
Melihat Anne dan Seva datang dengan penampilan yang tidak biasa, membuat Brian mengerutkan keningnya.
" Darimana Kalian?" tanya Brian dengan wajah datar tanpa ekspresi.
" Dari keluar, makan," jawab Anne santai. Sedangkan Seva sudah begitu gugup, bahkan jantungnya memompa begitu cepat tatkala melihat ekspresi raut wajah Brian yang tak ramah seperti biasanya.
Dikarenakan tidak enak berbicara di depan pintu, Brian menyuruh Seva untuk segera membuka pintu agar mereka bisa bicara di dalam. Seva segera melaksanakan perintah Brian.
Ketika mereka sudah duduk di sofa, suasana terasa cukup mencekam.
"Kenapa suasananya tidak enak begini? Kakak ketiga juga wajahnya udah kayak Kak Kean kalau lagi marah, menakutkan! Tapi, marah kenapa? Apa aku berbuat salah?"batin Anne yang sesekali melirik kearah Seva yang sudah diam seperti patung.
Anne terus berperang sendiri dengan pikirannya.
" Jelaskan, darimana kalian?" tanya Brian lagi.
" Dari cafe Exbar," jawab Seva jujur. Kalaupun berbohong, pasti juga akan ketahuan karena Brian pasti mempunyai mata-mata yang memantau mereka.
" Exbar?" ulang Brian. "Kenapa kamu mengajak Anne ke sana? Apa kamu tidak tahu kalau___"
" Saya tahu, Tuan. Saya ke sana hanya ingin menunjukkan sesuatu pada Anne," potong Seva.
Melihat Brian yang seakan ingin memarahi Seva, Anne jadi ikut andil. Dia tidak mau Seva di marahi karena hanya ingin memberikan penjelasan pada dirinya.
" Kak, jangan marahi Kaka Seva. " melihat Anne ingin membelanya, Seva mencoba menghalanginya. Dia takut kalau Anne kena amarah Brian juga, tapi Anne tidak memperdulikannya.
" Kak Seva tidak bersalah, tapi aku yang salah! "lanjut Anne dengan berani tanpa rasa takut.
" Oh, ya? Apa salahmu, Anne? "tanya Brian dengan tangan yang sudah di lipat depan dada.
__ADS_1
Saat ini, Brian sudah seperti orang tua yang sedang mengintrogasi putrinya. Brian melakukan itu juga karena dia sudah di beri amanah untuk menjaga Anne sehingga dia harus protektif dengan gadis itu.
" Salah karena ___" Anne jadi bingung sendiri mau menjelaskan apa karena ia sendiri juga tak tahu apa salahnya. Melihat Anne yang bingung, Seva jadi ingin berbicara agar masalah ini cepat selesai.
" Begini, Tuan_"
" Sebentar, tapi kenapa Kakak sudah seperti Papa Saja! Suka mengintrogasi," sela Anne untuk mengalihkan pembicaraan.
Lagi-lagi Anne mencuri start saat Seva ingin bicara.
" Tidak usah mengalihkan pembicaraan Anneta!"Brian yang peka tidak akan bisa di tipu dengan mudah.
Anne mencebik dan menghela nafas kesal. Dia tidak menyangka bahwa Brian itu seperti duplikat papanya saja.
Seva tidak pernah mengira bahwa Brian bisa seketat ini. Setelah Anne diam, barulah Seva bisa menjelaskannya secara rinci, dan Brian mendengarkan dengan seksama.
" Lain kali, jangan pernah percaya dengan orang lain selain aku dan Seva," ujar Brian.
" Memangnya Kakak bisa di percaya?" cerca Anne dengan menaik turunkan alisnya.
" Jika aku tidak bisa di percaya, tidak mungkin Papa dan Mommy menitipkanmu padaku."
Anne hanya mencebik dan memutar bola matanya malas karena Brian cukup bisa membuatnya diam.
Setelahnya, Brian segera bangun dari duduknya, lalu keluar dari Apartemen Anne.
" Anne ... Anne ... Kenapa kamu itu polos sekali! Pantas saja Papa Ken sangat ketat terhadapmu karena kamu itu sangat mengkhawatirkan!" gumam Brian dalam hati seraya berjalan memasuki apartemen miliknya.
Sejak Anne tinggal di New York, Brian ikut pindah tinggal di apartemen samping Anne agar lebih mudah untuk memantau gadis itu. Dia akan pulang ke mansion jika ada urusan atau Daddy Samuel memanggilnya pulang.
__ADS_1
...***...
Setelah kejadian hari itu, Anne menjadi lebih hati-hati dalam bergaul bersama teman-teman kelasnya. Sekarang, Anne tidak masalah dianggap sombong karena tidak mau bergaul. Toh, dia tidak lama kuliah di sini, hanya beberapa bulan saja.
Di pagi hari, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar. Membuat Seva segera membukakan pintu.
" Tuan Brian?" sapa Seva saat mengetahui bahwa Brian yang datang.
" Anne mana?" tanya Brian.
" Masih di dalam kamarnya," jawab Seva jujur.
" Katakan padanya, suruh bersiap-siap karena aku akan mengajaknya pergi jalan-jalan," ucap Brian lalu beranjak pergi.
" Baiklah."
Tiba-tiba Brian ingat kalau dia melupakan suatu hal. Sebelum Seva menutup pintunya, Brian kembali memanggilnya.
" Oh, ya saya lupa. Hari ini, kamu saya kasih cuti. "
" Cuti? " ulang Seva yang sedikit bingung kenapa dia tiba-tiba di beri cuti. Bukankah pekerjaannya sekarang tidak ada hari libur.
Brian mengangguk. " Iya, karena saya akan pergi berdua bersama Anne saja."
" Tapi, Tuan nanti___"
"Papa Ken sudah mengizinkannya. Jadi nikmati hari liburmu," tandas Brian seraya berjalan pergi kembali ke apartemennya.
...****************...
__ADS_1