
Di saat Anne masih meratapi kesedihannya gara-gara tak mendapat restu dari sang Papa, tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk.
Melihat Brian yang mengirimi pesan, Anne justru membalas dengan sebuah panggilan vidio. Tak butuh waktu yang lama agar panggilan itu di jawab oleh sang magang cintanya.
" Hai Anne, ada apa? Tumben nelpon duluan," goda Brian yang membuat Anne cemberut. Pasalnya, Anne memang jarang menelpon dirinya lebih dulu, kecuali ada urgen.
" Aduh, ada apa lagi dengan magang cintaku ini? Masak begitu saja sudah ngambek," kata Brian yang mencoba terlihat biasa-biasa saja agar Anne tak tahu apa yang tengah ia rasakan saat ini.
" Papa nyuruh aku pulang ke Indo," ucap Anne dengan wajah yang terlihat lesu bercampur sedih. .
Brian terlihat terdiam dan menunduk sejenak, lalu kembali menatap wajah Anne.
" Terus, gimana?"
" Apanya yang gimana?" Anne justru kembali bertanya. Mungkin efek karena hubungannya tak di restui serta perdebatannya dengan sang papa sehingga membuat Anne jadi sedikit lemot dalam berpikir.
Bukannya menjawab, Brian justru tersenyum lebar tatkala melihat wajah Anne yang begitu menggemaskan saat bingung.
__ADS_1
" Kok malah ketawa sih? Emangnya ada yang lucu, ya?" tanya Anne.
Brian mengangguk. " Emm ... Magang cintaku 'kan memang sangat lucu, cantik dan menggemaskan ...," puji Brian yang langsung membuat pipi Anne memerah. Brian menyebut Anne magang cinta karena gadis itu sendiri yang memang tak mau di sebut sebagai kekasihku atau pacarku. Jadi, Brian mengalihkannya dengan memanggil magang cinta saja. Toh, istilah itu Anne juga yang buat.
"Kalau Papa memang inginnya begitu, turuti saja," lanjut Brian.
" Kok gitu, kalau Aku pulang ke indo, itu tandanya kita ... harus LDR?"
Brian menghembuskan nafasnya yang terasa begitu berat. Sebenarnya, Brian juga merasa sedih dan berat tatakala mendengar Anne mengatakan jika Papa Ken mengajaknya pulang ke Indonesia karena itu pertanda bahwa sang Papa benar-benar tidak merestui hubungan ini dan ingin memisahkan mereka. Tapi, Brian berusaha bersikap sebiasa mungkin agar Anne tak semakin kepikiran dan marah dengan Papanya. Lagipula, Brian juga tak ingin melihat Anne jadi anak pembangkang hanya karena hal ini.
" Anne, bukankah kita sudah biasa LDR," ujar Brian guna menenangkan hati gadis itu.
" Memangnya kalau beribu-ribu kilo meter kenapa? Selagi itu masih ada di bumi, bagiku tidak masalah. Karena aku akan menemui kamu, " ucap Brian yang membuat Anne jadi terharu.
Entah kenapa, saat ini Brian terlihat begitu bijak dan dewasa dalam menghadapi masalah ini. Tak seperti dirinya, yang hanya bisa merengek.
" Yakin Kakak akan menemui aku? "
__ADS_1
" Yakin, dong. Jadi, jangan sedih atau galau hanya gara-gara ini, ya. Kamu harus tetap tersenyum bahagia, dan jadi gadis baik, oke!" Brian mengulurkan jari telunjuknya di depan layar, begitupun dengan Anne. Mereka seakan sedang mengikat sebuah janji lewat telepon.
" I Love you Anne, " ucap Brian.
" Em, " jawab Anne tanpa membalas ungkapan cinta itu.
Setelahnya, panggilan mereka pun di matikan karena tiba-tiba terdengar suara Mama Dira memanggil. Anne segera beranjak turun dari ranjang ya, dan berjalan menuju pintu.
" Ada apa, Ma?" tanya Anne ketika pintu sudah terbuka.
" Kamu buruan siap-siap, ya. Kita pulang ke Indonesia sekarang," titah Mama Dira.
" Sekarang?" ulang Anne yang terlihat terkejut. " Mama nggak becanda 'kan? Kenapa mendadak seperti ini?" protesnya.
" Mama serius, Kakak kamu mengalami kecelakaan. Jadi, mau tidak mau kita harus pulang sekarang, " jelas Mama Dira.
" Innalillahi wa innailaihi rajiun, Kakak siapa, Ma?" tanya Anne cemas bercampur bingung. Pasalnya, Ia mempunyai dua Kakak.
__ADS_1
" Sudah, kamu siap-siap saja! "titah Mama Dira yang terlihat sangat panik. Anne pun menurut dan segera membereskan pakaiannya.
...****************...