
Saat malam tiba, terdengar ketukan pintu dari luar, membuat Seva segera membukakan pintu. Ternyata Brian yang datang dengan membawakan makanan.
Melihat tangan Brian yang penuh dengan kantong makanan, membuat Seva segera mengambil alih kantong-kantong makanan itu, dan membantu membawanya ke dapur.
" Mana, Anne?" tanya Brian saat tidak melihat ada Anne di ruangan itu.
" Oh, dia sedang sholat di kamarnya," jawab Seva sembari menyiapkan makanan yang sudah di bawa Brian. Awalnya, Seva ingin memasak tapi tidak jadi karena Brian mengatakan bahwa dia akan membawakan makanan.
" Tuan, apakah ini halal semua?" tanya Seva yang sangat harus teliti menjaga makanan Anne.
" Itu halal semua karena aku membelinya di restoran yang menjual makanan halal," jawab Brian.
" Oh, terimakasih."
Sejak mengetahui bahwa Anne akan tinggal di New York, Brian memang sengaja mencari restoran yang menyajikan makanan-makanan halal. Karena dia tahu bahwa seorang muslim mempunyai aturan dan larangan dalam hal makanan sehingga tidak bisa sembarangan.
Mendengar ada suara Brian datang, membuat Anne segera keluar dari kamarnya.
" Kakak sudah datang?" tanya Anne basa basi.
" Em, kamu sudah selesai sholatnya?"
" Ya sudah lah, Kak. Kalau belum, mana mungkin aku keluar," jawab Anne yang diangguki oleh Brian.
Setelahnya, ketiga orang itu makan bersama di meja makan.
" Wah, cukup enak! "puji Anne ketika memakan makanan yang di bawa oleh Brian.
" Kalau enak, makan yang banyak. "
Anne menggeleng.
" Kenapa? Bukannya katanya enak? "
" Ya ... memang enak, tapi makan secukupnya saja. Apalagi ini sudah malam, kalau makan banyak nanti bisa gendut, terus kena body shaming," tutur Anne.
Brian hanya bisa geleng-geleng kepala tatkala mendengar penuturan Anne yang bisa dikatakan benar.
Selesai makan malam, Brian segera pulang agar Anne bisa istrahat cepat karena besok pagi dia sudah mulai masuk kuliah.
...***...
Sejak pagi, Anne sudah bersiap-siap karena ini adalah hari pertamanya masuk kampus. Selama perjalanan menuju kelas, banyak pasang mata yang tertuju padanya karena penampilannya yang terlihat berbeda. Jika soal wajah Anne terlihat seperti orang lokal, apalagi bola mata abu kebiru-biruan nya yang begitu indah. Namun, penampilan tertutup serta memakai hijablah yang membuatnya menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
Anne mencoba menarik nafas dan membuangnya secara perlahan. Ia mencoba untuk rileks dan bersikap biasa saja dengan tatapan mereka. Toh, dia juga bukanlah penyakit yang menular. Hanya seorang mahasiswa pertukaran dengan penampilan khas wanita muslimah.
Sesampainya di dalam kelas, Anne langsung mencari bangku kosong untuk ia duduki. Tak lama kemudian, ada seorang mahasiswi cantik yang datang menghampirinya.
" Apa kamu mahasiswa pertukaran?" tanya seorang wanita cantik yang mengetahui berita jika akan ada mahasiswa pertukaran di kelasnya.
Anne mengangguk.
" Perkenalkan, namaku Cameron." Wanita cantik itu mengulurkan tangan pada Anne dengan tersenyum.
Anne meraih uluran tangan itu. " Aku Anneta," jawab Anne.
"Kamu cantik, tapi__ apa yang kamu pakai itu?" tanya Cameron yang penasaran.
" Oh, ini hijab," jawab Anne.
" Hijab?" ulang Cameron yang baru pertama kali mendengarnya.
" Ya, ini adalah hijab yang dipakai oleh seorang wanita muslimah untuk menutup kepalanya. "
" Oh ... "
Anne pun hanya mengangguk.
Anne bukanlah anak pejabat atau presiden, tapi dia benar-benar di jaga dengan ketat oleh Papanya. Setelah jam mata kuliah selelesai, Cameron ingin mengajak Anne ke sebuah pesta bersama teman-teman lainnya agar mereka lebih akrab. Namun, Seva sudah datang menjemput Anne.
" Maaf Cam, aku tidak bisa," tolak Anne halus.
" Oh, kamu sudah di jemput?" tanya Cameron saat melihat ada Seva datang.
Anne tersenyum canggung, lalu pamit pergi.
"Kenapa Kak Seva tepat waktu sekali datangnya!" gerutu Anne.
" Tentu saja, kalau tidak bisa di bantai saya sama Tuan Kenzo," canda Seva agar Anne tidak marah.
" Apa Papa___"
"Beliau hanya mengkhawatirkan anda Nona. Lagipula, mereka hanya akan mengajakmu berpesta, 'kan?" sela Seva.
Anne mengangguk. " Mereka ingin aku lebih akrab saja," jawab Anne.
" Kamu terlalu polos Anne, hidup di luar itu tidak sama dengan di Indonesia. Kamu harus banyak berhati-hati, apalagi dengan identitas sebagai seorang muslim! " nasehat Seva.
__ADS_1
Seva mengatakan seperti itu karena dia sudah berpengalaman hidup di luar Negeri bertahun-tahun sebelum kembali ke Indonesia beberapa bulan lalu. Jadi, dia sudah tahu betul bagaimana budaya dan kebiasaan hidup di sini. Sedangkan Anne? Dia masih awam dan polos pula.
Anne memang sering pergi ke luar Negari tapi sekedar liburan, bukan tinggal untuk waktu yang lama. Itupun, selalu bersama keluarganya tidak pernah sendiri seperti ini. Jadi, pantas saja jika Papa Kenzo sangat ketat dalam menjaganya.
" Padahal aku ingin hidup bebas," lirih Anne. Hidup bebas menurut Anne, hidup tanpa aturan yang harus di jaga ketat dengan seorang bodyguard di sampingnya. Selama ini, lingkup pertemanan Anne sangat terbatas sampai membuatnya tidak mempunyai banyak teman karena selalu di seleksi oleh Papanya. Anne juga ingin bisa melakukan banyak hal, asalkan bukan sesuatu yang haram baginya.
Seva tersenyum. " Kamu tidak akan cocok dengan kehidupan itu, Anne."
" Belum pernah di coba kenapa sudah mengatakan tidak cocok?" tanya Anne sembari menoleh ke arah Seva.
" Baiklah, aku akan tujukan padamu bagaimana kehidupan di luar negeri, tapi kamu harus mengubah penampilanmu terlebih dahulu. "
Anne mengerutkan keningnya." Kenapa harus merubah penampilan? "tanya Anne bingung.
" Karena kamu tidak akan boleh masuk jika berpakaian seperti ini! "
Seva terpaksa melakukan ini agar Anne tidak terus berpikir bahwa dia sedang di kekang. Lagipula, masih ada Seva di sampingnya.
Seva tidak akan menyuruh Anne berpakaian seksi, hanya memasangkan sebuah wig guna menutup hijab Anne.
Selesai merubah penampilan, Seva mengajak Anne ke sebuah tempat di mana teman-teman kelasnya berkumpul. Sebelumnya Seva memang sudah mencaritahu identitas para teman kelas Anne.
" Kak ... Kenapa kita ke sini? Hidup bebas yang aku maksud bukan __ seperti ini," ucap Anne saat sudah berada di sebuah cafe yang tidak seperti cafe pada umumnya.
"Bukankah kamu ingin tahu pesta yang di maksud dengan teman barumu?" ujar Seva.
Anne mengangguk pelan.
" Kalau begitu, lihatlah ke arah jam sembilan. Kamu akan tahu pesta yang mereka maksud!"
Anne menuruti perkataan Seva, dan betapa terkejutnya dia saat melihat pemandangan di tempat itu. Anne segera menutup matanya dan terus mengucapkan kalimat istighfar. Sedangkan Seva tersenyum, lalu mengajak Anne keluar dari tempat itu.
" Apa sekarang kamu sudah paham?" tanya Seva ketika mereka sudah berada di luar.
Anne mengangguk.
" Setelah melihat kejadian tadi, apa kamu masih__"
" Tidak!" tolak Anne langsung yang membuat Seva mencoba menahan tawanya. Baru di perlihatkan seperti itu saja, Anne sudah bersikap seperti ini.
" Anne ... dengarkan aku baik-baik. Tidak semua orang bisa bersikap seperti Tuan Brian yang sangat menjaga dan toleransi denganmu. Ada beberapa dari mereka yang bahkan bisa menjebakmu, jadi kamu harus lebih berhati-hati," nasehat Seva.
Seva mengatakan seperti itu karena dia pernah mengalaminya sendiri. Di jebak oleh seorang teman yang terlihat sangat baik padanya. Hati dan pikiran manusia itu sulit di tebak, terkadang yang terlihat baik ternyata jahat, begitupun sebaliknya. Tapi, ada juga yang benar-benar baik dari luar maupun dalam. Jadi, kita harus lebih berhati-hati dalam bergaul dan memilih teman
__ADS_1
...****************...