
" Pangeran Aditama saya nikahkan dan kawinkan engkau ... "
" Pangeran Aditama?" pupil Mata Anne seketika melebar tatkala mendengar nama pengantin prianya bukanlah Brian. Anne bergegas bangun dari tempat duduknya dan berusaha untuk keluar dari ruangan satir itu. Namun, siapa sangka jika di pintu terdapat beberapa penjaga.
" Minggir!" titah Anne.
" Maaf Nona, kami___"
Tanpa ragu, Anne pun mengeluarkan keahlian taekwondonya. Ya, Anne memang bisa ilmu bela diri karena sedari kecil Kean dan Lean mengajarinya. Keahlian ini akan
Meski mendengar sedikit keributan, Pangeran tak sedikitpun menghiraukannya. Ia tetap mengucapkan kalimat ijab qabul itu sampai selesai.
" Sah!!"
" Tung__gu," lirih Anne saat mendengar kalimat sah.
" Apa maksud dari semua ini?" tanya Anne dengan suara sedikit tinggi.
" Mana Kak Brian? Kenapa justru kamu yang menikah denganku?" Anne terus bertanya dengan wajah kebingungannya. Namun, semua orang masih bungkam. Bahkan, Kakaknya yang sedari awal terus mendukung hubungannya bersama Brian juga tak melakukan apapun saat Pangeran menggantikan posisi Brian sebagai pengantin pria.
Anne menghampiri Kean yang menunduk, lalu menarik kerah bajunya.
" Kenapa Kakak diam saja? Mana Kak Brian?" tanya Anne dengan mata yang sudah memerah dan mengembun.
" Jawab Kakak ... Jangan diam saja ...," rengek Anne.
Kean hanya bisa diam karena dia sendiri juga masih belum sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi. Jujur, ini juga sulit bagi Kean tapi mau bagaimana lagi.
" Anne ... tenanglah dulu." Akhirnya Papa Ken membuka suara.
Anne menoleh ke arah dimana Papanya berada dengan tatapan tajam dan menusuk, tetapi tak melepaskan cengkramannya pada baju Kean.
" Kenapa Papa tega melakukan ini? Bukankah Papa sudah setuju untuk menikahkan Anne dengan Kak Brian? Tapi kenapa justru ___" Kini Anne tak sanggup lagi melanjutkan ucapan. Tenggorokannya seakan tercekat oleh sebuah kekecewaan yang sangat besar. Kekecewaan karena telah di bohongi, dan di tipu.
Seharusnya, hari ini adalah hari bahagianya bersama Brian tapi kenapa justru seperti ini?
" Anne jangan salahkan Papa karena ini semua Brian yang minta," Akhirnya Pangeran ikut membuka suara saat Anne terus menyalahkan Papa Ken.
Anne memicingkan matanya, lalu berjalan menghampiri pria yang baru saja selesai mengucapkan ijab qabul. Ya, ijab qabul itu telah selesai dan itu artinya saat ini Anne sudah resmi menjadi istri Pangeran secara agama.
" Apa maksudmu berkata seperti itu? Apa kamu mengenalnya?" cecar Anne.
" Aku tak mengenalnya, tapi dialah yang datang memintaku untuk menggantikannya menikahi kamu di sini," papar Pangeran jujur.
" Hahahaha ...." Anne tertawa palsu.
" Apa kalian pikir ini cerita pengantin Pengganti? "kata Anne yang tak percaya.
" Tapi apa yang dikatakan Pangeran benar, "timpal Papa Ken membenarkan.
Anne kembali melirik ke arah Papanya yang berdiri di sampingnya.
" Anne tahu Papa tak pernah merestui hubungan Anne dan Kak Brian, tapi tidak begini juga, Pa ... " wajah Anne terlihat penuh rasa kekecewaan.
" Papa sudah merestui, tapi Brian sendiri yang datang dan mengatakan bahwa Pangeran adalah pengantin pria yang sebenarnya. "
" Apa maksud, Mas? "Kini Mama Dira punya kesempatan untuk membuka suara.
" Mana mungkin Kak Brian seperti itu, Papa bohong 'kan? Biar Anne tidak___
" Itu semua benar Anne, " akhirnya Kean membuka suara juga. Dan hal itu tentu membuat Mama Dira, Dinda, Anne tercengang.
__ADS_1
Di sini, yang bisa mereka percayai hanya ucapan Kean karena dia ada pada kubu Anne.
" Kemarin ..."
Kemarin, saat Pangeran akan pergi meninggalkan kota New York, tiba-tiba ada segerombolan pria berseragam hitam menculiknya dan membiusnya. Ketika sudah sadarkan diri, Pangeran menyadari jika ia sedang berada di tempat asing.
" Siapa kalian?" tanya Pangeran bingung saat melihat ada beberapa pria berseragam hitam berbaris rapi di depannya.
Tak lama kemudian, muncullah seorang pria dengan memakai kursi roda membelah barisan para pria berseragam itu.
" Siapa kamu?" tanya Pangeran yang memang tak mengenal siapa pria di depannya ini.
Dari raut wajahnya yang pucat serta memakai kursi roda, Pangeran dapat melihat jika pria ini sedang dalam kondisi tak sehat.
" Perkenalkan, saya Brian." Brian berusaha untuk tidak terlihat begitu lemah.
"Brian?" ulang Pangeran yang jadi teringat kembali nama pria yang telah membuat rencana pernikahannya gagal. Pria yang telah merebut calon istrinya.
" Jadi, ini kamu. Pria yang di cintai Anne?"
Brian terlihat tersenyum. Meski tubuhnya terlihat kurus, serta pucat, Ia masih saja terlihat tampan dimata Pangeran.
" Jadi dia pria yang Anne cintai?" gumam Pangeran dalam hati.
Setelahnya, Brian memberikan kode agar para penjaga itu pergi dari ruangan hingga hanya tersisa Jeremy, Brian dan Pangeran.
" Apa yang ingin kamu lakukan? Apa belum puas kamu mengambil tunanganku? "hardik Pangeran yang hanya di balas senyuman oleh Brian.
" Kenapa Kamu tertawa? Apakah ada yang lucu? "
Brian mengangguk, membuat Pangeran semakin bingung dengan pria yang ada di hadapannya saat ini.
" Kamu masih mencintai Anne? "tanya Brian.
" Jika kamu masih mencintainya, jangan pergi. Nikahi dia besok, "papar Brian yang semakin membuat Pangeran bingung dan tak mengerti.
" Apa maksudmu berkata seperti itu? Bukankah besok yang akan menikah adalah kamu? Apa kamu sedang bercanda dengan melakukan sebuah drama pengantin Pengganti? "
Brian menggeleng." Aku bersungguh-sungguh."
" Kenapa?"
" A-pa Ka-mu ti-dak bisa me-lihat kondi-siku saat ini? "Kini, Brian kembali terbata-bata lagi saat berbicara.
" Ya Allah, izinkan aku menyelesaikan semuanya terlebih dahulu. Berikan aku kekuatan dan kemudahan dalam berbicara. " Doa Brian dalam hati yang berharap jika Tuhan akan mendengarkan doanya.
Berbicara dengan terbata-bata seperti ini sungguh melelahkan. Tak masalah jika tubuh lainnya sudah tak mampu lagi berfungsi dengan baik, tapi izinkan mulut dan tangannya berfungsi dengan baik sampai Brian menyelesaikan semuanya.
Dan untungnya, mukjizat dan kekuatan Tuhan itu ada dan nyata.
" Tapi Anneta sudah memutuskan pertunangan, Om Kenzo juga sudah merestui hubungan kalian. Jadi, buat apa aku tetap di sini? Lagipula, aku tidak mau menjadi pengganti atau cadangan."
Brian tersenyum, lalu menarik nafas dalam-dalam.
" Kamu bukanlah pengganti, tapi pemenang sesungguhnya."
" Jika aku pemenang, lalu kamu apa? "
" Seseorang yang mencintai Anneta, dan pernah berjuang untuknya tapi tak bisa memilikinya. "
" Kamu bisa memilikinya!" pungkas Pangeran.
__ADS_1
Brian menggeleng. " Aku tak bisa, karena restu semesta tak mengizinkan kita untuk bersama. "
" Tapi Anne mana mungkin mau menikah denganku, karena pria yang ia cintai dan ingin nikahi adalah kamu! "
" Untuk bisa mendapatkan seseorang yang kita cintai, pasti butuh sebuah perjuangan. Dan kini, giliran kamu yang berjuang. Sedangkan aku hanya memberikan jalan. "
Setelahnya, Brian bergegas pergi meninggalkan Pangeran. Namun...
" Tunggu! "Pangeran berusaha menghentikan Brian.
" Kenapa Kamu berbuat seperti ini? Dan kenapa kamu seakan sedang memerintahku! "
" Aku tidak memerintah, karena keputusan tetap ada di tangan kamu. Mau atau tidak! "
" Kenapa aku? "
" Karena kamu adalah Tunangan Anne, dan juga pilihan Papa."
Setelah mencari informasi tentang siapa Pangeran hingga membuat Papa Ken rela melepaskan putrinya. Brian juga ikut yakin jika Pangeran adalah pilihan terbaik untuk menggantikannya menjaga Anne. Karena Brian tahu jika Papa Ken tak akan sembarangan dalam memilih pria yang akan menikahi putri kesayangannya.
Ingin rasanya Anne tak percaya dengan cerita yang Pangeran katakan, tapi dari raut wajahnya ia terlihat jujur. Di tambah lagi, Kakaknya juga ikut mengatakan bahwa ini semua benar.
Jadi, yang mengatur pernikahan ini adalah Brian bukan Papanya? Tapi kenapa dia melakukan ini? Bukankah beberapa hari yang lalu dia setuju untuk menikah, tapi kenapa tiba-tiba jadi seperti ini?
" Lalu, dimana Kak Brian sekarang?" tanya Anne saat tak melihat ada pria itu di sana.
Papa Ken, Kean, dan Pangeran saling pandang satu sama lain. Jujur, mereka juga tak tahu dimana Brian berada.
Tiba-tiba, ponsel Kean berdering. Ia pun segera mengecek siapa yang menelpon, dan ternyata Jeremy.
" Siapa, Kak?" tanya Anne.
" Jeremy."
" Anhkat dan loudspeaker," pinta Anne.
Kean pun melakukan permintaan Anne.
" Halo Tuan Kean," sapa seseorang dengan suara serak di ujung telepon.
" Ya, ada apa, Jer?" tanya Kean balik.
Anne yang tak sabar, langsung merampas ponsel itu.
" Jer, mana Kak Brian? "tanya Anne to the point.
"Anneta," lirih Jeremy yang mengenali siapa yang sedang berbicara dengannya saat ini.
" Ya, ini aku. Mana Kak Brian, aku ingin berbicara!"titah Anne.
Jeremy terdiam seakan mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan yang sebenarnya telah terjadi.
" Jer, jawab! Jangan diam saja! "desak Anne.
" Bos ... "Suara Jeremy tertahan, Ia seakan tak mampu mengatakan hal ini. Biasanya, dia adalah pria yang tak berperasaan. Tapi entah kenapa dia jadi pria yang melow seperti ini.
Sementara Anne dan yang lainnya jadi ikut cemas.
" Jer, cepat katakan dimana Brian sekarang. Dia baik-baik saja 'kan? "Mama Dira yang cemas ikut-ikutan berbicara. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba menjadi begitu khawatir dan takut terjadi apa-apa pada Brian.
" Anne, Nyonya, bos ... sudah pergi. "
__ADS_1
...****************...