
Sejak keponakannya lahir, Anne menyibukkan diri untuk sering-sering datang mengunjunginya. Karena apa? Karena ketika sendiri, Anne pasti akan mengingat kembali kisah cintanya. Cinta yang baru bersemi, namun sudah harus kandas.
" Anne, apa kamu tidak ada kegiatan lain?" tanya Lean mulai bosan karena Anne terus datang sehingga membuatnya sering di abaikan oleh Nala.
" Memangnya kenapa? Masalah?" ketus Anne.
" Masalah lah!" Lean ikut nyolot. Tidak dulu maupun sekarang, Lean dan Anne suka sekali berdebat layaknya anak kecil.
" Kalian kenapa sih? Riiibutt ... Mulu kalau ketemu. Apa nggak bisa tenang seperti Kak Kean gitu? " ujar Nala yang ikut-ikutan pusing melihat Kakak beradik itu.
" Nggak! 'kan aku bukan dia, kulkas dua pintu!" tandas Lean yang tak suka jika Nala membanding - bandingkan dirinya dengan Kean, Kakak kembarnya.
Meski kembar, Kean dan Lean layaknya dua orang yang tak tinggal dalam satu rahim. Jauh berbeda!
" Yaudah, Nal. Aku pulang aja, ya. Soalnya, ada orang yang gak suka kalau aku lama-lama di sini," sindir Anne sembari melirik ke arah Lean.
" Nah, bagus tuh! Buruan pulang gih sana!" Lean justru semakin terang-terangan mengusir Anne agar segera pergi.
" Bee ... Kok gitu sih! "protes Nala.
" Udah gapapa, aku pamit ya. " sebelum pergi mereka berdua saling berpelukan dan cipika cipiki. Setelahnya, Anne berpamitan dengan keponakannya yang baru berusia beberapa hari.
" Keponakan Tante yang cantik, nanti kalau udah besar kayak Mimi aja, ya. Jangan kayak Pipi yang nyebelin!" pesan Anne pada keponakannya.
" Maksud kamu apa berbicara seperti itu, Anne...," geram Lean dengan memasang wajah tak suka.
" Tidak bermaksud apa - apa!"
" Sudah ah, aku pamit pulang dulu! " Anne menyalami Lean sebagai bentuk kesopanannya pada sang Kakak. Meski Lean menyebalkan, tetapi bagaimana pun dia tetap Kakaknya yang harus di hormati. Kakak yang sangat menyebalkan, tetapi sebenarnya sangat menyayanginya.
__ADS_1
" Hati-hati kalau pulang, jangan belok kemana-mana atau diam-diam bertemu dengan ... Dia," pesan Lean yang tak mau menyebut nama Brian. Dari awal Brian hadir dalam keluarganya, Lean memang tak terlalu dekat. Lain halnya dengan Kean dan Anne. Meski ia dulu Dokter yang menangani penyakit Brian, tapi dia melakukannya juga demi sang Mama.
Langkah Anne seketika berhenti ketika Lean menyinggung soal mantan sang magang cinta. Sedangkan Nala, langsung memberi kode ke Lean untuk diam.
" Kakak tenang saja, lagipula aku sudah tak ada hubungan lagi sama dia!" papar Anne yang berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
" Maksudnya? Kalian sudah putus?" Lean, memang banyak tahu soal Anne yang diam-diam masih berhubungan dengan Brian, sampai dari yang ketahuan kabur berdua. Namun, Ia tak tahu jika Anne dan Brian sudah berakhir.
" Aku pergi," Anne berusaha untuk menghindar.
" Jadi dia mendengarkan ___" Lean langsung membekap mulutnya yang hampir saja keceplosan. Anne yang baru akan membuka pintu, sekilas mendengar ucapan Lean yang tak di lanjutkan.
" Mendengarkan apa, Kak?" tanya Anne yang tak jadi pergi.
" Tidak ada!" elak Lean. " Katanya mau pergi," lanjutnya yang mencoba mengalihkan fokus Anne.
Setelahnya, Anne benar-benar pergi dari kamar Nala.
" Kamu kenapa Bee? Kok Tatapannya seperti itu! "
" Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa Bee sedang menyembunyikan sesuatu?" selidik Nala yang terus memperhatikan gerak-gerik Lean.
" Menyembunyikan apa?" tanya Lean yang berpura-pura tak tahu apa-apa.
" Nggak usah bohong! Jika Bee bisa membaca mimik wajah seseorang, maka aku juga bisa. Dan aku tahu jika Bee sedang menyembunyikan sesuatu! Jadi, cepat katakan atau___"
"Atau apa?" lanjut Lean.
" Atau Bee tidur di luar."
__ADS_1
"Huh?" Lean melotot tatkala mendengar ancaman dari istrinya. Begitulah wanita, yang suka sekali mengancam dengan hal-hal seperti ini. Kalau tidak tidur di luar, ya tidak akan di kasih jatah malam. Karena berhubung Nala baru saja melahirkan, serta masih dalam masa nifas dan proses pemulihan. ancaman yang ia keluarkan seperti ini, karena Nala tahu betul jika Lean paling anti tidur tanpa dirinya. Kendatipun hanya tidur bersebelahan yang penting masih berada dalam satu ranjang yang sama. Apalagi semenjak putrinya lahir, Lean punya kebiasaan tambahan sebelum tidur.
" Pilih mana?"
" Sayang... Bisakah___"
" Tidak bisa!" tolak Nala.
" Lena, kenapa Mimi begitu kejam ya sama pipi," adu Lean pada putrinya yang masih bayi.
" Karena Pipi berani menyembunyikan sesuatu dari Mimi," ujar Nala mengikuti suara anak kecil seakan sedang menggantikan Lean berbicara.
Lean hanya bisa menghembuskan nafas panjangnya. Jika sudah seperti ini, dia harus bagaimana? Jujur atau tidur di luar? Tapi, kalau pun dia jujur, dan setelahnya Nala tetap marah apa yang akan terjadi?
" Bee ...," Nala kembali memanggil ketika melihat suaminya hanya diam saja.
"Ya."
" Buruan ngomong, kok malah bengong! Nanti kesambet loh!" sarkas Nala.
" Baiklah, tapi sayang. Kamu harus janji dulu, sama Bee."
" Janji apalagi ... ? Bukannya tinggal ngomong aja ya ... kenapa harus pakai janji-janji segala!" tandas Nala yang mulai kesal karena Lean terkesan sedang mengulur - ulur.
" Ya ... Sebagai jaga-jaga. "
" Yaudah, apa? " ujar Nala yang sudah sangat penasaran dengan apa yang sedang di sembunyikan oleh suaminya.
" Kalau Bee sudah jujur, kamu gak boleh ngambek, marah, atau___"
__ADS_1
" Jangan bilang jika Bee ikut-ikutan menyuruh Kak Brian untuk putus sama Anne!" sela Nala yang mulai bisa menebak gerak-gerik suaminya yang begitu aneh dan mencurigakan.
...****************...