
Sesampainya di apartemen Brian, Jeremy cukup terkejut tatkala melihat kondisi kamar Brian yang cukup berantakan.
" Bos," seru Jeremy tatkala melihat Brian duduk bersandar di samping ranjang tempat tidur sembari memegangi kepalanya.
Jeremy dan Dokter John segera membantu Brian untuk naik ke atas kasur. Setelahnya, Dokter John segera memeriksa kondisi Brian.
" Kenapa Anda bisa seperti ini bos? Apa yang telah terjadi?" tanya Jeremy yang cukup terkejut tatkala melihat kondisi Brian yang tiba-tiba drop begini. Pasalnya, kemarin ia masih baik-baik saja. Bahkan, bisa jalan-jalan seharian bersama Anne, guna menikmati hari weekend.
" Entahlah," lirih Brian yang sudah kehabisan tenaga akibat menahan rasa sakit kepalanya.
Setelah mendapatkan suntikan pereda rasa sakit, kondisi Brian mulai membaik. Setidaknya, rasa sakit yang menyerangnya mulai reda.
" Bagaimana, Bri? Apakah sudah jauh lebih baik?" kini Dokter John yang bertanya.
Brian hanya menjawab dengan anggukan kepala karena tubuhnya masih terasa cukup lemah. Setelahnya, Dokter meminta penjelasan Brian tentang gejala yang ia alami.
" Bri, mari lakukan MRI (Magnetic resonance imaging) agar tahu apa penyebab sakit kepala yang kamu alami," saran Dokter John yang langsung di tolak oleh Brian.
" Kenapa anda tidak mau melakukan pemeriksaan, bos?" tanya Jeremy bingung. Pasalnya, selama ini Brian selalu rutin chek up untuk memeriksakan kondisinya.
"Aku capek jika ada gejala sedikit harus melakukan berbagai prosedur pemeriksaan yang cukup panjang. Lagipula,bukankah bulan kemarin habis chek up, dan hasilnya baik-baik saja? Jadi, tidak usah sedikit-sedikit MRI, cek darah, dan lain sebagainya."
" Tapi Bri ... Kamu itu___"
" Punya riwayat penyakit tumor ganas yang bisa kembali kapan saja, iya? Aku tahu, dan sangat hafal dengan kata-kata itu," potong Brian sebelum Dokter John menyelesaikan ucapannya.
" Jika kamu sudah tahu, berarti kamu paham kenapa saya menyuruh kamu untuk melakukan MRI. Setidaknya, kita bisa tahu jika ada bibit tumor baru yang muncul lagi agar segera mendapatkan tindakan," papar Dokter John.
Brian hanya memutar bola matanya jengah, Ia benar-benar muak mendengar kata-kata itu. Haruskah, Ia selalu merasa di hantui dengan kemunculan tumor baru? Brian juga ingin hidup normal seperti orang lainnya, yang bisa hidup tenang tanpa memikirkan jika ia akan mengalami sakit yang sama, atau bahkan bisa lebih parah dari sebelumnya.
__ADS_1
Ya, setiap manusia pasti memiliki masalah dan cobaan hidup. Tapi, haruskah seperti ini?
" Saya mengantuk, berikan saja resep penghilang rasa sakit agar Jeremy menebusnya." Brian mencoba menarik selimutnya.
" Bri, kamu___"
" Saya ingin istirahat." Brian mencoba memposisikan tubuhnya membelakangi Dokter John, menandakan bahwa Ia sudah tak mau membahas tentang penyakit itu. Penyakit yang belum jelas jika ia kembali atau tidak.
Melihat sikap Brian yang seperti itu, membuat Jeremy segera mengajak Dokter John untuk keluar dari kamar.
Ketika Jeremy dan Dokter John sudah keluar dari kamarnya, Brian mengubah posisinya menjadi terlentang kembali. Ia tatap langit-langit kamarnya, pikirannya tiba-tiba berubah kalut. Bukannya Brian tak peduli dengan kesehatan dirinya, Ia hanya sedang berada pada titik jenuh. Dimana, Ia merasa bahwa hidupnya cukup melelahkan dan membosankan.
Tiba-tiba, ada sebuah notifikasi pesan masuk lagi.
Anne
[Kamu baik-baik saja, 'kan?]
[ Jika kamu tetap tidak membalas pesanku, aku tidak akan mau bicara lagi denganmu!]
[Kak]
[Kak Brian! Apa kamu di sana?]
Masih begitu banyak pesan yang Anne kirim untuk Brian. Akibat tak kunjung mendapatkan balasan pesan dari Brian, membuat Anne nekat meneror pria itu.
Seulas senyum terbit di bibir Brian tatkala membaca pesan dari Anne. Setelahnya, Ia mencoba membalas pesan dari gadis itu.
[ Kenapa kamu berisik sekali, Anne?]
__ADS_1
[ Apa kamu sangat merindukanku?]
Melihat ponselnya bergetar, membuat Anne langsung melihatnya. Ada rasa senang bercampur kesal ketika melihat Brian akhirnya membalas pesannya juga.
[ Akhirnya, setelah sekian purnama kamu balas juga pesanku!]
[ Jadi orang jangan kepedean, aku itu bukan kangen. Lebih tepatnya, hanya ingin tahu saja kamu ada dimana. Soalnya, tiba-tiba menghilang begitu saja, bagaikan di telan bumi.]
Brian
[ Oh, ya? Kalau kangen juga gapapa. Gak usah gengsi!]
[ Kalau misalnya aku beneran di telan bumi, gimana?]
Tanpa sadar, Brian menulis sesuatu yang tak seharusnya. Ia mencoba untuk menghapusnya, tapi sudah lebih dulu di baca oleh Anne.
Anneta
[ Kamu! Di telan bumi? Bisa-bisa, buminya muntah duluan, Kak!]
Brian seketika tertawa ketika membaca balasan dari Anne. Awalnya, Brian akan mengira bahwa Anne akan curiga atau bertanya-tanya apa gitu. Eh, gak taunya dia justru ngelawak.
" Dasar, Anneta! Ada-ada saja kamu itu. " Brian hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi gadis itu. Tapi, bertukar pesan dengan Anne, cukup mampu membuat Brian melupakan sejenak soal perkataan Dokter John. Setidaknya, Brian bisa berpikiran positif lagi.
Mungkin, sakit kepala yang ia alami hanya efek dari kecapekan saja karena akhir-akhir ini pekerjaan kantor cukup banyak. Bukan karena tumor yang datang lagi. Toh, Brian sudah menjalankan saran yang di berikan oleh Dokter untuk lebih menjaga pola hidup dan juga makan. Soal pekerjaan, Brian memang merupakan tipe orang yang tak bisa tenang jika pekerjaanya belum selesai. Jadi, Ia selalu berusaha menyelesaikan pekerjaan terlebih dulu, baru hal lainnya.
...***************...
Halo gengs... Terima kasih buat kalian yang masih setia membaca kisah Anne dan Brian. Gimana, kalian suka cerita versi baru atau lama?
__ADS_1