Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 104 : Pelukan terakhir kalinya


__ADS_3

..." Sebagai makhluk ciptaan, kita memang tak bisa membuat semuanya bisa berjalan seperti apa yang kita inginkan. Tapi percayalah, jika sang Pemilik Alam Semesta tetap mengabulkan permintaanmu yang lain."...


...~ Leonard Brian Marsello ~...


Di sebuah taman yang di penuhi banyak bunga, terdengar suara air yang mengalir layaknya sedang berada tempat air terjun. Tempat itu begitu indah, namun sepi seakan tak berpenghuni.


Anne terus melangkahkan kakinya sambil menikmati aroma bunga yang begitu wangi. Langkah kaki itu tiba-tiba terhenti ketika mendapati ada seseorang dengan pakaian putih sedang berdiri di dekat air terjun.


Dari postur tubuhnya, Anne seperti mengenal siapa orang itu. Anne pun kembali melanjutkan langkahnya, dan bersamaan dengan itu sang pria membalikkan badannya.


" Kak, Brian...," lirih Anne saat mengetahui siapa pria itu.


Brian terlihat tersenyum pada Anne, membuat gadis itu ikut tersenyum.


" Kak, kamu di sini?" tanya Anne. Namun, Brian tak menjawab pertanyaan Anne. Dia hanya tersenyum, lalu melambaikan tangan dan menghilang.


" Kak, kamu kemana?" panggil Anne seraya berjalan ke sana kemari mencari keberadaan Brian. Namun, Ia tak kunjung menemukan pria itu.


" Kak kamu kemana? Jangan tinggalkan aku sendiri di sini ...," seru Anne yang seketika bangun dari tidurnya.


Mendengar Anne yang terus memanggil nama Brian dalam tidurnya, tentu membuat hati Pangeran sakit. Padahal, sekarang dia sudah menjadi suami Anne tapi hati, dan raganya masih milik pria lain.


" Kak, mana Kak Brian?" tanya Anne pada Kean yang ada di sampingnya.


" Anne kamu minum dulu," tawar Pangeran. Melihat jarak Pangeran yang begitu dekat, membuat Anne spontan menjauh.


Kean masih terdiam, lidahnya terasa kelu seakan tak mau berkata apapun. Melihat wajah sembab Kean, Anne tiba-tiba teringat kembali dengan kejadian sebelum ia pingsan. Dimana, Jeremy memberitahukan bahwa Brian telah pergi selama-lamanya. Anne tersenyum getir dengan mata yang kembali mengembun.


" Ternyata, Kak Brian benar-benar pergi meninggalkanku," lirih Anne.


Kean langsung memeluk tubuh Anne guna memberikannya kekuatan.


" Kak, antarkan aku melihat Kak Brian untuk terakhir kalinya," pinta Anne dengan suara lirih.


Kean mengangguk, lagipula dia juga harus melakukan kewajiban seorang muslim pada saudaranya yang meninggal. Karena bagaimana pun, itu adalah hak Brian untuk bisa dimandikan, dikafani, dan di kuburkan layaknya seorang muslim pada umumnya.


Kean membantu Anne untuk berdiri, di saat Pangeran ingin membantu Anne kembali menjauh.

__ADS_1


" Jangan menyentuhku!" ucap Anne yang tak mau di sentuh oleh Pangeran.


Pangeran pun menjauhkan tangannya dari tubuh Anne. Untuk saat ini, Pangeran memang harus banyak bersabar jika Anne tidak mau menerimanya sebagai suami. Karena inilah awal dari perjuangan yang harus Pangeran lakukan.


Melihat Kean dan Anne pergi, Papa Ken, Mama Dira, Dinda, dan Pangeran pun ikut. Mereka semua pergi dengan mobil berbeda menuju ke Mansion Marsello.


Selama perjalanan, Anne terus saja diam bagaikan patung hidup. Raganya memang ada di sini, tapi jiwanya entah kemana.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, mereka sampai juga di Mansion Marsello. Kedatangan mereka, seperti biasanya akan di sambut oleh para penjaga di sana.


Aura kedukaan terlihat jelas di rumah itu, bahkan sudah banyak karangan bunga yang berjejer rapi untuk mengucapkan bela sungkawa. Foto Brian juga sudah terpanjang di depan pintu masuk mansion Marsello.


Anne berhenti sejenak di depan foto Brian yang terlihat tersenyum bahagia. Foto dimana Brian masih dalam kondisi sehat.


" Ayo kita masuk, Anne," ajak Dinda dan Kean.


Di dalam rumah, terlihat Daddy Samuel yang terduduk lemas di dekat jenazah Brian. Mama Dira yang sejak tadi di papah oleh Papa Ken, tiba-tiba seakan punya kekuatan untuk berlari menghampiri Jenazah Brian yang terbungkus kain putih.


" Bri ...," seru Mama Dira yang langsung memeluk tubuh yang sudah tak lagi bernyawa itu.


Sementara Anne, Ia kembali terduduk jatuh ke lantai seakan tak mempunyai tenaga. Dinda dan Kean pun ikut berjongkok saat menyadari Anne yang kembali terjadi walau sudah di topang.


" Anne harus kuat, jika Anne seperti ini. Brian pasti akan sangat sedih, bukankah tadi ingin melihat Brian untuk terakhir kalinya?" Kean mencoba menyemangati Anne, meski dirinya sendiri juga sangat kehilangan. Tetapi, ia harus tetap terlihat kuat . Kehilangan orang yang kita sayangi tentu akan sangat menyedihkan.


" Kenapa Kak Brian pergi secepat ini, Kak? Kenapa dia tak berpamitan dulu pada Anne? Kenapa semesta tak membiarkan kita untuk bersama terlebih dahulu? Kenapa?" Anne bertanya-tanya dengan cucuran air mata yang mengalir begitu deras.


Dada Anne terasa begitu sesak, dia tak menyangka jika kisahnya dengan Brian berakhir seperti ini. Di tinggal pergi oleh orang yang sangat di cintai itu, sangat menyakitkan.


" Anne, semua yang terjadi itu sudah tertulis jauh sebelum kita lahir di dunia ini. Kita sebagai manusia hanya bisa menerimanya dengan lapang dada, dan anggap saja ini sebagai teguran dari Allah agar kita tak terlalu mencintai makhluknya terlalu dalam. Karena sejatinya, makhluk itu tak kekal. "


" Jadi, apakah Allah mengambil Kak Brian secepat ini karena Anne terlalu mencintainya?"


" Bukan, tapi Allah yang lebih mencintai Brian jadi dia tak mau membuat Brian merasakan sakit terlalu lama."


Anne tertunduk, apa yang dikatakan Kean ada benarnya. Sekarang, Brian pasti sudah tak lagi merasakan sakit akibat sel-sel kanker yang terus menggerogoti tubuhnya.


Kean membantu Anne untuk berdiri dan berjalan mendekati jenazah Brian yang terlihat tersenyum dan sangat tampan.

__ADS_1


" Kak, izinkan aku memeluknya untuk terakhir kali," pinta Anne yang membuat Kean bingung harus bagaimana.


" Peluklah Anne jika itu bisa sedikit meredakan kesedihanmu." Bukan Kean yang berbicara, melainkan Papa Ken yang berdiri di samping istrinya.


Anne pun berjalan selangkah lebih dekat pada jenazah Brian, lalu memeluk tubuh yang sudah membeku.


Sementara di kejauhan, Pangeran yang tak sanggup melihat adegan itu pun pergi dari sana. Statusnya memang suami tetapi tak bisa berbuat apa-apa.


Anne menangis sejadi Jadinya, ingatan tentang kejadian dimana Brian yang memeluknya untuk pertamakalinya pun seakan terlintas kembali.


" Anne, izinkan sekali ini saja aku untuk memelukmu."


" Tapi Kak kita 'kan belum___"


" Dengarkan saja detak jantungku, apakah dia berdetak sangat cepat?" potong Brian yang mencoba mengalihkan perhatian Anne. Anne pun seakan menurut begitu saja dan mendengarkan detak jantung Brian yang berdetak begitu cepat. Sebenarnya bukan hanya detak jantung Brian saja yang berdetak sangat cepat, tapi milik Anne juga.


" Anggap saja ini adalah pelukan yang pertama dan terakhir kali sebelum aku pergi," batin Brian yang mencoba menikmati momen yang tak akan pernah ia alami lagi.


Anne kembali ke dunia nyata, dimana ia tak lagi bisa mendengarkan suara detak jantung itu lagi. Suara detak jantung yang terdengar layaknya alunan musik.


Anne pun melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Brian dengan seksama.


" Apa sekarang kamu sudah bahagia, Kak?"


" Sepertinya sudah, karena wajahmu terlihat begitu bahagia." Anne menjawab pertanyaannya sendiri.


" Kamu tampan jika tersenyum seperti ini, Kak. Dan aku akan selalu mengingat wajah tersenyum ini. Selamat jalan cintaku, semoga kamu bahagia di sana, dan semoga kelak kita bisa bertemu kembali dengan cerita yang lebih indah."


Setelahnya, Anne memundurkan tubuhnya untuk menjauh agar Kean bisa bergantian berbicara.


" Selamat jalan, Bri. Sekarang kamu sudah tak lagi merasa sakit, dan insya Allah surga tempatmu yang baru saja menjadi seorang muslim. Maaf jika Kakak belum bisa menjadi Kakak yang baik untukmu," ucap Kean yang akhirnya tak sanggup menahan air matanya untuk tak jatuh.


" Selamat jalan putra Mommy yang baik. Putra yang begitu tulus mencintai orang-orang di sekitarnya. Tunggu Mommy di sana ya, Nak. Semoga kelak kita di pertemukan kembali. Mommy sayang Brian."


Setelahnya, Kean dan Papa Ken membantu proses memandikan jenazah Brian.


" Maafkan Papa yang begitu banyak salah padamu, Bri. Semoga kamu tenang di sana, " ucap Papa Ken dalam hati seraya membantu membasuh tubuh Brian.

__ADS_1


Dikarenakan hanya ada beberapa yang muslim, maka yang menyolatkan Brian pun hanya sedikit. Tapi, Kean dan Papa Ken berhasil menyelesaikan semua hak terakhir Brian sebagai seorang muslim.


...****************...


__ADS_2