
Mendengar suaminya yang tiba-tiba mengambil sebuah keputusan secara sepihak, membuat Mama Dira ikut terkejut.
Anne menatap iba ke arah Mama Dira, berharap wanita paruh baya itu mau membantunya untuk membujuk sang Papa.
" Mas, coba pikirkan baik-baik terlebih dahulu, jangan mengambil keputusan di saat sedang emosi." Mama Dira mencoba memberikan nasehat agar suaminya kelak tak merasa menyesal karena telah mengambil keputusan secara sepihak. Toh, Anne hanya ketahuan pacaran, bukan .... Setidaknya, itu bisa di tolerir selagi masih berada dalam batas wajar. Namanya juga anak muda, masih dalam tahap mencari cinta dan pasangan hidup.
" Iya, Pa. Lagipula Kuliah Anne belum selesai di sini, jadi mana mungkin Anne ikut pulang ke Indonesia." Anne ikut menimpali, siapa tahu Papanya bisa berubah pikiran.
Papa Ken berusaha untuk tenang, sebenarnya dia bukan emosi. Melainkan takut, ya ... Takut akan sesuatu yang belum tentu terjadi.
Dia takut jika Anne terus bersama Brian, cinta itu akan tumbuh semakin besar, dan akan membuat putrinya lupa diri. Karena cinta terkadang bisa membuat orang itu menjadi buta, dan lupa dengan segalanya. Walau Anne dari kecil sudah di didik dengan nilai-nilai ilmu agama, tapi dia hanyalah manusia biasa. Akan ada masanya dia bisa melakukan suatu kesalahan.
" Masalah kuliah, kamu tenang saja. Papa yang akan urus itu semua, tapi kamu tetap akan ikut pulang ke Indonesia." Kali ini, keputusannya sudah bulat. Ia akan tetap membawa Anne pulang ke Indonesia, setidaknya di sana ia masih bisa mengawasi Anne secara langsung.
Menjadi seorang ayah itu juga tak mudah, apalagi mempunyai seorang anak gadis. Dia harus bisa menjaga putrinya dengan baik agar tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Mungkin, sekarang Anne akan merasa bahwa Papanya terlalu egois karena suka memutuskan segalanya secara sepihak. Namun, suatu hari nanti Anne akan sadar jika apa yang di lakukan oleh Papanya, semata-mata hanya untuk kebaikan dirinya. Lebih baik di benci, dari pada harus menyesal di kemudian hari. Itulah resiko yang harus di tanggung oleh seorang ayah.
" Pa, kenapa Papa bersikap berlebihan seperti ini? Bukankah Papa menyukai Kak Brian, tapi kenapa sekarang tidak suka jika Anne berhubungan dengannya?"
__ADS_1
" Suka, tak berarti akan merestui! Lagipula, kamu sudah besar Anne, jadi tanpa Papa jelaskan secara rinci pun, kamu pasti sudah tahu apa alasan Papa tidak merestui hubungan kalian."
Anne terdiam sejenak, ia mencoba mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh Papanya. Awalnya, Anne mengira bahwa Papanya tidak akan masalah jika ia berhubungan dengan Brian. Pasalnya, Papanya sudah dekat dan sangat percaya pada Brian sampai memercayakannya untuk menjaga dirinya. Tapi kenapa sekarang justru terlihat seperti ini? Ada apa sebenarnya? Apa jangan-jangan ...
" Apa karena kita beda keyakinan?" tanya Anne mencoba memastikan bahwa tebakannya itu tak salah.
" Ya, itu kamu sudah tahu. Jadi, lebih baik berhenti di awal daripada berlanjut tapi tak tahu arah mau di bawa kemana hubungan kalian itu. Lagipula, dia bukanlah pria yang akan mudah meninggalkan agamanya hanya untuk dirimu!" tandas Papa Ken.
Dari pembicaraannya tadi dengan Brian, Papa Ken sudah bisa menyimpulkan bahwa pria cukup kuat dalam keyakinannya. Buktinya, dia masih menanyakan apakah tidak ada cara lain agar bisa bersama dengan Anne tanpa harus merubah keyakinannya. Hal itu sudah membuktikan bahwa dia akan sulit untuk meninggalkan apa yang sudah ia yakini dari sejak kecil.
Maka dari itu, sebelum terlambat, sebelum cinta mereka tumbuh semakin dalam. Lebih baik di hentikan dari sekarang, daripada nantinya Anne akan terluka lebih dalam karena pada akhirnya tetap tidak bisa bersama. Papa Ken tidak mau melihat putri semata wayangnya itu hancur hanya gara-gara cinta.
" Tak semudah itu, Anneta!" bentak Papa Ken.
Mendengar Papanya yang membentak dirinya, membuat Anne merasa sakit dan berlari masuk ke dalam kamarnya.
" Anne, "panggil Papa Ken yang tak suka melihat putrinya pergi begitu saja ketika ia belum selesai bicara. Namun, Mama Dira mencoba menengahi dengan meminta agar Papa Ken berhenti dulu. Untuk urusan Anne, biar dia yang akan membantu berbicara. Awalnya Papa Ken menolak, tapi saat melihat raut wajah istrinya yang sudah berubah dingin, membuat pria paruh baya itu menurut. Istrinya itu adalah wanita yang sabar, tapi sekalinya marah akan menakutkan.
__ADS_1
Setelah berhasil mengatasi suaminya, kini giliran mendekati Anne. Wanita paruh baya itu akan mencoba untuk memberikan pengertian pada putrinya dengan metode bicara hati ke hati. Karena Wanita itu, mudah sekali sensistif dan terluka hatinya. Makanya, harus bisa melakukan pendekatan yang baik jika ingin berbicara dengannya agar tak melukai hatinya.
" Anne, boleh boleh buka pintunya sayang? Mama ingin bicara," izin Mama Dira dari balik pintu.
" Anne, masih mau sendiri, Ma," jawab Anne yang masih menangis di atas ranjangnya.
Mama Dira menghela nafas panjangnya.
" Baiklah, nanti kalau sudah lebih baik, Kita bicara, ya, " ujar Mama Dira lembut.
Setelahnya, Mama Dira segera pergi dari depan pintu kamar Anne. Mungkin Anne memang butuh waktu sendiri untuk menenangkan hati dan pikirannya.
" Kenapa harus jadi seperti ini? "lirih Anne di sela isak tangisnya.
...****************...
Halo gengs, jangan lupa untuk kasih dukungan berupa like, komen, vote dan hadiahnya. Novi lihat, likenya hanya sedikit, padahal yang baca lumayan banyak. Jadi, tolong keikhlasannya untuk pencet tombol like, toh gratis dan tak memberatkan 😁.
__ADS_1
Salam sayang dari novi 🥰