
Papa Ken menghembuskan nafas panjangnya, entah kenapa berbicara soal hati dan keyakinan terasa begitu berat.
" Kenapa Kamu masih bertanya? Apa sebelumnya Anne tak pernah membahas hal ini?" Papa Ken justru menjawab dengan sebuah pertanyaan karena ia tahu Anne dan Brian pasti tahu jika mereka itu berbeda. Berbeda dalam sebuah keyakinan yang dianut.
Brian terlihat tertunduk sejenak, lalu ikut menatap lurus ke arah langit yang saat itu sendikit tertutup kabut.
" Apakah tidak ada cara lain jika kita ingin bersama?" tanya Brian tulus meminta solusi.
Papa Ken berdiri dari tempat duduknya, dengan tangan yang dilipat depan dada.
" Tidak ada, karena agama kami tidak memperbolehkan pernikahan beda keyakinan. Bukankah kamu juga tahu itu, Bri? " ujar Papa Ken karena sebelumnya Brian juga ikut menyaksikan pernikahan kembali antara Mama Dira dan Papa Ken setelah berpisah belasan tahun lamanya.
Saat itu, Mama Dira harus pindah agama terlebih dahulu, jadi bukankah itu sudah menjelaskan bahwa Brian juga harus melakukan hal yang sama jika ingin bersama Anne. Kecuali, Brian hanya ingin bersama Anne tak lebih dari seorang kekasih.
" Dan saya __ maaf, bukan hanya saya. Tapi, masih ada dua pria posesif, yang akan menentang hubungan kalian jika kamu tak merubah keyakinan itu. Sebaik apapun kamu, saya tidak bisa menerima pernikahan beda keyakinan!" ucap Papa Ken penuh penegasan, membuat Brian seakan tertampar oleh kenyataan kalau perjalanannya agar bisa bersama dengan Anne tak akan mudah.
Papa Ken hanya mengatakan dua karena kedua pria itu yang akan sangat sulit di taklukan selain dirinya. Selama ini, Anne dirawat dan dilindungi oleh ketiga pria over protektif yang sangat sulit di taklukan. Jadi, jika ingin bisa bersama Anne tidak akan semudah itu. Bisa menaklukkan Papa Ken, belum tentu bisa menaklukan kedua kakak kembarnya Kean dan Lean.
...***...
Sepeninggal Brian, Papa Ken langsung memanggil Anne untuk keluar dari kamarnya. Hari ini, dia ingin menanyakan berbagai pertanyaan yang terus menari-nari dalam benaknya. Jujur, Papa Ken tak pernah menyangka hal ini akan terjadi karena ia mengira bahwa Brian hanya akan menganggap Anne sebagai adik angkatnya saja, tak lebih dari itu.
Mendengar Papanya ingin berbicara, membuat gadis cantik itu langsung keluar dari kamarnya dan menghambur memeluk sang Papa seperti apa yang biasa ia lakukan. Walau umur sudah dua puluh tahun, Anne masih saja manja jika bersama Mama dan Papanya.
" Anne, duduklah di sana. Ada yang ingin Papa bicarakan," ucap Papa ken dengan nada bicara yang terdengar dingin. Sikap dingin pria itu masih saja melekat dari dulu sampai sekarang, tak pernah luntur. Apalagi ketika ingin berbicara sesuatu yang serius, wajah ramah dan penuh senyumnya seketika menghilang begitu saja.
" Ada apa, Pa?" tanya Anne yang sedikit bingung dengan perubahan sikap Papanya.
__ADS_1
Ada apa ini? Kenapa perasaanku tiba-tiba terasa tidak enak, seperti akan ada sesuatu buruk terjadi? Apakah Papa Marah karena kecerobohanku tadi pagi? Anne masih berperang dengan pikirannya sendiri karena Papa Ken masih diam tanpa kata.
Tak berselang lama, barulah terdengar suara Papa Ken berbicara.
" Papa ingin, kamu segera putus dengan Brian!" titah Papa Ken yang langsung to the point tanpa ada basa basi terlebih dahulu.
Dahi Anne seketika membentuk sebuah kerutan halus tatkala mendengar pertanyaan Papanya yang sedikit membingungkan.
" Maksud Papa?" tanya Anne bingung. Sebenarnya bukan hanya Anne saja yang bingung, tapi Mama Dira juga ikut bingung dengan sikap serta ucapan suaminya.
" Tidak usah berpura-pura tidak tahu Anne. Kamu dan Brian, diam-diam sedang menjalin hubungan khusus 'kan di belakang Papa?" tebak Papa Ken.
Deg
Jantung Anne seketika berhenti sejenak tatkala mendengar Papa Ken mengatakan bahwa ia sudah tahu soal hubungan magang cintanya itu.
" Pa-pa ta-hu dari__ mana? "tanya Anne dengan suara terbata-bata. Pasalnya, Anne cukup berhati-hati dalam menyembunyikan hubungan ini. Apa Seva yang mengatakannya? Atau Papa Ken punya mata-mata lain selain Seva?
"Jadi benar jika kalian berpacaran?" jelas Papa Ken yang membuat Mama Dira melongo.
Apa? Pacaran? Anne dan Brian? Kenapa bisa?
" Mas, mas ngomong apa?" Kini Mama Dira yang bertanya karena ia sungguh tak mengerti sekaligus kaget.
" Kamu tanya sendiri dengan Anne, sudah berapa lama dia berpacaran dengan Brian," tandas Papa Ken.
" Anne ...," Mama Dira tak sanggup bertanya lagi tatkala melihat raut wajah Anne yang terkesan takut, bercampur gugup.
__ADS_1
" Tapi Anne tidak berpacaran dengan Kak Brian, kita hanya __"
" Hanya saling mencintai satu sama lain, bersikap layaknya pasangan dan sering pergi berlibur bersama. Iya! Itu yang mau kamu katakan! " potong Papa Ken dengan nada tinggi dan penuh penegasan.
Jujur, saat ini Papa Ken sedang dalam kondisi mood yang buruk selepas mendengar Brian mengatakan kalau dia dan Anne itu sama-sama saling mencintai satu sama lain. Ya, di usia Anne yang sudah menginjak dewasa, tak bisa dipungkiri jika putrinya itu akan mengalami namanya jatuh cinta.
Bahkan, Nala yang usianya lebih kecil dari Anne saja sudah menikah dan akan menjadi seorang ibu. Tapi masalahnya, Anne jatuh cinta dengan seseorang yang ...
Papa Ken jadi bingung sendiri, dia juga tak mungkin menyalahkan hati karena jatuh cinta pada seseorang yang kurang tepat. Apalagi orang yang di cintai Anne adalah Brian, laki-laki sejuta pesona. Dari segi apapaun dia tidak buruk, justru bisa masuk dalam kategori menantu idaman, wajah tampan, perangai baik, pintar, tapi sayang beda keyakinan.
Mungkin, bagi sebagian orang itu adalah hal yang lumrah, tapi bagi Papa Ken, itu adalah hal yang sangat serius. Namun, Ia juga tak bisa sepenuhnya menyalahkan Anne. Karena hal ini terjadi juga akibat dari adanya sebuah kesempatan. Kesempatan untuk sering bersama sehingga timbullah benih-benih cinta.
Sedangkan, Anne hanya bisa diam dan menunduk karena ia pasti akan kalah jika beradu mulut dengan Papanya yang terlihat sedang marah.
"Anne, Papa tidak melarang kamu untuk jatuh cinta, tapi__ Papa tidak suka dengan cara Anne yang berbohong dan bersembunyi - sembunyi seperti ini. "
"Anne minta maaf, Pa ..., "lirih Anne dengan bercucuran air mata.
" Karena sudah terjadi, Papa hanya ingin kamu ikut pulang ke Indonesia!" tukas Papa Ken dengan nada penuh perintah.
Anne terperangah, ia tak percaya jika Papanya tiba-tiba mengatakan hal seperti ini.
"Pa, tapi Anne __"
" Papa tidak butuh penolakan dari kamu!"
Duar
__ADS_1
Bagaikan tersambar petir di siang bolong. Anne benar-benar tak mengerti dengan jalan pemikiran Papanya, bukankah hanya ketahuan pacaran, apakah harus segitunya? Lagipula, Anne juga tak pernah berbuat sesuatu yang melebihi batas. Jika dia pulang ke Indonesia, lalu bagaimana dengan kuliahnya di sini?
...****************...