
" Bi, gimana kalau kita makan di restoran itu saja?" ajak seorang wanita yang bernama Alisha.
Abi menghela nafas panjangnya. " Bisakah kita pulang saja?" usul Abi yang sudah malas sekali dengan wanita pilihan Mamanya. Akibat tak kunjung menikah diusianya yang sudah menginjak 28 tahun, membuat Abi terus di desak agar segera menikah dan mempunyai anak. Apalagi setelah mendengar Lean sahabatnya kini sudah memiliki anak yang begitu lucu, memicu Melisa sang Mama semakin ingin memiliki cucu.
Sementara Abi, tak pernah bisa memberikan kepastian ketika di tanya soal mana wanita yang ia gadang-gadang akan menjadi istrinya. Tentu saja belum bisa memberikan jawaban yang pasti, karena sampai sekarang dia tak kunjung bisa mendapatkan hati gadis itu.
Bahkan, beberapa waktu lalu ia mendengar bahwa gadis itu sudah memiliki kekasih, menyebabkan Abi patah hati.
" Kok pulang sih?! Kita 'kan tadi hanya jalan, dan belanja aja. Belum juga makan, masak udah pulang!" protes Alisha yang tak mau segera pulang. Pasalnya dia masih menikmati waktu kebersamaannya bersama pria yang telah di jodohkan dengannya.
" Baiklah, setelah makan kita pulang. Karena aku ada shift sore, " tukas Abi yang membuat Alisha tersenyum bahagia. Setelahnya, mereka berdua masuk ke restoran yang di pilih oleh Alesha.
Ketika baru memasuki restoran dan mencoba mencari meja kosong, tiba-tiba Abi melihat seseorang yang ia kenal juga berada di tempat ini. Melihat wanita itu bersama seseorang yang terlihat asing baginya, membuat Abi penasaran dan mencoba menghampiri.
" Anne," panggil Abi.
Mendengar ada seseorang yang memanggilnya, tentu membuat Anne menengok untuk melihat siapa orang itu.
" Kak Abi," seru Anne yang terlihat terkejut tatkala berpapasan dengan Abi.
" Bi, kamu kenapa suka sekali tiba-tiba pergi dan jalan sendiri, sih! Lupa ya, kalau sekarang lagi pergi sama___" Alisha tak melanjutkan omelannya ketika melihat raut wajah Abi yang tiba-tiba berubah menjadi dingin.
" Siapa, Bi?" tanya Alisha dengan menoel lengan Abi.
" Gak nyangka ya, bisa ketemu Kak Abi di sini," ujar Anne basa basi.
" Kalian saling kenal?" tanya Alisha lagi ketika belum mendapatkan jawaban dari Abi.
" Iya, Aku adik sahabatnya Kak Abi. Kalau Kakak___" Anne menatap ke arah Alisha.
" Oh, perkenalkan." Alisha mengeluarkan tangannya pada Anne, dan langsung di sambut oleh gadis itu. " Aku Alisha, calon istri Abi," terang Alisha.
" Anneta." Tanpa sadar, ada seseorang yang terus memperhatikan interaksi mereka.
" Jadi, namanya Anneta."
"Oh, ya? Selamat ya Kak Abi, akhirnya mau menikah juga." mendengar Anne yang terlihat begitu bahagia ketika memberikan selamat padanya yang akan menikah, membuat hati Abi semakin sakit. Dari raut wajah itu, terlihat jelas bahwa selama ini Anne memang tak pernah ada rasa sedikitpun padanya.
" Makasih. "
" Kamu sendiri kapan?" entah kenapa pertanyaan ini yang justru keluar lebih dulu dari mulutnya.
" Huh?" Anne terlihat bingung sekaligus kaget.
" Lupakan! Dia siapa Anne?" Abi mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Oh, Dia___" Anne terlihat bingung dan sedikit ragu untuk memperkenalkan Pangeran.
" Saya Pangeran, teman Anne," jawab Pangeran.
" Wah, namanya unik ya," lontar Alisha. Sementara Pangeran hanya bisa tersenyum tipis.
Mengingat ini waktunya jam makan siang, membuat meja makan di restoran cepat sekali penuh. Jadi, mau tidak mau mereka berempat makan siang dalam satu meja jika ingin makan di restoran ini.
" Ini, beneran gapapa, kita satu meja," ujar Alisha yang merasa kurang enak. Takutnya, dia menganggu makan siang Anne dan Pangeran.
" Gapapa kok Kak, santai aja. Lagian, seharusnya Anne yang bertanya. Kakak nyaman nggak, makan berempat di saat sedang kencan? "goda Anne yang tiba-tiba keluar mode julidnya.
__ADS_1
" Aku sih nyaman aja, justru makin asyik karena seharian ini Abi lebih banyak diamnya, "ujar Alisha sedikit berbisik pada Anne.
" Oh, ya? Kok tumben Kak Abi pendiam! " Anne langsung menutup mulutnya karena sudah keceplosan.
" Tumben? "ulang Alisha yang terlihat bingung.
" Anne ..., " seru Abi dengan tatapan penuh peringatan. Meski hatinya sakit, Abi tetap berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja di depan Anne.
Abi tak ingin, hubungan baiknya dengan Anne rusak dan menjauh layaknya orang asih hanya karena masalah cinta sepihak. Toh, mencintai bukan berarti harus memiliki. Lagipula sudah cukup lama Abi mengejar Anne, tetapi selalu saja di tolak, di tolak, dan di tolak.
" Memangnya kenapa? "tiba-tiba Alisha berubah menjadi kepo ketika melihat interaksi Abi dan Anne yang seperti tak biasa.
" Gapapa kok Kak Alisha. "
" Oh, ya. Kalian kenal sudah lama? "
" Belum, masih beberapa hari yang lalu " jawab Pangeran.
" Oh, pantes aja aku belum pernah lihat kamu," tukas Abi yang terkesan sangat mengenal teman-teman dan orang di sekeliling Anne.
Melihat Anne yang seperti kesulitan saat memotong steak, membuat Pangeran memberikan steak miliknya yang telah selesai di potong. Meski terlihat seperti sedang berbicara dengan Abi, ternyata Pangeran cukup memperhatikan orang di sekitarnya.
" Makanlah, lagian sama," ucap Pangeran saat melihat Anne yang hanya diam saja.
Kejadian ini, seakan mengingatkan Anne pada seseorang yang selalu memotongkan daging steak untuknya.
" Wah ... Pangeran sweet sekali ...," seru Alisha yang membuat Anne salting.
" Bi, kamu tidak mau memotongkan daging steak milikku?" ujar Alisha yang iri melihat keromantisan Anne dan Pangeran. Padahal, hubungan mereka hanya sekadar teman yang baru kenal tapi sudah sweet begitu.
" Bukankah makanan kita berbeda," tandas Abi dingin. Sementara Alisha semakin kesal di buatnya. Ia benar-benar tak mengerti kenapa Abi begitu dingin padanya, padahal Mama Melisa mengatakan bahwa Abi itu humoris, ramah, banyak bisacara, dsb. Tapi kenapa tiba-tiba menjelma menjadi pria dingin dua pintu? Bahkan, Anne tadi juga terlihat terkejut saat mendengar ia mengatakan bahwa Abi itu pendiam.
" Alisha mau saya potongin," tawar Pangeran yang merasa iba dengan wanita itu.
" Gak perlu, Aku bisa sendiri," tolak Alisha.
Setelahnya, hanya ada keheningan diantara keempat orang itu sampai seorang pelayan datang untuk memberikan bill pembayaran.
" Totalnya .... Siapa yang mau bayar?" tanya sang pelayan.
" Biar saya saja, mbak. "
" Saya saja, mbak. "
" Saya. "
Ketiga orang itu, terlihat berebut untuk membayar bill makanan dengan sudah mengeluarkan kartu masing-masing. Sementara Alisha hanya diam saja mengamati.
" Orang kaya mah, beda!"
" Jadi, siapa ya?"
" Biar aku aja, ya ..hitung-hitung traktiran sebagai perkenalan kita," ujar Pangeran.
" Tapi__" Anne terlihat tak nyaman jika harus makan di bayari oleh pria asing. Begitupun dengan abi. Tapi, keduanya akhirnya mengalah ketika Pangeran kekeh ingin membayar.
" Anne, kamu pulang sama siapa?" tanya Abi sebelum pergi.
__ADS_1
" Biasa, Kak. Ada supir," jawab Anne.
" Oh, kalau begitu. Kita pulang duluan, ya," pamit Abi. Begitupun dengan Alisha yang berpamitan ala wanita dengan Anne.
" Nanti, jangan lupa kirimi undangannya, ya ... Kak. "
" Siap. "
" Kak Abi," panggil Anne pada pria berusia dua puluh delapan tahun itu.
" Iya, ada apa Anne? "
" Jaga dan cintai yang ada, jangan di sia-siakan hanya karena mengharapkan sesuatu yang belum pasti."
Abi terlihat terdiam, mencoba mencerna setiap kata yang di ucapan oleh gadis cantik sang pemilik hatinya. Setelahnya, Abi hanya mengangguk. Lalu, pergi.
" Kalian sebelumnya ada hubungan apa? "tanya Pangeran penasaran.
Dahi Anne berkerut." Hubungan apa? "Anne justru kembali bertanya.
" Oh, kalau begitu lupakan! " Ucap Pangeran pada akhirnya yang tak mau terlalu ikut campur. Apalagi mereka baru saja kenal.
Sementara Anne hanya bisa geleng-geleng kepala seraya menatap kepergian Alisha dan Abi yang mulai menghilang dari pandangan. Jujur, Anne senang melihat Abi akhirnya bisa bersama dengan wanita lain. Setidaknya, rasa bersalah Anne berkurang karena sudah membuat Abi terus menunggu dan mencintainya yang tak kunjung bisa membalas perasaan pria itu.
Terkadang, hati itu lucu dan sulit di pahami. Kita pun tak bisa mengatur dan memaksanya untuk bisa berlabuh pada siapa. Di saat ada seseorang yang Seiman serta tulus mencintai kita, hati malah berkata tidak dan justru mencintai seseorang yang seperti mustahil untuk bisa bersama.
" Sky ... Eh, maksudnya Anne ...," panggil Pangeran ketika melihat Anne yang diam membisu.
" Iya, ada apa?"
" Bisa kita berkenalan lagi? Aku Pangeran, panggil saja Ran." Pangeran mengulurkan tangannya.
Anne tersenyum tipis, lalu mendekap kedua tangannya di depan dada, membuat Pangeran menarik lagi uluran tangannya. " Aku Anneta."
" Anneta," ulang Pangeran.
Anne mengangguk.
" Nama yang cantik seperti orangnya, "puji Pangeran yang membuat Anne sedikit tersipu.
" Kalau begitu, apakah nona muda Anneta masih ada waktu luang? "lanjutnya.
" Kenapa memanggilku nona muda? "tanya Anne bingung.
Bukannya menjawab, Pangeran justru memberikan kode agar Anne menoleh kearah dimana ada dua orang Bodyguard yang terus mengintai mereka.
Anne hanya bisa menghela nafas berat sambil menahan rasa malu karena ketahuan jika ia selalu di pantau oleh dua orang Bodyguard. Padahal, Anne sudah menyuruh mereka untuk pergi jauh-jauh agar tak terlihat.
" Terlalu mencolok, ya," lirih Anne.
Pangeran tersenyum. " Lumayan sih! Kalau begitu, apakah akan sulit untuk mengajak nona muda ini ?" Pangeran kembali bertanya.
"Mengajak ke kemana?"
"Ke suatu tempat untuk bernostalgia," jawab Pangeran.
" Bernostalgia?" ulang Anne yang terlihat bingung dengan ucapan Pangeran yang ambigu dan rahasia.
__ADS_1
...****************...