Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 56 : saling iri


__ADS_3

" Non, kita mau kemana?" tanya sang supir yang belum mengetahui tujuan mereka.


" Ke Segarra ya, Pak," jawab Anne.


" Oh, Baik Non."


Demi menghilangkan penat selama di perjalanan, Anne pun mencoba menghubungi Brian. Namun, panggilannya tak kunjung diangkat juga.


" Kemana, Kak Brian? Apa sudah tidur?" Anne mencoba melihat jam pada arloji di tangannya.


" Di sana masih jam delapan malam, masa udah tidur. Tumben sekali," gumam Anne yang merasa aneh karena Brian tak pernah tidur awal. Paling awal, jam sepuluh.


Dikarenakan perjalanan menuju restoran masih cukup jauh, Anne pun memutuskan untuk memasang earphone dan memutar musik guna menghilangkan rasa penat selama perjalanan.


Meski ini hari minggu, jalanan kota Jakarta tetap saja macet. Suara klakson dari mobil dan motor saling bersahutan. Asap-asap polusi pun bertebaran mengikuti arah angin. Padahal, jarak masuk ke pintu gerbang tol hanya beberapa meter, tapi harus memakan waktu beberapa menit lantaran begitu padatnya kendaraan.


" Kenapa di sini selalu macet, ya?" gumam Anne yang masih terdengar oleh supirnya.


" Namanya juga kota besar non, pasti macet. Coba jalanan di desa, lenggang!" jawab sang supir yang diangguki oleh Anne.


Jalanan di kota macet karena terlalu padatnya penduduk, sedangkan di desa lenggang karena penduduknya banyak yang pergi ke kota-kota besar untuk mencari rezeki


Setelahnya, hanya ada keheningan diantara keduanya. Sang supir fokus mengemudi, sedangkan Anne asyik menorehkan sebuah gambar di atas kertas putih buku sketsnya. Begitulah Anne yang suka mengabadikan sesuatu lewat potret atau lukisan.


Sesampainya di tempat tujuan, Anne segera mengirimkan pesan pada temannya untuk menanyakan dimana keberadaan Mereka. Ketika memasuki restoran, Anne mencoba mengedarkan pandangannya.


" Anne," panggil salah satu temannya dengan melambaikan tangan ke arah Anne.


Anne pun tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya. Namun, tiba-tiba langkah itu terhenti ketika mengingat suatu hal. Anne berbalik menghadap ke arah sang Bodyguard yang berjarak beberapa senti darinya.


" Ada apa, non?" tanya sang Bodyguard.


" Pak Arzan duduk di sini saja," " pinta Anne sembari menunjuk sebuah meja kosong tanpa pengunjung.


"Memangnya kenapa, Non?"


" Saya hanya kurang nyaman jika bapak terlalu dekat."


" Tapi Tuan___"


Anne langsung memberikan kode agar sang Bodyguard menutup mulutnya. Dia paling malas mendengar penuturan soal bagaimana nanti dengan Papanya.


" Yang bapak jaga sekarang adalah saya, bukan Papa. Jadi, bisakah pak Arzan menuruti permintaan saya? Lagipula, saya tidak kemana-mana. Hanya di tempat itu bersama teman-teman," terang Anne dengan memasang wajah garang.


" Baiklah, Non."


Setelahnya, Anne kembali melanjutkan langkahnya menuju tempat dimana teman-temannya berkumpul.

__ADS_1


" Hai guys, " sapa Anne pada teman-temannya.


" Sudah lama datangnya? "tanya Anne basa basi sembari menarik kursi untuk ia duduki.


" Lumayan, sih! Itu siapa Anne? "tanya salah satu teman wanitanya yang bernama Kinara.


" Oh, biasa. Bodyguard, "jawab Anne sedikit lirih pada kata Bodyguard.


" Wow, Bodyguard baru lagi? "


Anne mengangguk dan tersenyum kecut. Sebenarnya Anne sedikit risih karena selalu di awasi oleh Bodyguard Papanya. Meski itu demi kebaikan, Anne tetap merasa bahwa itu terlalu berlebihan. Orang anak presiden saja tidak sampai segitunya. Begitupun dengan teman - temannya.


" Anak sultan mah beda, ya. "


" Apaan sih, aku justru lebih suka hidup seperti kalian," tandas Anne yang memang mempunyai sedikit rasa iri dengan kehidupan teman-temannya yang bebas.


" Iri?" ulang Kinara. " Apanya yang di irikan dari kita, Anne?" lanjutnya yang merasa aneh ketika mendengar Anne mengatakan bahwa ia iri dengan kehidupan mereka.


" Iya, Anne. Bukankah hidup menjadi seorang putri jauh lebih enak, ya? Apa-apa tersedia," imbuh teman lainnya.


Anne kembali tersenyum kecut. Begitulah hidup, saling iri dengan kehidupan orang lain. Teman-temannya, iri dengan kehidupan Anne yang terlahir dari keluarga kaya. Mau beli apa-apa, bisa tanpa harus melihat harga atau memikirkan bagaimana membayar cicilan, atau mengatur jatah uang jajan yang serba pas-pasan. Sedangkan Anne, iri dengan kehidupan mereka yang bebas, tidak terlalu di kekang seperti dirinya.


Cantika menyenggol lengan Kinara dan Dita saat melihat raut wajah Anne yang tiba-tiba berubah.


" Anne," panggil Kinara yang jadi tak enak hati.


" Kalian kalau mau tambah, pesan aja, nanti biar aku yang traktir! "ujar Anne yang langsung di sambut bahagia oleh teman-temannya.


" Emangnya gapapa, Anne? "tanya Dita yang mencoba memastikan kembali.


" Gapapa, " jawab Anne dengan tersenyum.


" Kalau ada makanan gratis aja, gercep kalian! "dengus Zaki.


" Biarin, week! " Dita menjulurkan lidahnya pada Zaki.


Tanpa ragu-ragu lagi, teman-teman Anne langsung meminta buku menu pada pelayan untuk menambah pesanan makanan mereka. Meski Anne tak terlalu bisa bergaul, tapi dia sangat royal. Jadi, masih banyak yang mau berteman dengannya.


Setelahnya, mereka berdiskusi tentang rencana pameran gabungan yang akan diadakan bulan depan.


Di tengah diskusi, tiba-tiba ada seorang teman pria yang mendekati Anne.


" Oh, ya Anne. Kamu punya lukisan berapa yang mau di pamerin?" tanya pria itu yang bernama Damian.


" Aku ada beberapa sih di rumah," jawab Anne.


" Empat ada?" Damian bertanya lagi dengan sorot mata yang tak lepas menatap wajah Anne.

__ADS_1


"Ada sih, emangnya per orang harus berapa lukisan?"


Damian tersenyum. " Gak ada batasan sih, Anne. Kamu mau mau pasang sepuluh lukisan juga gapapa."


Plak


Sepotong french-fries mengenai Damian yang di lemparkan oleh Kinara.


" Kalau mau modus kira-kira! Masak sepuluh lukisan, bisa-bisa galeri penuh dengan lukisan Anne doang! "cibir Kinara.


" Iya, Nih!"imbuh teman lainnya yang membuat Anne menaikkan sedikit sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis.


" Kamu cantik loh Anne kalau tersenyum, " gombal Damian lagi yang langsung membuat Anne kikuk.


" Bisa aja bambang! "


" Lo kenapa sih, Kin? Ada masalah? "tantang Damian yang tak suka di recoki.


" Oh, ya Anne. Jangan mudah terbuai dengan rayuan buaya seperti dia ini," ujar Dita yang mencoba memprovokasi Anne.


" Bener tuh, Anne!" imbuh Cantika.


"Kalian tuh kenapa sih, pada ikut campur. Padahal, Anne aja biasa saja tuh!" tandas Damian yang tak suka dengan teman-teman wanitanya yang sok ikut campur. Sedangkan Anne hanya menganggap itu angin berlalu karena di dalam hatinya sudah ada nama seseorang.


Selesai berdiskusi, beberapa teman Anne mengajak untuk pergi ke tempat karaoke. Tapi, Anne tentu saja tidak bisa.


" Yah, Anne. Masak sekali saja tidak bisa?" bujuk Kinara yang sudah bergelanjut pada tangan Anne.


" Emm ... Gimana ya, kalau aku sih oke! Tapi__" Anne sedikit kesulitan untuk menjelaskannya.


" Papa kamu melarang, Anne?" tebak Cantika.


" Begitulah."


" Tapi 'kan hanya pergi ke karaoke, Anne. Bukan ke bar," lanjut Dita.


" Non, Anne. Sepertinya kita harus pulang." Entah kenapa, tiba-tiba Bodyguardnya datang menghampiri Anne. Padahal, dia sudah berpesan untuk jauh-jauh.


" Pak Bodyguard yang tampan, bisakah Anne kita ajak ke suatu tempat sebentar? " bujuk Cantika dengan gelagat centilnya.


" Maaf, tidak bisa, " jawab Arzan dengan wajah datar.


" Yah ..."


" Sudah Can, kamu mau ngebujuk dia seperti apa juga gak akan di ladeni. Jadi, aku pamit pulang duluan, ya. " pamit Anne.


Setelahnya, Anne pun pergi dari restoran itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2