
Di bandara, tepatnya di gerbang kedatangan. Terlihat dua orang wanita yang terus saja mengedarkan pandangannya untuk melihat orang yang akan mereka jemput apakah sudah sampai apa belum.
"Kenapa Mama sama Papa belum keluar-keluar ya, Kak?" tanya Anne pada Seva yang berdiri di sampingnya.
" Aku juga tidak tahu, Anne. Mungkin mereka masih mengantri mengambil barang di bagasi yang belum keluar." Seva mencoba menebak-nebak.
Anne melirik ke arah Seva dengan tatapan heran.
" Kak, apa kamu lupa kalau Mama dan Papa itu naik jet pribadi? Jadi tak ada namanya mengantri ambil barang bagasi, " papar Anne.
Seva hanya bisa nyengir kuda dan menggaruk tengkuknya karena tak mengerti soal itu. Sedangkan Anne jadi ikut tertawa melihat ekspresi Seva yang terlihat lucu.
"Jangan tertawa, Anne." Seva memberi peringatan dengan nada dingin. Terlihat jelas bahwa wanita berusia 27 tahun itu tak suka di ledek hanya gara-gara tak tahu soal bagasi.
" Aku hanya ingin tertawa, sebelum tertawa di beri pajak dan di larang, " canda Anne. Sedangkan Seva memutar bola matanya jengah, karena saat ini ia sedang tak ingin meladeni candaan dari Anne.
Tak lama kemudian, akhirnya orang yang mereka tunggu-tunggu muncul juga.
" Mama ... Papa ... "seru Anne seraya berlari menghampiri Mama Dira dan juga Papa Ken.
Anne langsung menghambur memeluk sosok wanita yang sudah lama sekali ia rindukan.
__ADS_1
" Akhirnya, Anne bisa memeluk Mama, "lirih Anne yang masih berada dalam pelukan Mama Dira.
" Mama juga sangat merindukanmu, Anne. Apa kamu baik-baik saja di sini, sayang? "tanya Mama Dira sembari memeriksa seluruh tubuh Anne.
" Anne baik-baik saja, Ma. " Anne merentangkan tangannya, memperlihatkan bahwa ia sedang dalam keadaan baik-baik saja.
" Apa kamu tidak merindukan Papa, Anne, " ujar Papa Ken yang sudah merentangkan tangannya, mengharap pelukan hangat dari putri kesayangannya yang sudah lama tak bersua.
" Tentu saja rindu ..." kini, giliran Anne memeluk erat tubuh Papa yang baru kali ini berpisah lama denganny. Jika sudah bersama Papa Ken dan Mama Dira, Anne akan berubah terlihat seperti seorang gadis kecil yang begitu manja.
" Papa juga sangat merindukanmu, my little princess," lirih Papa Ken sembari menciumi puncak kepala Anne yang tertutup hijab tanpa henti. Ia benar-benar merindukan putri kesayangannya itu karena ini adalah pertama kalinya mereka berpisah cukup lama.
" iiihhh... Papa, Anne itu udah dewasa. Masak masih di panggil my little princess," protes Anne yang membuat Papa Ken tertawa.
Anne mengangguk dalam pelukan sang Papa.
" Tapi, bagi Papa Anne akan selalu menjadi little princess Papa."
Anne sedikit memukul dada bidang Papa Ken. Meski sedikit kesal karena selalu dianggap sebagai putri kecil, tapi Anne bersyukur karena ia memiliki seorang ayah yang sangat menyayanginya.
Seusai saling berpelukan guna menyalurkan rasa rindu, mereka berempat kembali melanjutkan perjalanan menuju apartemen. Karena masih rindu, Anne terus saja berada di tengah-tengah antara Mama Dira dan juga Papa Ken. Wajar jika Anne sangat manja karena dia memang anak bungsu dan perempuan sendiri, dimana selalu saja di manja dan di jaga ketat oleh Papa dan kedua kakak kembarnya.
__ADS_1
" Apa hidup di sini sulit, Anne?" tanya Papa Ken yang terus menatap ke arah putrinya.
" Tidak juga, memangnya kenapa?"
" Kamu terlihat kurusan," terang Papa Ken yang diangguki oleh Mama Dira karena ia memang menyadari itu.
" Masak sih? Sepertinya sama saja. " Anne menolak di katakan lebih kurusan. " Tapi, kalau iya. Bukankah lebih bagus? Aku jadi terlihat lebih ramping, " canda Anne dengan memperagakan orang yang tengah memamerkan tubuh rampingnya dan menaikkan alisnya. Membuat Papa Ken, dan Mama Dira tertawa melihatnya.
" Tapi, Papa lebih suka kamu yang terlihat berisi, Anne." Papa Ken masih saja terlihat tak suka saat melihat Anaknya yang terlihat jauh lebih kurus saat tinggal jauh dengannya. Seakan merasa bahwa Anne sedang tak terurus sehingga membuat berat badannya turun.
" Ma ..., " Anne seakan meminta pembelaan.
" Sudah ... Sudah ... Jangan memperdebatkan soal berat badan. Melihat Anne yang sehat wal afiat serta tersenyum bahagia seperti ini sudah lebih dari cukup. Mungkin, Anne kurusan karena di sini lebih sering jalan kaki," bela Mama Dira yang selalu saja bisa jadi penengah di kala terjadi sebuah perdebatan.
"Tuh, Pa. Dengarkan perkataan bijak dari Ibunda ratu Anindira Fidelya yang tercantik dan paling bijaksana." Anne memuji Mama Dira sembari menyenderkan kepalanya pada pundak sang Mama. Tak lama kemudian, Anne baru menyadari suatu hal. Membuat gadis itu terbangun, dan memperhatikan Mamanya kembali.
" Ada apa, Anne? " tanya Mama bingung saat melihat Anne yang tiba-tiba memperhatikan dirinya dengan intens.
Anne berdecih. " Ternyata, selera Papa Kenzo memang suka yang beriisi. Makanya, anaknya kurus sedikit saja langsung protes!" ujar Anne dengan mengelus dagunya.
Dahi Mama Dira berkerut karena tak paham apa maksud dari perkataan putrinya itu.
__ADS_1
"Sebentar ... Mama tidak sedang hamil lagi, 'kan?" ucap Anne tiba-tiba yang membuat Papa Ken dan Mama Dira melongo mendengarnya.
...****************...