
Sesampainya di kamar, Anne langsung mencoba menghubungi Brian, dan di dering ke empat barulah panggilan itu diangkat.
" Halo, Kak. Kamu dimana? Kamu baik-baik saja 'kan? Kenapa tiba-tiba menghilang begitu saja? Di chat tidak di balas, di telpon juga gak diangkat-angkat." saking khawatirnya sampai membuat Anne terus berbicara tanpa henti.
Brian hanya bisa menyunghingkan sebuah senyuman tipis.
" Kalau tanya itu satu-satu Anne. Jangan langsung banyak, aku 'kan jadi bingung mau jawab yang mana dulu, " papar Brian.
Dahi Anne berkerut tatkala mendengar suara Brian yang terdengar begitu lemah.
" Kamu sakit, Kak?" tanya Anne cemas.
Brian berdehem guna menetralkan suaranya agar terdengar seperti biasanya.
" Nggak kok, aku hanya baru bangun tidur aja," dusta Brian yang tak mau membuat Anne khawatir. Dia menghilang tanpa memberi pesan saja sudah membuat gadis itu cemas, apalagi jika ia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pasti akan sangat khawatir .
" Kakak gak sedang bohongi Anne, 'kan? " Anne masih terus mencoba memastikan jika kekhawatirannya salah.
" Iya, Anne. Buat apa sih aku bohong, lagian kamu juga tahu sendiri' kan kalau aku tadi baik-baik saja."
" Syukurlah kalau begitu, aku jadi lega dengernya. "
" Oh, ya. Kakak sudah makan malam belum?"
" Em ... Belum sih, memangnya kenapa? Kamu mau nemenin Kakak makan? "
" Nggak, mana bisa aku keluar malam-malam begini. Tapi, aku bisa pesenin Kakak makan malam makanan kesukaanku. "
" Boleh. "
" Yaudah, sebentar ya. "
Setelahnya, Anne mencoba memesankan makanan di restoran favoritnya untuk Brian.
" Semoga Kakak suka, ya. "
" Apapun tentang kamu, Kakak akan menyukainya. "
" Gombal! Yaudah, cuci muka sana gih. Bentar lagi, makananya akan sampai. Selamat makan malam, Kak."
" Kamu beneran gak mau nemenin aku makan malam?"
" Nanti aku telepon lagi, soalnya sekarang mau sholat isya dulu. "
" Baiklah. "
***
Selesai sholat, sesuai dengan janjinya. Anne kembali menelpon Brian.
" Bagaimana, apakah makananya sudah sampai? "tanya Anne di balik panggilan vidio itu.
" Sudah, ini aku baru mau memakannya sambil menunggu telepon dari orang yang katanya ingin menemaniku makan. "
Anne tersipu malu, entahlah hatinya selalu saja berbunga-bunga jika berbicara dengan pria ini. Pria yang sudah mencuri hatinya, mengenalkan apa itu cinta, kesabaran, kerinduan, rasa sakit, dan bahagia.
Meski perjalanan itu akan memakan waktu dan perjuangan, Anne terus optimis pada satu kalimat yang ia yakini selama ini. Jika dia adalah jodohmu, seberat apa rintangannya maka kalian akan bersama, begitupun sebaliknya. Jika mereka tak berjodoh, maka pisahkan dalam kondisi yang baik-baik saja.
__ADS_1
" Bagaimana, enak tidak?"
" Enak, aku suka," jawab Brian dengan tersenyum.
" Emmm ... Jadi pengen," rengek Anne.
" Mau aku suap? Aaa ...." Brian menyodorkan sendok ya ke arah layar ponselnya seakan sedang menyuapi Anne lewat virtual.
" Aem." Anne pun berpura-pura memakannya. Setelahnya, kedua anak manusia itu saling menertawakan kekonyolan mereka. Kekonyolan yang biasa di lakukan oleh pasangan yang belum bisa tinggal bersama.
" Anne ..."
" Ya."
" Terimakasih karena sudah hadir dalam hidupku, sehingga membuat hidup ini terasa begitu berarti, penuh warna, dan bahagia," ucap Brian tulus yang membuat Anne jadi terharu.
" Kenapa rasanya sedih sekali ya, ketika mendengar ucapan Kak Brian. Ya Allah, bolehkan aku egois sedikit?
Di luaran sana, banyak yang mengatakan bahwa boleh mencintai umat-Nya tapi jangan mengambil ia dari Tuhannya. Lalu, bagaimana jika Tuhan yang kita maksud itu sama, hanya keyakinan kita saja yang berbeda. Jujur, Aku ingin bisa bersama dengan pria ini dalam waktu yang lama. Jadi, lunakkan hatinya agar mau memeluk agama islam karena aku tahu jika Engkau adalah Maha pembolak-balik hati manusia. "
...***...
Hari ini, suhu di Ibu Kota bisa mencapai tiga puluh derajat celcius. Jadi, bisa bayangkan bagaimana teriknya panas matahari hari ini?
Di bawah panas teriknya matahari, Anne harus berusaha kabur dari sang Bodyguard. Sebelumnya, Anne sudah berbohong dengan mengatakan kalau dia ada jam kuliah tambah sampai sore. Jadi, Ia punya beberapa jam untuk bisa pergi bersama Brian. Jujur, ini adalah pertama kalinya Anne kabur-kaburan seperti ini. Tapi, mau bagaima lagi jika cinta tak di restu.
Anne mencoba memakai Jaket serta topi yang tadi ia bawa sebagai penyamarannya hari ini. Demi mengalihkan pandangan sang Bodyguard, Anne harus rela berjalan di tengah gerombolan siswi lainnya.
Setelah berhasil lolos, Anne langsung memasuki mobil yang di kendarai oleh Brian.
Melihat Anne yang ngos-ngosan, membuat Pria itu tertawa. Lalu, memberinya sebotol air mineral.
" Minum dulu."
Anne pun mengambil botol minum itu, dan meneguk airnya.
" Gimana, sudah lega?"
Anne mengangguk.
" Maaf ya, Anne," ucap Brian tiba-tiba.
Anne pun menoleh ke arah pria tampan yang duduk di sampingnya.
" Maaf buat apa?"
" Maaf karena sudah buat kamu harus kabur dan sembunyi-sembunyi seperti ini."
" Bukankah katanya kita mau pergi ke suatu tempat? Kalau begitu, ayo pergi sebelum ketahuan!" Anne sengaja mengalihkan pembicaraan karena ia malas membahas hal seperti ini. Apalagi, waktu kebersamaan mereka hanya terbatas. Jadi, harus di manfaatkan sebaik mungkin.
Sebenarnya, Brian tak suka berbuat seperti ini. Tapi keadaan yang memaksanya harus berbuat seperti ini. Andai, Papa Ken merestui hubungan mereka, mungkin Brian akan membawa Anne pergi secara terang-terangan.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan. Tempat yang sudah Brian rencanakan jauh-jauh hari sebelum kedatangannya ke Indonesia.
" Kak, kita mau ngapain ke sini?" tanya Anne yang tak tahu dengan rencana Brian.
" Kamu ikut saja."
__ADS_1
Setelahnya, Brian membawa Anne berjalan mendekati sebuah helikopter yang sudah ia sewa sebelumnya.
" Ayo Kita naik, Tuan putri." Brian mengulurkan tangannya guna membimbing Anne memasuki helikopter.
Demi memudahkanya untuk naik, Anne pun meraih uluran tangan itu, dan memasuki helikopter. Dengan telaten, Brian membantu memasangkan sabuk pengaman serta headphone untuk Anne.
" Sudah? "
" Em. " Anne mengangguk.
Tak lama kemudian, helikopter pun take off ke udara. Betapa bahagianya Anne bisa menikmati indahnya pemandangan ini. Ketika sudah berada di atas, tiba-tiba Brian memperlihatkan sebuah kalung dari genggaman tangannya tepat di wajah Anne.
" Kak ...," Anne terlihat terkejut dan menatap ke arah Brian.
" Anne, maukah kamu berjanji untuk terus bersamaku?"
" Maksudnya?" Anne terlihat bingung dan tak mengerti apa maksud dari ucapan Brian.
" Mungkin, ini terlalu cepat. Apalagi kondisi kita yang masih belum mendapat restu, tapi Anne aku ingin terus bersamamu sampai jantung ini sudah tak lagi berdetak, nafas ini tak lagi berhembus, Serta raga ini sudah tak ada lagi di dunia ini."
" Apa ini sebuah lamaran? "tanya Anne memastikan.
" Lamaran? "ulang Brian yang terlihat seperti sedang terkejut.
" Bukan lamaran, tapi lebih ke komitmen dalam hubungan kita. Aku ingin kamu berjanji untuk tidak akan pergi dari sisiku. "
Anne terlihat menyeringai seusai mendengar penjelasan Brian tentang kata-kata yang menghanyutkan tadi. Ternyata, dia yang terlalu hanyut dan berpikiran jauh, tapi nyatanya.
" Kalungnya cantik. " Anne menyentuh liontin berbentuk angsa. Dimana, Ia memiliki arti sebuah kesetiaan.
" Aku juga sangat bahagia, tapi Kak ... Sebelum aku memberikan sebuah jawaban. Bisakah aku bertanya satu hal padamu?" Anne menatap mata Brian begitu dalam seakan mencari sebuah kebenaran.
" Silahkan."
" Bisakah kamu beri alasan untuk apa aku menyetujuinya? "
" Huh? "Brian terlihat bingung dengan pertanyaan Anne.
Saking fokusnya dengan perasaan sampai membuat mereka lupa jika ada pemandangan yang sangat indah di bawah sana.
" Bukankah Kamu mencintaiku, Anne?" Brian justru kembali bertanya.
"Cinta?" ulang Anne. " Apakah cinta saja cukup?" Meski Anne mencintai Brian, tapi dia juga sama seperti wanita pada umumnya yang membutuhkan sebuah kepastian dalam hubungan yang sedang di jalani.
" Maksud kamu apa Anne? Aku tidak mengerti."
Anne membuang mukanya guna merilekskan emosinya serta mengumpulkan semua keberanian untuk mengungkapkannya sekarang.
" Sebelum aku setuju untuk berkomitmen. Bisa katakan padaku, bagaimana rencana hubungan kita kedepannya? Akankah kamu bisa memeluk agamaku dan menikahi ku?"
Deg
Hati Brian seakan berhenti berdetak. Dua pertanyaan yang Anne lontarkan, cukup berat untuk ia jawab. Apakah komitmen yang ia ajukan harus menjawab dua pertanyaan itu terlebih dahulu?
...****************...
Mulai masuk konflik tahap kedua yang gengs, jadi siapkan hati kalian😊
__ADS_1