Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 66 : Keponakan baru


__ADS_3

Mendengar Nala mengatakan bahwa air ketubannya pecah yang menandakan bahwa Ia akan melahirkan, membuat Anne meminta dua Bodyguardnya untuk menggendong Nala dan membawa gadis itu ke rumah sakit.


" Sabar ya, Nal," cemas Anne ketika melihat Nala yang terus merintih kesakitan.


" Pak, bisa lebih cepat? "tanya Anne.


" Maaf Non, jalannya macet. "


" Aduh, gimana ini? "


Anne mencoba menelpon Lean, tapi tak kunjung diangkat. Anne pun beralih menelpon Mami Senja. Dan di dering kedua, akhirnya panggilan itu di angkat.


" Halo, Assalamualaikum, Mi, "salam Anne dengan suara yang terdengar begitu cemas.


" Waalaikumsalam ada apa, Anne? "


" Mi, sepertinya Kak Nala mau melahirkan. "


" Melahirkan? "ulang Mami Senja yang terdengar terkejut.


" Iya, Mi. Ini sekarang Anne lagi bawa menuju ke rumah sakit tempat Kaka Lean kerja. Jadi, Mami ke sana juga, ya, " pinta Anne.


" Oke-oke, Mami akan segera kesana. "


" Aduh ... Sakit sekali, Anne, " teriak Nala sembari memegang perutnya yang terasa begitu sakit. Sebelumnya, Nala memang sudah merasakan kontraksi palsu, tapi tak terlalu ia rasakan dan di alihkan dengan terus berbelanja. Namun, pada akhirnya ia merintih juga ketika rasa sakit itu semakin kuat.


" Sabar ya, Nal. " Anne semakin terlihat bingung bercampur cemas ketika mendengar Nala yang semakin menjerit kesakitan.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Sang Bodyguard langsung menggendong Nala, dan meletakkannya di atas brankar.


" Anne, apa Kak Lean masih belum bisa di hubungi?" tanya Nala di sela menahan rasa sakit yang begitu hebat.


" Belum."


Ketika Nala di bawa masuk ruang Observasi, Anne segera bertanya tentang keberadaan Kakaknya.


" Apa? Masih berada di ruang operasi? "pekik Anne ketika mendengar Kakaknya masih berada di ruang operasi.


Mendengar bahwa Kakaknya berada di ruang operasi sudah biasa, tetapi saat ini kondisinya berbeda sehingga membuat Anne panik bercampur bingung harus berbuat apa. Apalagi dia tak punya pengalaman menemani orang yang akan melahirkan.


Anne pun hanya bisa menghembuskan nafas panjangnya, lalu berlari kembali untuk melihat bagaimana kondisi Nala saat ini.


" Gima Sus, keadaan Kakak ipar saya? "tanya Anne cemas.

__ADS_1


" Air ketubannya masih terus merembes, tapi masih baru pembukaan satu. Jadi, kita coba pantau dulu, ya, "kata sang Suster seusai memasang alat CTG ( alat yang digunakan untuk memantau aktivitas dan denyut jantung janin, serta kontraksi rahim saat bayi berada di dalam kandungan)


Anne kembali berdiri di samping brankar Nala, lalu menggenggam tangan wanita itu yang terasa begitu dingin.


"Apa Kamu sangat membutuhkan Kak Lean, Nal?" tanya Anne.


Nala mengangguk.


" Kalau begitu, aku pamit untuk memberitahukan padanya, ya."


" Kalau Kak Lean masih ada di ruangan operasi, gak usah Anne dulu Anne. Aku takut membuat konsentrasinya buyar." Nala berbicara seperti itu karena Ia tak mau egois. Bagaimana pun, ini adalah resiko menjadi seorang istri dari Dokter bedah. Dimana, Ia harus siap di nomor duakan setelah pasiennya.


Tak lama kemudian, terlihat Mami Senja dan Papi Rian datang dengan raut wajah cemasnya.


" Bagaimana kondisimu, Nal?" tanya Mami Senja dan Papi Rian.


" Sakit Mi, Pi," rintih Nala.


" Sabar ya sayang, orang yang akan melahirkan pasti merasakan hal seperti ini," Mami Senja mencoba menguatkan.


" Apa Mami dulu merasakan hal seperti ini ketika akan melahirkan aku dan Kak Nathan?" tanya Nala.


Mami Senja tersenyum seraya mengusap keringat yang terus bercucuran pada kening putranya.


***


Selesai melakukan operasi, ada seorang perawat menghampiri Lean dan mengatakan jika istrinya akan melahirkan.


" Kamu serius?" tanya Lean memastikan.


" Serius, Dok."


" Terus dimana dia sekarang?"


" Di ruang observasi."


Tanpa berlama-lama, Lean langsung berlari menuju ruang Observasi. Ruang yang akan di tempati Ibu hamil sebelum masuk ke ruang bersalin.


Sesampainya di ruangan Observasi, ternyata Nala sudah tak ada di sana. Hal itu tentu membuat Lean semakin panik dan bertanya pada suster dimana keberadaan istrinya.


" Oh, Ibu Nala sudah di bawa ke ruangan operasi, Dok."


"Ruangan operasi?" pekik Lean yang terdengar terkejut ketika mendengar istrinya di bawa ke ruangan operasi.

__ADS_1


Selama rentang waktu dua jam, air ketuban Nala terus merembes sampai pada puncak dimana Ia harus segera melahirkan. Namun, proses pembukaan jalan lahid masih belum bertambah. Jadi, demi keselamatan Ibu dan anak, Nala terpaksa harus menjalani operasi.


Dikarenakan Lean masih belum juga selesai melakukan operasi, terpaksa yang menandatangani surat persetujuan tindakan operasi adalah Papi Rian sebagai orang tuanya.


Mendengar bahwa istrinya di bawa keuangan Operasi, membuat Lean kembali berlari menuju ruangan itu.


" Kakak," seru Anne ketika melihat Lean datang.


" Dimana Nala? "tanya Lean cemas.


" Di dalam, "ujar Anne.


Tanpa berlama-lama, Lean langsung masuk ke dalam ruangan itu.


" Bee ..., " lirih Nala tatkala melihat suaminya datang. Melihat Lean sudah Datang, membuat Nala merasa bahagia.


" Dokter Lean, " sapa para dokter dan suster yang akan membantu dalam proses persalinan Nala.


Lean hanya menundukkan kepala sebagai membalas sala mereka.


" Maaf Bee telat," ucap Lean sembari mengecup kening istrinya.


" Nala juga minta maaf ya, jika ada salah," ucap Nala sebelum kembali mengejan.


Lean mengangguk serta semakin erat mengenggam tangan Nala.


Selama proses persalinan, Lean terus mengecupi Kening Nala dan memberikan ia kekuatan. Dan...


Setelahnya terdengar suara tangisan bayi yang memenuhi ruangan operasi. Lean dan Nala merasa lega, bersyukur dan bahagia sekali ketika mendengar bayi mereka akhirnya lahir juga ke dunia.


Di luar ruangan, Anne, Mami Senja, dan Papi Rian juga ikut merasa lega dan bahagia tatkala mendengar suara tangisan bayi. Bahkan, mereka bertiga saling berpelukan untuk mengungkapkan perasaan itu.


" Alhamdulillah, cucu kita lahir, Pi." ujar Mami Senja dan diangguki oleh Papi Rian. Tanpa terasa, buliran bening menetes dari pelupuk mata Papi Rian saat mengetahui bahwa putrinya kini sudah menjadi seorang ibu.


Waktu seakan berjalan begitu cepat bukan? Sembilan belas tahun yang lalu, ia pertama kali mendengar suara tangisan Nala ketika lahir ke dunia. Dan sembilan belas tahun kemudian, dia mendengar suara tangisan cucunya lahir ke dunia.


" Selamat datang ke dunia yang fana keponakan Tante," batin Anne dengan raut wajah Bahgia.


Hari ini, begitu banyak cerita mengejutkan dalam kehidupan Anne. Cerita yang tak pernah ia sangka hadir secara bergantian. Dari mulai di campakkan, curhat sambil menangis karena putus cinta, lalu terserang panik karena Kakak iparnya tiba-tiba akan melahirkan, dan kini ... kabar bahagia datang karena keponakannya akhirnya lahir ke dunia dengan sehat dan selamat.


Bukankah Tuhan begitu banyak kejutan dalam menulis skenario hidup makhluknya ? Lalu, kejutan apa lagi yang akan datang selanjutnya? Kejutan bahagia atau duka?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2