
" Mama kamu hanya belum punya menantu laki-laki."
" Anne, jika sudah mendapatkan yang Seiman, baik, dan nyambung ketika diajak ngobrol. Kenapa harus menunggu seseorang yang tak pasti akan datang kembali atau tidak?"
"Jangan berharap pada sesuatu yang belum pasti karena nanti akan sangat menyakitkan jika tak sesuai ekspektasi."
" Anne, jika kamu masih ragu dan bimbang. Mari sama-sama sholat istikharah untuk meminta petunjuk pada sang pemberi hidup. Karena petunjuk-Nya tak pernah salah. "
" Anne, biarkan semuanya berjalan layaknya air yang mengalir."
Semua perkataan-perkataan yang pernah Anne dengar, tiba-tiba berputar kembali bagikan kaset rusak.
Anne menutup matanya, jawaban dari sholat istikharahnya seakan terlintas kembali. Namun, Anne belum bisa menyimpulkan secara pasti apa potongan-potongan petunjuk itu.
" Anne ...,"
Anne kembali membuka matanya seakan mencari jawaban dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Tapi, apa yang Anne lihat saat ini hanyalah beberapa orang yang tengah menunggu jawabannya.
" Apa Papa menyetujui niat baik Pangeran?" alih-alih menjawab, Anne justru meminta jawaban dari Papanya.
Papa Ken tersenyum. " Bukankah perkataan Papa tadi sudah sangat jelas, Anne? Tapi, persetujuan Anne lebih penting."
Nala memegang tangan Anne. " Anne ikuti saja kata hati kamu," saran Nala.
"Bismillahirrahmanirrahim. Semoga ini awal yang baik," batin Anne dalam hati sebelum melanjutkan jawaban tentang niat baik Pangeran.
" Aku menerima."
Duar
Mama Dira dan Kean seakan tersambar petir di sore hari tatkala mendengar jawaban Anne yang menerima niat baik Pangeran. Sedangkan yang lainnya terlihat tersenyum dan merasa lega.
Pangeran segera mengeluarkan sebuah cincin berlian yang sudah ia siapkan. " Kalau begitu, bolehkah aku mengikat kamu dengan cincin ini, Anne?"
" Tunggu! Anne, kamu___" Lean langsung membekap mulut Kean yang hampir saja mengacaukan acara.
Begitupun dengan Mama Dira yang ingin sekali menghentikan, namun, Ia sudah berjanji akan mengikuti jika Anne setuju.
"Mama harus menepati janji!" lirih Papa Ken yang memegangi tangan istrinya.
Kean berusaha melepaskan diri dari bekapan tangan Lean.
" Kak Kean mau bicara apa?"
" Jangan mengacaukannya, Kak!" bisik Lean yang tahu apa rencana Kean.
" Sudah, Pangeran berikan cincin itu pada Nala. Biar dia yang memakaikan pada Anne," titah Papa Ken.
Nala pun segera mengambil kotak cincin itu, lalu memakaikannya di jari manis Anne.
" Anne ..., " seru Kean yang tiba-tiba terhenti ketika cincin itu sudah terpasang di jari manis adiknya.
" Kakak kenapa? " Anne kembali bertanya.
__ADS_1
" Apa Kamu yakin dengan keputusanmu ini?" tanya Kean yang membuat Anne bingung.
" Maksud Kakak apa?"
" Kean berhenti!" titah Papa Ken dengan memasang wajah dingin.
Kean menyeringai, Ia merasa sangat lucu sekali dengan keluarganya yang sudah tak lagi kompak seperti dulu. Begitu banyak kebohongan hanya karena perbedaan pendapat.
"Anne, apa kamu ingat saat Kakak meminta rekaman suara kamu untuk teman Kakak yang merupakan penggemarmu?"
Anne mengangguk.
" Dia Brian!" tandas Kean.
Pupil mata Anne seketika melebar tatkala mendengar ucapan Kean. Anne ingat betul hari itu, dimana Kean yang meminta rekaman suaranya untuk temannya. Tetapi, saat itu Kean mengatakan kalau temannya sedang sakit parah, dan butuh penyemangat. Jika itu Brian, berarti ....
" Apa yang terjadi dengan Kak Brian, Kak?" tanya Anne.
" Kean, Anne. Kalian membicarakan apa? Ingat, di sini masih ada Pangeran, Papi Rian, Mami Senja dan yang lainnya. Jadi tolong hargai mereka, jika ingin bicara nanti saja!" pinta Papa Ken.
Kean yang tak mau memperlihatkan ketidakharmonisan keluarganya di depan orang banyak, akhirnya memutuskan untuk diam. Toh, Anne juga sudah menerima lamaran itu. Awalnya, Kean mengira bahwa Anne akan menolak karena ia tahu betul jika adiknya belum bisa melupakan Brian. Tapi, siapa sangka jika Anne justru menerima lamaran pria lain. Begitupun dengan Papa Ken, Lean, dan yang lainnya juga terlihat begitu mendukung Pangeran. Mungkin, di sini hanya dirinya saja yang tak menyetujui hal ini.
Kean tak setuju bukan karena Pangeran buruk, dia baik tapi ada pria lain yang sedang berjuang di sana. Berjuang untuk tetap hidup dan belajar untuk menjadi seorang mualaf.
Sepeninggal Pangeran, Nek Ratu dan anak-anak. Anne segera mencari Kean karena ia sedang penasaran dengan satu hal.
" Kak," panggil Anne.
" Ada apa?"
" Untuk apa kamu bertanya? Bukankah kamu sudah menerima lamaran Pangeran? Jadi, jangan memikirkan pria lain!" tandas Kean yang berlalu pergi. Namun, Anne justru mencekal tangannya.
" Kakak kenapa? Apa Anne ada salah? Atau Kakak tidak suka dengan keputusan Anne tadi? "
Kean mencoba untuk tersenyum." Jika Anne memang sudah bahagia dengan dia, maka Kakak hanya bisa memberi selamat." Kean melepaskan cekalan tangan Anne, lalu pergi meninggalkan adiknya.
Jujur, Kean saat ini benar-benar bersalah pada Brian karena tak bisa mencegah Anne untuk menerima lamaran pria lain.
" Bri, Maafkan Kakak," lirih Kean dengan penuh rasa bersalah karena telah gagal membantu Brian dalam memperjuangkan cintanya.
...***...
Di dalam kamar, Anne kembali menatap cincin yang sudah tersematkan di jari manisnya. Alih-alih merasa bahagia karena akhirnya dilamar oleh seseorang, Anne justru merasa ada yang mengganjal dalam hatinya. Seperti ada rasa bersalah, menyesal, bingung bercampur menjadi satu.
" Ada apa dengan diriku ini?" gumam Anne.
Tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Anne.
📩 Pangeran
[Apakah calon istriku sudah tidur?]
📨 Anne
__ADS_1
[ Ini mau tidur]
📩 Pangeran
[ Cuek sekali jawabannya] tak lupa pula Pangeran menambahkan emoticon sedih.
📨 Anne
[ Maaf, aku belum terbiasa dengan kamu]
📩 Pangeran
[ Tidak apa-apa, nanti juga akan terbiasa. Kalau begitu, selamat tidur calon istriku]
Bukannya membalas, Anne justru membiarkan pesan itu begitu saja.
...***...
Di belahan dunia lain, terlihat seorang pria yang tengah menjalani kemoterapi untuk keempat kalinya. Demi mengurangi rasa bosannya, Ia mencoba bermain ponsel dan membuka sosial media.
Ketika baru saja melihat media sosial Anne, betapa terkejutnya ia saat melihat ada sebuah postingan yang tak pernah ia duga akan terjadi.
Sebuah foto jari tangan yang ia kenali siapa pemiliknya, dengan sebuah caption.
" Alhamdulillah, One step closer. Terimakasih karena sudah mau menerimaku untuk menjadi bagian dalam hidupmu."
Dada Brian seketika bergemuruh ketika melihat postingan itu. Ia seketika mencari jawaban lewat komentar yang ada.
@Kinara. Anne, apa kamu akan menikah?
@Cantika Anneta ... Apa kamu di lamar?
@Dita Wah, Congrats Anne. Semoga lancar sampai hari H. Tapi kok nggak nyebar undangan kalau lamaran?
@Damian Apa ini serius! Bukan mimpi? Patah hagi aku Anne...
@Dita. Ya, kasihan Bambang potek dah tu hati gara-gara di tinggal nikah.
Brian mencoba melihat akun yang menandai Anne postingan itu. Namun, Ia tak menemukan foto yang menunjukkan siapa pria itu. Anne juga tak terlihat online, sepertinya dia sudah tidur. Pasalnya, gadis itu selalu tidur tepat waktu.
" Jer," panggil Brian dengan kepala yang kembali berdenyut
" Ada apa, Bos?" tanya Jeremy.
" Cari tahu tentang siap pemilik akun itu!" Brian menyodorkan ponselnya pada Jeremy.
" Apakah Anne akan menikah, bos?" Jeremy justru bertanya pada Brian, membuat Pria itu semakin emosi.
" Tidak! Mana mungkin Anne menikah dengan pria lain. Dia masih mencintaiku! Masih mencintaiku! "tandas Brian yang tak percaya jika Anne akan menikah dengan orang lain. Pasalnya, baru kemarin ia melihat postingan Anne yang menunjukkan bahwa dia masih belum bisa melupakannya.
Kean pun berkata seperti itu, jika Anne masih mencintainya. Jadi, mana mungkin Anne menikah dengan pria lain.
Selama ini, orang yang membantu memberikan buku-buku tentang islam pada Brian adalah Kean. Hanya dia satu-satunya yang selalu membantunya untuk berjuang agar bisa bersama Anne, meski tahu jika ia sakit.
__ADS_1
" Aaa ...," Brian kembali berteriak kesakitan, membuat Jeremy panik dan segera memanggilkan Dokter.
...****************...