
Ketika waktu sholat magrib telah tiba, Nala dan Lean tak kunjung melihat Anne turun ke mushola.
" Apa Anne masih belum bangun juga?" ujar Lean.
" Sepertinya belum Bee, biarin saja lah. Mungkin Anne ngantuk berat sehabis perjalanan jauh," papar Nala.
" Meskipun mengantuk, tetap tidak boleh meninggalkan sholat. Apalagi ini sudah magrib." Lean bergegas pergi untuk membangunkan Anne, tetapi di cegah oleh Nala.
" Lebih baik, kita sholat dulu. Selesai sholat, aku akan langsung bangunin Anne," usul Nala sembari memperlihatkan pada Lean kalau semua orang sudah menunggu.
Lean pun hanya bisa menghela nafas panjang, lalu mengambil alih menjadi imam sholat magrib berjamaah bersama para pekerja keluarga Fabio.
Selesai sholat, seperti perkataannya tadi. Nala langsung bergegas menuju kamar Anne. Sesampainya di kamar itu, ternyata Anne memang masih tertidur. Bahkan, Ia terlihat sangat pulas sekali, melihat hal itu membuat Nala jadi tak tega. Tapi, kalau tidak segera di bangunkan, suaminya bisa mengomel kalau ia tahu Anne belum bangun.
" Anne, bangun. Sholat dulu," ujar Nala sembari menggoyangkan tubuh Anne.
" Ih ... Kak Seva. Bentar, aku masih ngantuk!" racau Anne dengan menyebut nama Seva. Pasalnya, selama dua bulan terakhir Anne hanya tinggal berdua dengan Seva. Jadi, Ia masih mengira bahwa yang membangunkannya tidur adalah Seva.
" Kok Kak Seva sih! Ini aku Nala, Kakak ipar sekaligus sahabat kamu yang paling cantik, " kesal Nala.
" Nala? "ulang Anne sembari mencoba membuka matanya yang masih terasa lengket.
" Em, benar! Jadi, ayo bangun. Sebelum Kak Lean loh nanti yang bangunin, " ujar Nala yang langsung membuat Anne terduduk. Pasalnya, Anne ingat betul bagaimana cara Lean jika membangunkannya, dan hal itu sangat tak ia suka.
" Nah, gitu! Bangun, masak molor terus! "cerca Nala. Sedangkan Anne terlihat sedang memegangi kepalanya yang terasa begitu berat dan masih berdenyut.
" Kamu kenapa, Anne? "tanya Nala ketika melihat Anne yang terus memegangi kepalanya.
" Gapapa, hanya pusing. "
" Pusing? Kalau gitu, aku panggil Kak Lean dulu, " ujar Nala yang bergegas pergi. Namun, langkahnya terhenti gara-gara tangannya di cekal oleh Anne.
" Gak usah panggil dia, aku gapapa!" cegah Anne yang malas berurusan dengan Kakaknya yang menyebalkan itu.
" Bagaimana bisa? Orang kepala kamu kelihatannya sakit banget gitu! Udah, aku panggilan dia dulu sebentar, kamu sholat biar nanti gak kena marah." Nala masih kekeh untuk memanggilkan Lean agar memeriksa kondisi Anne. Sedangkan Anne, hanya bisa pasrah dan menurut.
Dengan sedikit tertatih, Anne masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu, lalu sholat.
__ADS_1
Selesai sholat, kepala Annd terasa semakin berdenyut. Bahkan, ketika sujud rasanya seperti mau pecah. Di tambah lagi, dengan perutnya yang tiba-tiba ikut-ikutan sakit, semakin lengkap sudah yang ia rasa.
Di lantai bawah, Nala terlihat menunggu Lean menyelesaikan murojaahnya dengan wajah cemas memikirkan bagaimana keadaan adik iparnya. Namun ia juga tak enak jika harus mengganggu suaminya.
Dikarenakan Lean yang tak kunjung selesai, Nala pun memberanikan diri untuk memanggil.
" Bee ...," lirih Nala.
Lean pun membalikkan tubuhnya dengan bibir yang masih belum berhenti melantunkan ayat-ayat suci al-qur'an.
" Anne sakit," ucap Nala dengan takut-takut.
Lean pun mengakhiri murojaahnya.
" Sakit?" ulang Lean dengan wajah terkejut.
Nala mengangguk, membuat Lean segera bergegas bangun. Sebelum ke kamar Anne, Ia terlebih dulu mengambil alat-alat pemeriksaan.
" Anne sakit apa bee?" tanya Lean di sela perjalanan mereka menaiki tangga.
" Dia tadi mengeluh kepalanya sakit."
Sesampainya di depan kamar Anne, mereka langsung membuka pintu kamar yang tak terkunci itu. Dan betapa terkejutnya Nala dan Lean ketika melihat Anne yang kesakitan di bawah beralaskan sajadah.
" Kamu kenapa, Dek? "tanya Lean cemas.
" Kepala dan perutku sakit, Kak, "lirih Anne yang masih terus memegangi kepala dan perutnya.
Tanpa berlama-lama, Lean langsung menggendong tubuh Anne dan merebahkannya di atas kasur. Sedangkan Nala mencoba untuk mengambilkan air minum, lalu membantu Anne untuk meneguknya.
" Kamu tadi makan dan minum apa, Dek?" tanya Lean sembari mengecek tensi darah, serta denyut jantung Anne.
" Aku belum makan apa-apa sejak siang," lirih Anne.
" Apa?" Lean terdengar terkejut.
" Kok bisa sih Anne, apa kamu lupa kalau punya asam lambung? Dan tekanan darah kamu juga sangat rendah, apa kamu habis begadang atau makan___"
__ADS_1
" Bee," potong Nala ketika Suaminya terus memarahi Anne. Begitulah Lean yang masih saja susah mengontrol emosinya ketika tahu Anne bandel karena tak memperhatikan kesehatannya.
" Maaf," lirih Anne dengan tertunduk.
Lean hanya bisa menghela nafas panjang, lalu segera pergi untuk mengambilkan Anne makanan dan juga obat. Sepeninggal Lean, Nala langsung mendekati Anne.
" Anne, jangan di ambil hati ya ... Kamu tahu sendiri Kakakmu itu memang suka begitu kalau bersangkutan dengan kesehatan," ujar Nala.
Anne mengangguk mengerti karena dia sudah hafal betul bagaimana sifat Kakaknya. Lagipula, dia seperti itu juga karena khawatir dan cemas akan kesehatan adiknya.
Tak lama kemudian, Lean pun sudah kembali dengan membawa sebuah nampan berisikan sepiring makanan, minuman, serta obat-obatan.
Lean duduk di samping ranjang Anne, lalu menuangkan satu sendok takar obat asam lambung.
" Buka mulutnya."
" Aku bisa sendiri, Kak."
" Buka!"
Anne pun membuka mulutnya, dan Lean langsung menyuapi obat itu. Melihat Lean begitu perhatian seperti seorang ayah yang sedang menyuapi obat anaknya, membuat Nala merasa terharu.
" Tunggu lima belas menit, baru makan. "
" Em. " Anne mengangguk.
" Kamu tumben - tumbenan begadang. Ada apa?" tanya Lean.
" Bukan begadang kok, hanya sedang tidak bisa tidur," terang Anne.
" Tidak bisa tidur?" ulang Lean dan diangguki oleh Anne.
" Kenapa? Mikirin cinta yang tak di restui?"
Makjleb
Pertanyaan Lean seketika membuat Anne terdiam. Entah tahu dari mana Kakaknya bisa tahu tentang masalahnya ini?
__ADS_1
...****************...