
Karena tidak ingin bertengkar, Papa Ken lebih memilih untuk pergi saja. Melihat suaminya yang justru pergi tanpa berkata sepatah katapun, membuat Mama Dira segera menyusulnya. Namun, langkahnya terhenti karena Anne mencekal tangannya.
" Mama mau ke mana?" tanya Anne dengan wajah sendu. Saat ini, dia merasa seakan di acuhkan oleh kedua orang tuanya.
Melihat wajah sendu putrinya, membuat Mama Dira merasa iba, lalu menangkup wajah Anne. " Mama mau bicara empat mata sama Papa. Jadi, kamu tunggu saja di sini. Mama janji akan bantu bicara sama Papa agar mau mengizinkan kamu mengambil undangan pertukaran mahasiswa itu," jelas Mama Dira yang seketika membuat wajah Anne kembali bersinar. Seakan ada secercah harapan baginya untuk mewujudkan mimpi yang sudah lama ia impi-impikan.
" Terimakasih, Ma, " ucap Anne seraya memeluk Mama Dira. Anne merasa bersyukur karena sekarang sudah ada Mama Dira yang menggantikan posisi Oma Carol untuk selalu mewujudkan keinginannya.
" Iya, sayang. Mama akan membantu sebisa mungkin agar putri Mama bahagia, tapi kamu jangan terlalu berharap lebih. Takutnya ... " Mama Dira tak sanggup melanjutkan perkataannya, takutnya akan membuat Anne sedih lagi. Namun, Anne yang sudah mengerti hanya bisa menganggukkan kepala.
Walaupun kemungkinannya kecil, mengingat bagaimana keras kepalanya Papa ken. Anne masih tetap berharap bahwa kali ini Papanya akan setuju jika ia kuliah di luar Negeri selama beberapa bulan.
Setelah itu, Mama Dira pergi untuk menemui Papa Ken.
"Ya Allah, semoga kali ini Mama berhasil membujuk Papa sehingga aku bisa kuliah di luar negeri, Amin."Doa Anne dalam hati, lalu mengusap wajahnya.
...☘️☘️☘️...
Di dalam kamar, terlihat Papa Ken tengah berdiri di balkon seakan menikmati angin yang bertiup menerpa wajahnya.
Mama Dira pun menghembuskan nafas panjangnya terlebih dahulu, sebelum berjalan menghampiri suaminya.
" Apakah sudah lebih dingin?" sindir Mama Dira.
" Maksud, Mama?" tanya Papa Ken yang bingung dengan maksud istrinya.
" Ya, itu ... Apakah otak Papa sudah dingin? Tadi, 'kan panas!" ketus Mama Dira.
" Oh ...," Papa Ken memutar bola matanya jengah. Lalu, kembali menatap ke arah pemandangan taman belakang.
Setelah itu, hanya ada keheningan di antara keduanya karena sama-sama menikmati hembusan angin. Semilirnya hembusan angin, seakan mampu membuat suasana panas di hati menjadi dingin dan lebih rileks.
" Mas ...," panggil Mama Dira seraya menatap wajah suaminya yang masih menutup mata.
" Em," jawab Papa ken singkat, tanpa membuka matanya.
" Kenapa Mas tidak pernah membolehkan Anne untuk sekolah ke luar negeri? Bukankah itu bagus untuk menambah wawasan dan pengalamannya?"
__ADS_1
Papa Ken membuka matanya, lalu menoleh sekilas ke arah sang istri." Apakah menambah wawasan dan pengalaman harus ke luar negeri? Tidak, 'kan? " Bukannya menjawab Papa ken justru bertanya kembali.
" Ya ... Tapi, Kan___" ucapan Mama Dira terhenti tatkala Papa Ken mencengkram kedua bahunya.
" Sayang, Kamu cukup tahu kalau Mas melakukan ini semua juga demi kebaikan Anne. Mas hanya___" Papa Ken menunduk, dia seakan tak sanggup untuk mengatakannya.
Sebenarnya, ini juga sangat berat bagi Papa Ken. Jika boleh jujur, dia juga ingin selalu bisa menuruti semua keinginan putri satu-satunya itu, apalagi dia mampu dan bisa memenuhinya. Tapi, begitu banyak ketakutan dan keraguan di dalam hatinya. Rasa itu sudah bagaikan batu besar yang terus menindih hatinya sampai terkadang membuatnya merasa sesak.
" Hanya apa, Mas?" tanya Mama Dira yang semakin penasaran. Apalagi saat melihat perubahan raut wajah Papa Ken, semakin membuat Mama Dira merasa seperti ada yang di sembunyikan oleh suaminya itu.
" Sudahlah, keputusan Mas sudah bulat dan jangan bahas soal ini lagi. " Papa Ken kembali mencoba pergi lagi. Namun, Mama Dira langsung mencekal suaminya. Kali ini, dia harus tahu apa alasan dari suaminya.
" Jika Mas terus bersikap seperti ini, jangan salahkan aku jika membawa Anne pergi," ancam Mama Dira. Kemudian berlalu pergi menuju walk in closet untuk mengemasi barang-barang.
" Sayang .... " Papa Ken mencoba mengikuti langkah Mama Dira.
" Sayang ... kamu jangan seperti ini," bujuk Papa ken.
" Biarin, siapa suruh Mas egois! "ketus Mama Dira seraya memasukkan pakaian ke dalam koper.
" Sayang ... Mas melakukan itu semua karena takut jika Anne akan menerima karma Mas di masa lalu!" tandas Papa Ken yang akhirnya kelepasan juga.
Papa Ken pun membalas pelukan istrinya dengan erat seakan dia juga butuh sandaran. Selama ini, Papa Ken selalu memendam perasaan ketakutan ini sendiri, tanpa memberitahu siapapun.
Saat mengetahui bahwa anak ketiganya adalah seorang perempuan, Papa Ken benar-benar merasa bahwa tanggung jawabnya akan semakin besar. Selama ini, sikap over protektifnya, semata-mata hanya ingin menjaga Anne. Ia selalu berharap dan berdoa bahwa putrinya tidak akan menanggung karmanya di masa lalu. Mengingat bagaimana bejadnya kehidupannya dulu.
Di mana, ia telah menghamili istri orang sampai membuatnya di tuduh berselingkuh. Bahkan, dia tidak tahu bahwa wanita itu tengah mengandung anaknya sehingga dia melahirkan, dan merawat kedua putra kembarnya sendiri. Tanpa ada suami dan keluarga di sampingnya. Kejadian itu, benar-benar membekas di hati dan pikirannya.
"Maafkan, Mas sayang ..." lirih Papa Ken dalam pelukan istrinya dengan air mata yang terus menetes.
" No, Mas tidak perlu minta maaf." Mama Dira mengurai pelukannya, lalu menangkup wajah suaminya yang kini telah basah akibat air mata. Mama Dira membantu mengelap air mata yang membasahi wajah tampan suaminya. Meskipun sudah berumur, wajah tampan itu tidak memudar sedikitpun.
" Mas ... seharusnya Mas tidak perlu setakut itu karena ..."
" Bagaimana Mas tidak takut sayang, apa kamu sudah lupa kalau perbuatan Mas dulu ..."
Mama Dira membungkam mulut Papa Ken dengan jari telunjuknya. Berharap sang suami tidak lagi berbicara dan menyela ucapannya yang belum selesai.
__ADS_1
" Dengarkan ucapanku dulu sampai selesai, jangan menyelanya, oke? "pinta Mama Dira dengan wajah serius. Membuat Papa Ken hanya bisa menuruti perintah istrinya, kalau tidak habislah dunia persilatan.
Istrinya itu sabar, pengertian, patuh sama suami, tapi kalau sudah marah ... keluar macan betinanya.
Mama Dira mengajak Papa Ken keluar dari walk in closet terlebih dahulu, lalu berjalan menuju sebuah sofa yang ada di kamar mereka agar lebih enak saat berbicara.
Setelah duduk dengan nyaman, barulah Mama Dira melanjutkan pembicaraan mereka.
" Mas, aku tahu kemana arah pembicaraan yang mas maksud. Dan ... maaf karena tidak pernah membicarakan soal ini. Sebelumnya, aku menganggap bahwa kita tidak perlu lagi mengingat masa lalu itu. Tapi, ternyata kejadian di masa lalu itu masih sangat membekas di hati Mas. Bahkan, sampai membuat Mas mempunyai ketakutan sebesar ini. "
" Mana mungkin Mas bisa melupakan kejadian itu," ucap Papa ken dengan tatapan nanar.
" Jahat sekali jika Mas melupakan begitu saja kesalahan besar yang sudah membuat hidup seorang wanita hancur. Sekali lagi, Mas minta maaf karena___" Mama Dira kembali membungkam mulut Papa Ken. Namun, bukan lagi dengan jari, melainkan bibirnya.
Ciuman sekilas pun terjadi.
" Stop meminta maaf karena Mas bukan pria jahat. Mas adalah seorang pria yang sangat baik, dan penyayang keluarga. Meskipun Mas bukan pria yang ada di kamar itu, kejadian itu pasti akan tetap terjadi. Tapi, aku tidak akan bisa hidup sebahagia ini jika lelaki itu bukan, Mas, " ungkap Mama Dira jujur.
Setelah itu, Mama Dira menceritakan semua kebenaran yang sudah terjadi pada malam itu. Tangan Papa Ken terlihat sudah mengepal, matanya memerah menahan amarah tatkala mendengar cerita yang sebenarnya.
Andai Papa Ken tahu kebenaran ini lebih awal, mungkin dia sudah menghancurkan Darren lebih tragis dari sebelumnya.
" Sekarang, jangan pernah berpikir yang tidak-tidak lagi karena Anne tidak akan menanggung karma dari siapapun," jelas Mama Dira.
" Kenapa kamu tidak cerita dari dulu, tentang ini semua?"
Mama Dira tersenyum. " Aku hanya tidak mau terus berada dalam lingkaran masa lalu yang begitu kelam. Karena itu hanya akan terus membuat hati ini merasa sakit, dan mempunyai rasa dendam pada orang-orang itu," jelas Mama Dira seraya menunjuk dadanya.
" Kenapa kamu begitu baik sayang? " batin Papa ken yang semakin kagum dengan istrinya.
" Jadi, hancurkan batu besar yang menindih hati, Mas saat ini. Sebelum, Mas menyesal karena sudah membuat Anne ikut tersakiti dengan ketakutan tak mendasar itu. Rubahlah pemikiran Mas, lagipula Anne sudah besar. Dia bisa menjaga dirinya sendiri, serta tahu mana yang baik dan tidak. "
Papa Ken hanya tertunduk dan terdiam. Ia seakan merasa tertampar secara tidak langsung oleh ucapan istrinya yang memang benar adanya.
...****************...
Buat yang bingung dan tidak paham, bisa baca kisah Mama Dira dan Papa Ken di novel
__ADS_1
Anak genius : Papa bucin yang posesif.