Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 101 : Mendapat restu?


__ADS_3

" Apakah ini menyulitkanmu, Anne?" tanya Brian dengan tatapan dalam ke arah wanita yang sangat ia cintai.


Anne menggeleng, kemudian memberikan Seulas senyuman tipis guna menutupi perasaannya yang sebenarnya.


" Ini tidak menyulitkan, hanya saja memang butuh kesabaran dan perjuangan untuk meraih sebuah kebahagiaan," kata Anne lembut.


Brian pun ikut tersenyum, lalu mengenggam kedua tangan Anne.


" Terimakasih Anne. Terimakasih karena kamu tetap ingin bersamaku meski tahu apa yang akan terjadi kedepannya."


Anne tersenyum." Anne juga berterimakasih atas perjuangan Kakak selama ini dan maaf jika Anne datang terlambat. Anne janji akan selalu ada di samping Kakak, dan Kakak juga harus berjanji akan bertahan sampai akhir. Jadi, pria hebatku harus selalu optimis jangan pesimis. Dan, percayalah jika akan ada pelangi setelah badai hujan. "


" Namun, ketika pelangi pergi,dia tak bisa berjanji kapan ia kembali lagi,"lanjut Brian dalam hati.


...***...


Di sebuah taman belakang, terlihat dua sepasang paruh baya tengah duduk santai sambil mengobrol bersama tentang kedua anak mereka.


" Dir, "panggil Papa Samuel. Canggung memang memanggilnya dengan panggilan Dira, tapi itulah nama wanita ini yang sesungguhnya.


" Em. " Mama Dira hanya berdehem sambil menyeruput teh hangatnya.


" Menurutmu, apakah suami egoismu itu akan merestui pernikahan Anne dan Brian?" tanya Daddy Samuel membuka pembicaraan.


" Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi, kenapa kamu memanggilnya suami egois?"


" Karena dia begitu egois!"


Mama Dira tersenyum kecut mendengarnya.


" Dulu, aku juga pernah berpikiran seperti itu tapi sekarang ... Setelah mengetahui apa alasan yang membuatnya menjadi seperti ini. Aku jadi bisa mulai mengerti dia. "


" Mungkin, kebersamaanku dengannya tak begitu lama tapi aku cukup mengenal siapa dirinya. Terkadang ia memang terlihat egois, dingin, dan tak berperasaan tapi percayalah jika ia sebenarnya juga sedang berperang dengan dirinya sendiri," papar Mama Dira.


"Maksud Kamu?" tanya Daddy Samuel penasaran.


" Saat ini, kamu hanya melihatnya kekeh tidak merestui hubungan Anne dan Brian 'kan?"

__ADS_1


Daddy Samuel mengangguk. Mama Dira tersenyum tipis.


" Ya, begitulah manusia yang hanya selalu melihat dari luarnya saja tanpa mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam. "


" Kamu percaya tidak, kalau yang berhasil membujuk Prof.Thomas agar mau ikut serta dalam pengobatan penyakit Brian adalah Kenzo dan Lean?"


Deg


Detak jantung Samuel seakan berhenti berdetak. Sebelumnya, Ia memang cukup sulit untuk mengundang Prof. Thomas untuk bergabung, meski dengan iming-iming sebuah imbalan yang sangat besar. Tetapi, entah kenapa tiba-tiba ia bersedia ikut serta dalam pengobatan Brian.


" Jadi___"


" Ya, apa kamu lupa siapa putraku itu?"


"Meski dia tak mau turun tangan langsung, tapi ia masih berusaha untuk membantu mencarikan pengganti yang menurutnya lebih hebat dari dia di dunia ini. Tapi berhasil tidaknya pengobatan Brian, hanya sang pemilik hidup yang tahu."


Setelah mengetahui semuanya, Mama Dira hanya bisa berdoa dan berserah pada sang Maha Kuasa. karena hidup, mati, sehat, sakit rezeki, jodoh, sudah diatur. Kita sebagai manusia hanya bisa berikhtiar dan berdoa, selebihnya Tuhan yang memutuskan.


Sekaya atau sebaik apapun kita, tak akan mampu untuk membeli sebuah nyawa. Karena apa yang kita miliki di dunia hanyalah sebuah titipan, bahkan hidup kita pun hanyalah sementara.


...***...


Dari dua hari yang lalu, Anne dan Brian sudah tidak di perbolehkan untuk bersama agar tunbuh perasaan rindu di dalam hati. Karena terkadang, perasaan rindu itu dapat memperkuat cinta.


Wajah seorang calon pengantin wanita terlihat berseri-seri karena pada akhirnya hati sang ayah luluh juga. Ya, Papa Ken sudah mengatakan bahwa ia akan datang dan akan menjadi wali nikah Anne.


Karena bagaimana pun, Anne adalah putri satu-satunya. Dimana, Ia hanya punya kesempatan sekali ini untuk menjadi wali nikah.


" Sepertinya kamu sangat bahagia sekali, Anne," kata Mama Dira saat melihat wajah putrinya yang berbinar-binar.


" Mama bisa aja." Anne tersipu malu.


" Semoga, ini adalah akhir yang baik ya, Dek," timpal Dinda yang ada di ruangan itu juga.


" Amin, makasih doanya, Kak. "


" Oh, ya. Apa Papa sudah datang?" tanya Anne yang menanyakan keberadaan Papanya. Karena ia takut jika sang Papa tak jadi datang, maka pernikahannya juga akan batal. Pasalnya, Kean tak bisa menggantikan menjadi wali nikah Anne.

__ADS_1


" Kamu mencari Papa, Anne?" ujar suara barinton yang baru masuk ke dalam ruangan itu.


" Papa!" seru Anne yang langsung berlari menghambur memeluk Papanya. Papa Ken pun ikut memeluk erat putri yang sudah sangat ia rindukan.


Beberapa hari tak bertemu, membuatnya sangat rindu pada putri kesayangannya itu.


" Terimakasih karena Papa mau sudah datang, "ucap Anne yang masih dalam pelukan Papanya.


" Ya ... Itu juga karena Papa tidak mau kehilangan putri kesayangan Papa ini, " jawab Papa Ken yang terdengar seperti masih berat untuk melepaskan.


Anne mendongakkan kepalanya agar dapat melihat wajah sang Papa.


" Itu tandanya, Papa lebih menyayangi Anne." pungkasnya dengan tersenyum lebar.


Entah kenapa Papa Ken justru merasa sedih tatkala melihat raut wajah Anne yang tersenyum bahagia seperti ini.


" Kalau Anne sendiri? Lebih sayang Papa atau___"


" Anne menyayangi keduanya!"


" Karena bagi Anne, Papa tetaplah cinta pertama Anne yang posisinya tak akan pernah terganti oleh siapapun. Kalau calon suami Anne, dia akan menempati posisi lain di hati Anne."


Mama Dira pun ikut menghampiri putri dan ayah sang masih berpelukan itu.


" Terimakasih ya, Mas. Akhirnya Mas mau datang dan merestui pernikahan Anne dan Brian, " ucap Mama Dira yang ikut merasa bahagia.


Sementara Papa Ken terlihat seperti sedang memaksakan senyumnya.


" Sama-sama."


Setelahnya, mereka semua keluar untuk pergi menuju ruangan tempat akad akan di laksanakan.


Papa Ken memisahkan diri karena ia akan masuk ke dalam ruangan tempat ijab qabul. Sementara Anne, Mama Dira, dan Dinda berada di ruangan bersatir. Tetapi masih dapat mendengar proses ijab qabul.


Papa Ken terlihat sudah saling berjabat tangan dengan tangan pengantin pria, menandakan bahwa proses ijab qabul akan segera terlaksanakan.


Sepasang mata Anne seketika melebar tatkala mendengar siapa nama pengantin prianya.

__ADS_1


...****************...


Kira-kira, apa yang sedang terjadi guys?


__ADS_2