
Melihat Brian yang membawanya masuk ke dalam kamar hotel, membuat Cassidy tersipu malu. Apakah ini sebuah pertanda jika Brian mulai memiliki rasa padanya?
" Bri...," Cassidy bergelanyut pada lengan Brian. Sedangkan pria itu masih fokus menatap kepergian Anneta dari lubang kecil pada pintu.
" Lepaskan!" pinta Brian dengan nada dingin.
" Maksudnya, apa Bri? Apa kamu sudah tidak sabar melakukan hal itu?" Cassidy terlihat tersipu malu. Padahal, biasanya dia selalu menjadi wanita dominan. Tapi entah kenapa saat bersama Brian dia berubah menjadi wanita yang malu-malu.
Brian melirik tajam ke arah Cassidy. "Bisakah lepaskan tanganku!" pinta Brian lagi.
" Tangan?" ulang Cassidy yang jadi canggung. Ia mengira bahwa Brian menyuruhnya melepas pakaian, tapi ternyata tangannya?
Melihat Cassidy yang hanya diam saja, membuat Brian melepaskan tangan itu secara paksa. Lalu, membuka pintu kamarnya dan menyuruh Cassidy pergi.
Tapi, Cassidy masih bertahan dan berpegangan pada tembok. Ia tak mau pergi dari kamar itu. Masak, sudah jauh-jauh menyusul ke Indonesia di usir seperti ini? Padahal, tadi Brian sendiri yang membawanya masuk.
" Cassi Keluar!" bentak Brian yang memegang tubuh Cassy agar dia keluar dari kamarnya.
Setelah berhasil mengeluarkan Cassidy, Brian langsung mengunci pintu kamar itu. Sedangkan Cassidy di luar terlihat menggedor-gedor pintu dan berteriak meminta penjelasan pada Brian tentang apa maksud dari ini semua? Namun, teriakan ya tak di hiraukan oleh Brian.
Tubuh Brian meleorot ke bawah dengan wajah menahan sakit, amarah, kecewa, sedih. Ia benci dengan dirinya sendiri yang menyakiti Anne. Tapi, Brian juga tak tahu harus berbuat apa agar Anne pergi dan melupakannya.
Sakit sungguh sakit ketika berpura-pura tak peduli tapi nyatanya masih sangat mencintainya.
" Aaa ...," Brian berteriak sambil mengacak-acak rambutnya. Bahkan, Ia memukul wajahnya sendiri yang sudah sangat jahat pada wanita yang sangat di cintainya.
" Maafkan aku Anne ...," lirihnya dengan berlinang air mata. Ingatan tentang semua ucapan yang mengganggunya beberapa hari ini seakan terlintas kembali.
" Saya kecewa sama kamu, Bri. Apa kamu sadar jika kamu telah membawa pengaruh buruk pada Anne. Dulu, Anne tak pernah berbuat seperti ini. Tapi sekarang?"
" Jika kamu masih menganggap saya sebagai Papa, maka jauhi Anne. Meski kalian itu tak sedarah, tapi kalian tetap tak bisa bersama dalam kondisi seperti ini!"
" Lepaskan adikku! Apa kamu tega melihat dia sedih dan khawatir terus-menerus jika mengetahui hal ini? "
" Aku, sebagai Kakak tidak akan mengizinkan adikku bersama dengan pria yang akan terus membuatnya sedih. "
" Jika Kakak ingin terus bersamaku, maka beri aku kepastian soal hubungan kita kedepannya. Akankah Kakak ikut agamaku dan menikahiku? "
" Tembok penghalang kita terlalu tinggi Kak. "
__ADS_1
Brian memukul-mukul dadanya yang terasa sesak bagaikan tertindih batu besar, kepalanya pun berdenyut ketika semuanya berputar layaknya kaset rusak.
...***...
Selama perjalanan menuju kampus, buliran bening itu terus menetes tanpa henti membasahi pipi Anne. Ia sudah berusaha untuk menghentikannya, namun tak bisa.
" Kenapa sesakit ini?" lirih Anne sembari memegang dadanya yang terasa sakit bercampur sesak.
" Non, kita sudah sampai," kata sang supir ketika mobil yang di kendarai sudah sampai parkiran kampus.
" Kita pergi ke jalan ....," Anne menyebutkan alamat rumah orang tua Nala . Untuk saat ini, Anne tak sanggup jika harus masuk kelas dalam kondisi seperti ini. Kondisi dimana Ia tak akan fokus pada pelajaran akibat sedang patah hati.
" Baik, Non." sang supir menuruti saja permintaan Anne yang terlihat sangat kacau.
" Berjuang sampai akhir?" Anne tersenyum kecut tatkala mengingat kembali ucapan Brian yang mengajaknya berjuang sampai akhir, tapi nyatanya dia yang mundur lebih dulu.
" Kamu jahat, Kak. Kamu pembohong!Ternyata perjuanganmu hanya sampai sebatas ini! " jerit hati Anne yang kembali teringat ucapan-ucapan manis yang Brian katakan padanya.
Anne mencari ponselnya yang ada di dalam tasnya, lalu mengetik sebuah pesan yang akan dia kirimkan pada Brian. Jika Brian memang memutuskan seperti ini, maka Anne pun akan mengakhirinya.
✉️ Anneta
[Terimakasih atas kebahagiaan serta luka yang pernah Kakak torehkan di hati ini. Jika ini memang pilihan yang sudah Kakak pilih, Anne akan menerimanya dengan lapang dada. Kalau begitu, selamat tinggal. Semoga kedepannya Kakak bisa menemukan seseorang yang bisa membuat Kakak bahagia]
" Mungkin ini memang yang terbaik untuk kita berdua." Anne bermonolog, lalu mengirimkan pesan itu pada Brian. Setelahnya, Ia memblokir nomor itu.
...***...
Hati Brian seakan hancur berkeping-keping ketika membaca pesan perpisahan dari Anne. Sepertinya, kisah cintanya yang belum lama terjalin, benar-benar berakhir.
" Semoga kamu juga bisa bahagia dan menemukan pria yang jauh lebih baik dariku, Anne. Maafkan aku yang pengecut, dan hanya bisa berjuang sampai di sini." Brian bermonolog sambil menatap fotonya bersama Anne.
Dalam foto itu, mereka terlihat bahagia dan saling mencintai satu sama lain. Tapi sekarang ... Itu semua hanya tinggal kenangan.
Kenangan yang indah dan penuh akan cerita.
...***...
" Non, Anne. "Sapa maid di rumah Papi Rian ketika melihat siapa yang datang.
__ADS_1
" Nala ada di rumah, bik? " tanya Anne.
" Ada, Non di kamarnya. "
" Kak Lean kerja atau di rumah? "tanya Anne lagi yang takut jika Kakaknya ternyata ada di rumah.
" Den Lean mah di rumah sakit atuh, Neng kalau jam segini. "
" Oh, baguslah kalah begitu. " Anne merasa lega ketika mendengar Lean sedang tak ada di rumah. Karena kalau ada dia, Ia pasti akan di interogasi dan di ledek habis-habisan dengan Kakaknya itu.
Ketika berjalan menuju kamar Nala, Anne berpapasan dengan Mami Senja.
" Loh, Anne. Kamu datang ke sini? Sama siapa?"
" Sendiri, Mi." Anne menyalami Mami Senja.
" Kamu kenapa, Anne?" tanya Mami Senja sembari memperhatikan wajah Anne yang terlihat begitu sembab seperti habis menangis.
" Oh, ini tadi habis___ kepedesan, Mi. " dusta Anne yang mencari alasan.
" Oh, ya Mi. Anne mau ke kamar Kak Nala dulu, ya." Anne segera pamit karena takut jika Mami Senja akan mengetahui kebohongan ya.
" Kepedesan? Masak pagi-pagi udah makan pedas? Bukankah, Anne tak bisa makan pedas? "gumam Mami Senja yang kemudian geleng-geleng kepala dan tersenyum ketika menyadari jika Anne sedang berbohong.
" Anak sekarang, mau bilang habis nangis aja gengsi! Tapi, Anne menangis karena apa, ya?" Mami Senja terlihat penasaran. Pasalnya, selama ini yang ia tahu jika Anne adalah anak yang ceria.
Sebelum memasuki kamar Nala, Anne mengetuk pintu itu terlebih dahulu.
" Siapa? "tanya seseorang dari dalam kamar.
" Aku Nal, Anne! " ujar Anne.
" Anne? " Nala langsung bergegas pergi untuk membukakan pintu.
Ketika pintu sudah terbuka, Anne langsung menghambur memeluk Nala.
" Anne, kamu kenapa? "tanya Nala yang bingung dengan sikap Anne. Apalagi saat mendengar suara isakan tangis dari adik iparnya itu. Saat ini, Anne sedang butuh sandaran dan pelukan penenang hatinya yang sedang sakit.
...****************...
__ADS_1