
" Non," panggil Pak Amar supir sekaligus salah satu Bodyguard Anne.
Anne pun menghentikan langkahnya, lalu menengok kebelakang. " Iya, Pak. Ada apa?"
" Bonekanya Non tadi mau di taruh mana?"
Seketika Anne menepuk keningnya ketika mengingat kembali hadiah-hadiah dari mesin capit.
Setelahnya, Anne meminta pak Damar untuk mengambilkan satu kantong besar boneka itu. Lalu, membawanya masuk kedalam rumah. Bukannya kembali ke kamarnya sendiri, Anne justru pergi ke kamar ABC.
Sampai saat ini, Kean dan Dinda memang masih tinggal di sini karena Mama Dira tak mengizinkan mereka kembali ke rumah sendiri. Padahal, kaki Kean sudah sembuh dari beberapa minggu yang lalu.
Saking nyamannya ada ABC di rumah, membuat Mama Dira dan Papa Ken berat jika di tinggal ketiga cucu mereka yang menggemaskan itu.
Sesampainya di depan kamar triplet, Anne segera mengetuk pintu, dan tak lama kemudian keluarlah suster dari ABC untuk membuka pintu.
" Non Anneta," sapa Suster itu.
" Boleh masuk?" izin Anne dan langsung di persilahkan oleh suster itu.
" Siapa, mbak?" tanya Dinda yang masih sibuk memakaikan baju Baheer atau biasa di panggil B.
" Aunty yang datang...," seru Anne yang terlihat begitu ceria.
Melihat kedua keponakan perempuannya sudah terlihat begitu cantik di sore hari, membuat Anne gemas dan langsung meletakkan tas bawaannya lalu menggendong Abira atau biasa di panggil A. Dia merupakan anak pertama dari Kean dan Dinda.
Saking gemasnya, Anne langsung menciumi pipi gembul Abira. Sementara Ceisya si bungsu, terlihat memperhatikan Kakak pertamanya yang di gendong oleh Auntynya.
__ADS_1
" Kenapa? C juga mau di gendong sama Aunty?" tanya Anne pada keponakannya itu.
" Yaudah sini, Aunty gendong juga." Anne pun mengambil C yang sedang bersama susternya.
" Masya Allah, kalian makin embul aja ya," ujar Anne yang sedikit kewalahan saat menggendong kedua keponakannya bersamaan.
" Udah pantes Anne," goda Dinda yang tengah menggendong Baheer.
" Tentu saja pantes dong, kan Abira sama Ceisya memang sedikit mirip sama Aunty ya 'kan? " timpal Anne meminta tanggapan pada kedua keponakannya yang baru berusia 10 bulan.
Mungkin karena masih ada hubungan darah sehingga kedua gadis kecil itu memang sedikit mirip dengan Anneta waktu kecil. Meski tak mau mempunyai adik, Anne sebenarnya sangat suka anak kecil dan begitu dekat dengan keponakan-keponakannya. Bahkan, Anne sering datang berkunjung ke rumah Kean dan Dinda dengan membawakan begitu banyak mainan dan baju-baju yang imut - imut untuk ketiga keponakannya.
" Aunty bawa apa itu?" tanya Dinda ketika menyadari Anne yang membawa sebuah plastik besar.
" Oh, ini boneka hasil dari main mesin capit buat Abira sama Ceisya."
" Wow, Aunty lagi habis dapat jackpot, ya."
" Tapi siapa autny?" tanya Dinda yang terlihat kepo.
" Oh, Ya A, C aunty udah capek gendong kalian berdua. Jadi, turun ya." Anne sengaja mengalihkan pembicaraan agar tak di tanya macam-macam. Sebelum pergi, Anne masih mengambil satu boneka yang di dapatkan Pangeran untuk pertama kalinya. Melihat tingkah Anne yang cukup aneh dan mencurigakan, membuat Dinda mengerti jika ada yang tengah di sembunyikan oleh adik iparnya itu.
" Sepertinya, sebentar lagi kalian akan punya Uncle baru deh," tebak Dinda.
***
Di sebuah balkon kamar, terlihat sepasang suami istri yang sedang ngeteh bersama sambil menikmati angin sore.
__ADS_1
" Mas," panggil Mama Dira saat menyadari suaminya yang terus saja diam sepulang dari perjalanan dinasnya.
" Iya, sayang ada apa? "
" Seharusnya aku yang tanya gitu, Mas kenapa? Apa pekerjan di sana sedang tidak berjalan dengan lancar?" tanya Mama Dira yang melihat jika suaminya seakan sedang banyak beban pikiran.
Alih-alih memikirkan pekerjaan, Papa Ken justru terus kepikiran dengan pembicaraannya bersama Lean tadi siang.
" Bukannya Lean tak mau membantu, Pa. Tapi, kondisi sekarang jauh berbeda dengan yang dulu. Selain Kanker Arstositoma tingkat tiga yang bermutasi menjadi Glioblastoma, status Brian dalam keluarga juga sudah tak seperti dulu."
" Dulu, dia hanyalah anak dari pria yang menyelamatkan Mama. Tapi sekarang? Dia juga merupakan orang yang sangat di cintai oleh Anne. Meski mereka sudah putus, tapi Lean masih bisa melihat jika cinta Anne pada Brian belum berubah. Jadi, beban dalam diri Lean akan semakin berat. "
" Dimana Lean harus__ " Lean seakan tak sanggup lagi untuk mengeluarkan kata-katanya. Mungkin, selama ini banyak yang menganggap bahwa Lean egois karena tak menyetujui adiknya bersama dengan pria yang berpenyakitan. Atau, dia seakan mematahkan kebahagian orang lain yang tengah butuh penyemangat.
Tetapi, di balik semua itu ada cerita dan perasaan yang begitu menyesakkan yang tengah ia rasakan. Di usia delapan tahun, Lean harus kehilangan sang Mama karena sebuah kejadian tragis. Di usia tujuh belas tahun, untuk kedua kalinya dia harus kehilangan seseorang yang begitu berarti dalam hidupnya. Saat itu, Lean masih dalam masa belajar menjadi seorang Dokter sehingga ia belum bisa membantu menyembuhkan Omanya yang saat itu juga terserang penyakit kanker.
Tak hanya berhenti di situ, meski ia terkenal sebagai dokter bedah yang sangat handal di negeri ini, tapi Lean juga hanyalah seorang manusia biasa. Dimana, Ia juga mengalami banyak kegagalan hingga harus menyaksikan para pasiennya meninggal di meja operasi, atau di ranjang pasien setelah menjalani rangkaian pengobatan. Jadi, Ia seakan takut jika nantinya tak bisa berhasil menyembuhkan Brian seperti dulu. Bagaimana nanti dia akan menghadapi Anne dan Mamanya? Maka dari itu, Lean memilih untuk tidak membantu karena ia sedang dalam keadaan tak yakin bisa. Lagipula, perkembangan medis di luar negeri jauh lebih bagus, jadi biarkan mereka saja yang membantu. Toh, Brian juga berasal dari keluarga kaya raya sehingga tak sulit jika ingin mendapakan dokter medis yang jauh lebih hebat darinya untuk membantu mengobati penyakit itu.
" Mas!" Mama Dira kembali memanggil suaminya yang sedari tadi justru hanya diam saja.
" Sayang, Mas sangat capek sekali. Jadi, mau istirahat dulu ya." Papa Ken mencoba mencari alasan agar istrinya tak banyak bertanya. Jujur, saat ini dia belum siap untuk mengatakan soal bagaimana kondisi Brian.
" Tapi, Mas ... Ini sudah sore gak boleh___ tidur, "lirih Mama Dira yang tak dihiraukan oleh Papa Ken.
Dahi Mama Dira terlihat berkerut tatkala memperhatikan sikap suaminya yang begitu aneh.
" Apa yang sebenarnya terjadi? "gumam Mama Dira sembari mencoba menerawang dan menebak-nebak kemungkinan yang tengah dialami oleh suaminya.
__ADS_1
" Apa jangan-jangan, Mas Ken beneran sudah bosan? "
...****************...