Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 12 : Cinta dalam diam


__ADS_3

" Kak ... Kak Brian ..." panggil Anne saat melihat Brian hanya diam saja sejak tadi. Bahkan sampai makanannya pun belum ia sentuh.


" Iya, ada apa?" tanya Brian bingung.


" Makanannya jangan dianggurin lama-lama, kasihan dia mai segera di makan," canda Anne seraya menunjuk makanan Brian.


" Oh, iya."


Brian hanya bisa menghembuskan nafas panjang tatkala apa yang ia bayangkan sejak tadi, tidak terjadi secara nyata.


Anne ... Jika kamu tahu kalau aku menyukaimu dalam diam, apakah kamu akan tetap bersikap seperti ini saat bersamaku? Atau justru menjauh?


Meskipun jarang bersama, diam-diam Brian sering mencari tahu soal Anne. Jadi, dia tahu kalau Anne belum pernah menjalin sebuah hubungan dengan seorang pria.


" Anne, boleh aku bertanya sesuatu?"


" Boleh," jawab Anne dengan tersenyum.


" Emm ... sepertinya tidak jadi."


"Kak Brian!" kesal Anne saat Brian mulai iseng kembali.


" Katakan atau aku akan marah sama kakak!" ancam Anne. Namun, Brian hanya menggeleng dan melanjutkan makannya. Membuat Anne semakin merasa kesal, dia adalah tipe orang yang tidak suka di buat penasaran.


" Membuat orang penasaran itu, nanti bisa bintitan lho! " ketus Anne yang asal nyeplos. Entah, dapat kalimat dari mana, intinya kata itu yang spontan melintas dalam pikiran Anne.


" Apa itu?" tanya Brian dengan dahi berkerut.


" Tau, ah. Pokoknya cepat bilang atau___" Anne sudah bangun dari tempat duduknya bersiap untuk pergi.


"Oke ... Oke ... duduklah," ujar Brian dengan tangan yang menyuruh Anne untuk duduk kembali.


Setelah melihat Anne duduk kembali ke tempatnya, Brian mulai membuka pembicaraan.


"Begini, misalnya ... jika ada seorang pria yang menyukaimu. Tapi, kalian berbeda keyakinan, apakah kamu akan menerimanya?" tanya Brian dengan wajah serius. Begitupun dengan Anne yang antusias mendengarkan.


" Beda keyakinan?" ulang Anne dan di angguki oleh Brian.


" Tergantung, "jawab Anne singkat.


" Hanya begitu? "tanya Brian memastikan lagi. Masak iya, Anne hanya menjawab dengan satu kata tergantung? Tidak ada penjelasannya lagi?


Anne tersenyum.


" Lagian ... Kenapa Kakak bertanya seperti itu? Apa jangan-jangan kakak suka dengan gadis beda keyakinan ya ... " goda Anne semvari menggoyangkan garpu ya ke arah Brian.

__ADS_1


Beginilah Anne, selalu saja bercanda jika di ajak serius.


" Jelaskan dulu jawabanmu tadi," desak Brian. Sedangkan Anne hanya mencebik.


" Ya ... Tergantung karena kita itu hidup di dunia yang penuh dengan perbedaan sehingga tidak dapat di pungkiri jika akan ada hal seperti itu terjadi. Untuk aku pribadi, no problem. "


" Jadi kamu akan menerimanya?" tanya Brian yang masih bingung dengan jawaban Anne.


" Em ... Bisakah jika tidak membahas soal itu?"


" Why? "


" Karena____" Anne jadi bingung mau menjawab apa. Jangankan menerima yang beda keyakinan, yang sesama saja belum pernah.


Melihat Brian yang seperti sedang menunggu jawaban darinya, membuat Anne menjawab sebisanya saja. Toh, Brian juga kakaknya sendiri.


" Jika aku tidak menyukainya tentu akan aku tolak."


" Jika kamu mencintainya?"


" Mungkin bisa di bicarakan. sudahlah ... Jangan membahas soal seperti itu karena sangat sensitif," tukas Anne dengan wajah yang mulai tidak nyaman.


Apa arti dari kata bisa di bicarakan?


Selesai makan, Brian segera mengantarkan Anne pulang ke rumah. Sedangkan ia, harus bertemu dengan seseorang.


Keesokan paginya, selesai bersiap-siap. Anne segera turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama dengan Papa Mamanya.


" Selamat Pagi, Ma ...," sapa Anne seraya menarik sebuah kursi untuk ia duduki.


" Selamat pagi juga sayang," sahut Mama Dira. Melihat anak dan Ayah yang masih perang dingin, tanpa saling sapa satu sama lain. Membuat Mama Dira merasa canggung dan aneh. Pasalnya, mereka tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.


" Di hari weekend kok kamu sudah rapi sekali, Anne? Mau kemana?" Mama mencoba membuka pembicaraan agar suasana di meja makan lebih mencair sedikit.


" Oh, mau ke tempat pameran dong, Ma. Hari ini akan ada tur dari anak-anak sekolah seni," ujar Anne.


" Kok ke tempat pameran lagi? Memangnya kakimu sudah tidak tidak sakit buat beraktivitas terus-menerus?"


" Enggak kok, Ma. Lagian, banyak beraktivitas itu justru akan memacu otot-otot dan persendian agar tidak kaku. Jadi, Mama nggak usah khawatir."


" Beneran? " tanya Mama Dira yang sedikit ragu.


Anne mengangguk." Iya, Ma. Jadi, Mama Nggak usah terlalu cemas. Lagian, Anne tidak bekerja keras atau banyak gerak kok. Hanya menyambut kedatangan mereka saja. " Anne mencoba mencari alasan agar Mamanya tak terlalu cemas dan menghalangi dirinya untuk pergi.


Selesai Makan, Mama Dira terus memberi kode agar Papa Ken segera memberitahu keputusannya agar hubungan mereka kembali seperti semula. Sejak penolakan Papa Ken beberapa hari lalu, serta tak ada pembicaraan yang mengarah tentang persetujuan kuliah ke luar negeri, Anne jadi bersikap lebih dingin.

__ADS_1


" Anne," panggil Papa Ken tatkala Anne baru beranjak dari tempat duduknya.


"Ada apa, Pa?"


" Bisakah duduk sebentar? Ada yang ingin Papa bicarakan," pinta Papa Ken.


Anne sedikit ragu antara duduk atau pergi karena dia sudah waktunya untuk berangkat ke tempat pameran. Saat melihat Anne sedikit bingung, Mama dira segera memberi kode dengan matanya agar Anne duduk.


" Memangnya mau bicara apa, Pa? Soalnya Anne sudah buru-buru. Kalau___"


" Apa kamu masih mau ikut pertukaran mahasiswa itu?" sela Papa Ken.


Mendengar kata pertukaran mahasiswa, membuat Anne seketika mengangguk.


" Kalau kamu masih mau, silahkan duduk dulu." Anne segera duduk kembali ke kursinya.


Melihat tingkah Anne yang begitu patuh , membuat Papa Ken ingin tertawa.


" Setelah Papa pikir-pikir kembali, Papa akan___" Papa Ken sengaja mengehentikan ucapannya agar sang putri menunggu terlebih dulu. Dan benar saja, Anne terlihat sangat antusias mendengarkan dan menunggu kelanjutan ucapannya.


"Akan apa, Pa?" tanya Anne yang sudah penasaran dengan keputusan Papanya. Semoga, keputusan itu adalah kabar gembira.


" Papa akan mengizinkan kamu ikut tapi___


" Hore ... " sorak Anne tanpa menunggu Papa Ken menyelesaikan ucapannya. Anne segera berjalan menghampiri Papa Ken dan menghujani wajahnya dengan ciuman bertubi-tubi. Anne sudah seperti orang yang mendapatkan jackpot. Sedangkan Mama Dira hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat tingkah menggemaskan putrinya serta wajah pasrah suaminya.


"Anne ... Berhenti! Wajah Papa bisa kusut!" titah Papa Ken agar sang putri berhenti menciumnya.


Melihat wajah Papa Ken penuh dengan noda bekas lipstik membuat Anne dan Mama Dira tertawa bersama.


" Kenapa kalian tertawa sampai segitunya? Apa ada yang lucu?"tanya Papa Ken yang masih dalam mode bingung. Sedangkan Mama dira dan anne mengangguk bersama.


" Sudah, jangan ketawa lagi. Kamu boleh mengambil program itu, tapi dengan syarat! " tukas Papa Ken.


" Kenapa masih ada syaratnya sih, Pa? "rengek Anne. Wajah bahagianya seketika menjadi cemberut.


" Ya ... Kamu mau apa tidak? Kalau tidak ya...


" Mau ... Mau ...," potong Anne yang tidak ingin kehilangan kesempatan langka itu.


" Papa akan setuju asalkan ada seorang asisten sekaligus bodyguard untuk menjaga kamu di sana selama 24 jam! " Semua itu, Papa ken lakukan juga demi kebaikan dan keselamatan Anne. Dia tahu bahwa putrinya itu belum pernah hidup sendiri, apalagi di negeri orang.


" Apa?! " teriak Anne yang terkejut tatkala mendengar syarat dari Papanya. Padahal, Anne sudah berangan-angan untuk bisa hidup mandiri dan bebas. Namun, semua angan-angan itu seakan sirna tatkala mendengar kata asisten sekaligus bodyguard yanga akan menjaganya selama 24 jam.


" Anne tidak salah dengar 'kan, Pa?" Anne mencoba memastikan kembali.

__ADS_1


Papa Ken menggeleng yang menandakan bahwa dia serius dengan ucapannya. Tubuh Anne seketika melemas, ia melirik ke arah Mamanya seakan minta bantuan. Namun, Mama Dira justru memberikan kode bahwa dia harus setuju.


...****************...


__ADS_2