
Seusai meeting, Brian mencoba mencari ponselnya yang biasa ia simpan di dalam saku jas, tapi ternyata tak ada.
" Ada apa, Bos? "tanya Jeremy ketika melihat Brian yang terlihat sedang kebingungan dan mencari sesuatu.
" Apa Kamu tahu ponsel saya? "tanya Brian, pasalnya ia seakan lupa menaruh dimana ponsel itu.
Jeremy menggeleng, membuat Brian semakin bingung. Tanpa berlama-lama, Ia segera kembali ke ruangannya untuk mencari ponselnya. Sesampainya di ruangannya, ternyata ponsel itu berada di atas meja kerjanya. Brian pun langsung membuka layar ponsel itu. Pupil mata Brian seketika melebar tatkala melihat ada notifikasi 20 panggilan tak terjawab dan 10 pesan dari Anne.
Tanpa membaca pesan, Brian langsung mencoba kembali menghubungi Anne karena ia yakin jika gadis itu pasti sudah marah, tapi ternyata nomornya tidak aktif.
"Kemana Anne?" gumamnya yang mencoba kembali menghubungi Anne, namun dering yang ia terima sama jika nomor gadis itu tidak aktif.
Akhirnya, Brian pun membaca pesan Dari Anne.
✉️ Anne
[Kak, kamu dimana?]
[ Kepulangan ku dipercepat Karena Kak Kean mengalami kecelakaan]
[ Aku ingin bertemu denganmu sebentar, sebelum Aku pergi]
__ADS_1
[ Apa kamu marah padaku, Kak?]
[ Apa kamu tak ingin mengantarkan aku untuk pergi?]
[ Kamu baik-baik saja 'kan, Kak?]
[Belum saja melangkahkan kaki pergi dari kota ini, Aku sudah rindu denganmu, Kak]
[ Terimakasih atas dua bulan yang begitu bermakna. Aku bahagia bisa tinggal di kota ini bersamamu]
[Meski jarak, keyakinan, dan restu memisahkan kita. Aku berharap, suatu saat nanti kita bisa bersatu di amin yang sama]
Otot-otot tubuh Brian seketika menjadi lemas layaknya tak mempunyai energi lagi. Hatinya perih bercampur sedih ketika mengingat kembali bagaimana kisah mereka dimulai. Dulu, Brian hanya bisa selalu merindukannya, hanya bisa mengawasi dari kejauhan serta memendam rasa cinta itu sendirian. Ketika takdir mendengarkan harapannya agar bisa lebih dekat, Brian sungguh bahagia dan mulai memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan selama ini, tapi saat itu Anne justru menghindarinya. Dan kini, di saat hubungan mereka baru dimulai, restu sudah tak berpihak pada mereka.
Apa takdir mulai mempermainkannya?
Akankah cinta mereka bisa bersatu dan berakhir bahagia? Bisakah Brian melawan restu yang tak berpihak padanya?
Brian sadar, jika hubungan mereka bukan hanya sekadar tak mendapat restu dari keluarga, tetapi juga dari sang pencipta alam semesta. Dimana ia mencintai salah satu makhluk yang mempunyai kepercayaan berbeda dengannya. Cinta yang seharusnya tak ada, tapi tumbuh sendiri dalam hatinya.
Mereka di satukan oleh cinta, namun di pisahkan oleh perbedaan dan restu dari orang tua.
__ADS_1
***
Selama di perjalanan, Anne terus saja diam tanpa kata. Netranya terus terjaga tanpa mau ditutup. Rasa rindu, cemas, bercampur khawatir. Ia takut jika terjadi sesuatu pada pria yang ia cintai itu karena tidak biasanya dia tak ada kabar seperti ini.
" Kamu tidak istirahat, Anne?" tanya Seva.
" Tidak bisa tidur," jawab Anne dingin.
" Kenapa? Sedang memikirkan Tuan Brian?" tebak Seva yang benar.
" Tenang saja, dia mungkin hanya sedang sibuk saja jadi tak bisa datang untuk mengantarkanmu. Lagipula, jika rindu bukankah dia bisa datang ke Indonesia. "
" Berkata saja memang mudah," tukas Anne yang membuat Seva bungkam. Sepertinya, Anne tak butuh ungkapan kata-kata penenang karena yang ia butuhkan hanya kehadiran pria itu.
Demi menghabiskan waktu yang panjang di dalam pesawat, Anne pun memutuskan untuk menggambar sketsa wajah Brian. Seulas senyum terbit ketika menatap goresan pena yang tengah menggambarkan betapa tampannya pria itu. Namun, siapa sangka jika ada butiran bening juga yang jatuh menetes membasahi kertas putih itu.
Rasa cinta yang bercampur sedih, dimana ia harus berpisah dari seseorang yang mampu membuatnya merasakan apa arti dari sebuah kata rindu pada cinta.
" Apa Kamu juga merasakan hal yang sama denganku, Kak?" Anne bermonolog sembari menatap lukisan itu, lalu memeluknya serta menutup matanya. Selayaknya bisa memeluk jiwa itu dalam sebuah angan.
...****************...
__ADS_1