Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 52 : Lain di mulut, lain di hati


__ADS_3

"Kenapa? Mikirin cinta yang tak di restui?"


Makjleb


Pertanyaan Lean seketika membuat Anne terdiam. Entah dari mana Kakaknya bisa tahu tentang masalahnya ini? Apa Papanya sudah mengatakan masalah ini pada kedua Kakaknya?


" Bee ...," senggol Nala yang berusaha mencegah suaminya untuk tak membahas hal ini sekarang. Namun, pria itu seakan mengabaikannya begitu saja.


" Kakak sudah tahu?" Anne justru kembali bertanya.


" Makan dulu, habis itu minum obat, sholat, baru istirahat lagi, " ujar Lean yang sudah mengambil piring berisi makanan.


" Buka mulutnya," pinta Lean yang sudah menyodorkan sendok di depan mulut Anne.


" Aku bisa makanan sendiri!" tolak Anne yang berusaha mengambil alih sendok makan itu.


Lean pun memberikan piring berisi makanan itu pada Anne. Meski ia sedang ingin marah, tapi Lean berusaha menahannya mengingat kondisi Anne yang sedang sakit. Takutnya, dia akan semakin kepikiran dan makin sakit jika semua menekannya.


" Udah doa belum?" tukas Lean saat Anne akan memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.


Anne pun terdiam, lalu berdoa sejenak sebelum kembali melanjutkan makanan.


" Kalau makan, berdoa dulu biar apa yang masuk ke dalam perut itu berkah dan bisa menjadi sebuah obat. "


Anne hanya bisa memberengut ketika mendengar Lean yang terus mengomel tanpa henti. Inilah yang tak di sukai Anne jika sakit di ketahui oleh Kakaknya. Apalagi sakitnya karena dia yang lalai, bisa di marahi habis-habisan.

__ADS_1


" Makannya pelan-pelan, di kunyah sampai lembut biar lambung kamu tidak bekerja sangat keras untuk mengolah makanan yang masuk."


" Bee ... Bisakah jangan mengomel terus? Kasihan Anne, dia sedang sakit. Masak di ceramahi ... terus!" protes Nala yang mulai kesal mendengar suaminya mengomel.


" Aku tidak sedang mengomel Bee, hanya menasehati saja. Lagipula, sakit juga Anne yang buat sendiri. Andai dia bisa jaga pola makan dan tidurnya, nggak akan sakit! "


Sepasang Netra Nala sudah melotot dengan memasang wajah kesal tatkala melihat Lean yang terus saja berbicara tanpa menghiraukan ucapannya. Entah kenapa hari ini Lean terus saja membuat ia kesal jika menyangkut soal Anne. Sama sekali tidak bisa melihat situasi dan kondisi jika ingin mengomel. Iulah Lean yang dari dulu memang menyebalkan, jahil, tapi terkadang bisa sweet, baik, tegas, humoris dan romantis.


" Sudah gapapa, Nal. Biarin aja Kak Lean mau ngomel sampai mulutnya berbisa juga aku udah biasa! Paling juga masuk telinga kanan, keluar dari telinga kiri" skak Anne yang membuat Lean tercengang.


Bisa-bisanya Anne berbicara seperti itu padanya, andai dia bukan adik kesayangannya, mungkin sudah ia abaikan.


" Oh, begitu. Sekarang sudah besar, merasa paling benar, dan tidak mau di nasehat lagi. Oke, fine! tidak masalah. Kalau begitu, urus saja dirimu sendiri!" Lean bergegas bangun dari tempat duduknya untuk pergi dari kamar Anne dengan membawa Nala.


" Bee ... Aku masih ___"


Meski Lean suka bercanda, jahil, dan bucin tapi dia termasuk pria tegas yang tak takut pada istri. Jika dia menuruti permintaan atau perkataan istrinya, itu berarti dia hanya tak mau ribut, dan menjaga perasaannya saja. Bukan berarti takut, karena pada sejatinya seorang pria adalah pemimpin dari wanita. Dimana Ia harus lebih tegas tapi bukan berarti bisa menyakiti.


" Bee... Mau kemana?" tanya Nala.


"Makan, kita belum makan malam. Jangan sampai kamu melewatkan makan malam hanya karena mengurusi Anne. Ingat, kamu sedang hamil besar, tak boleh kecapekan dan makan terlalu malam."


Entah Nala harus terharu atau merasa kesal dengan sikap suaminya yang seperti ini. Awalnya, Ia mengira bahwa Lean mengajaknya keluar karena marah pada Anne, tapi ternyata bukan.


Sesampainya di ruang makan, semua makan malam sudah tersaji rapi di meja makan.

__ADS_1


" Mbak ...," panggil Lean pada salah satu maidnya.


"Iya, den ada apa?"


" Sudah makan belum?" tanya Lean yang membuat maid itu melongo dan bingung.


" Belum, den."


" Kalau begitu, mbak makan dulu. Habis itu ke kamar Anne, jaga dia dan perhatikan obatnya sudah di minum apa belum. Nanti kalau ada apa-apa, panggil saya, " titah Lean yang diangguki oleh maid itu.


" Oh, ya mbak. Sama jangan lupa kasih aroma terapi mawar ya. " Lean sengaja mengatakan secara detail karena takut salah memberikan aroma terapi yang tak di sukai Anne, yaitu lavender. Jadi, Ia mensiasati dengan aroma lain yang sama-sama bisa merilekskan, mengurangi kecemasan dan meningkatkan kualitas tidur. Pasalnya, sebelumnya Lean mendengar Seva mengatakan kalau Anne sedang cemas dengan keadaan Brian yang sempat tak ada kabar.


" Bee ...," panggil Nala.


" Ada apa?"


Bukannya berbicara, Nala justru langsung memeluk suaminya yang mulai mirip Kean, sulit di tebak. Di depan Anne, dia berbicara seakan marah dan tak peduli. Tapi nyatanya, masih sangat peduli dan khawatir. Mungkin memang begitu sifat pria, lain di hati lain juga di mulut.


Mulut bisa berkata tak akan peduli, tapi hatinya peduli.


Nala mendongakkan kepalanya agar bisa menatap wajah suaminya.


" Bee kenapa tadi bicara ketus begitu sama Anne? Kasihan tahu dia, nanti kalau semakin menambah beban pikirannya gimana?"


" Tenang saja, jika Anne meminum obatnya, dan menghirup aroma terapi dia akan mudah tertidur. Jadi, bisa istirahat penuh," jelas Lean yang membuat Nala tercengang. Ternyata, suaminya itu perhatian dan penuh siasat juga.

__ADS_1


...****************...


.


__ADS_2