanpa keluarganya, walau masih ada satu bodyguard. Setidaknya, ini bisa menjadi pengalaman baru dalam hidupnya.


Sesampainya di apartemen, Anne cukup terkejut saat melihat ruangannya gelap gulita tanpa cahaya.


" Kak Seva, kenapa gelap gulita? Apakah di sini ada pemadaman juga?"


...****************...


Jangan lupa like, dan beri komentar ya gengs.. Biar author tahu kalau masih ada yang baca😊 jangan jadi reader silent 🤭

__ADS_1


__ADS_2