
Malam haripun tiba, setelah isya' Riza dan kedua orang tuanya meluncur kekediaman Lalita. Membawa beberapa buah tangan, spesial untuk calon besan.
"Za, nanti jarak lamaran sama nikahnya jangan lama-lama, ya" usul Bunga. Dia nomor dua yang paling antusias menyambut babak baru hubungan anak dan calon menantunya, setelah Riza sendiri tentunya.
"Riza inginnya langsung nikah saja, Ma. Gas polll" jawab Riza tak kalah semangat dan mendapat cebikan dari kedua orang tuanya.
"Isshh...dasar. Memang buru-buru mau ngapain?" tanya Bunga, bermaksud menggoda putranya.
"Pencoblosan"
PLAK!!!
Bunga yang gemas, memukul punggung Riza. Sedangkan yang di pukul malah tertawa, merasa senang sudah membuat kesal mamanya. Siapa suruh menggodanya duluan.
"Mesum! Awas kalau kalian cicil-cicil. Mama potong itu roket" ancam Bunga. Tapi ia percaya, anak dan calon menantunya adalah anak-anak baik yang tidak mungkin melakukan hal-hal buruk yang bisa membuat malu keluarga.
"Kita dengarkan pendapat keluarga besan juga, jangan ambil keputusan sepihak. Bagaimanapun, kita tidak boleh egois. Kita juga harus memikirkan keluarga Lalita. Jangan mementingkan ego sendiri" ujar Fahri dengan bijak.
"Iya, pa" jawab Riza dan mamanya dengan patuh.
.....
Beberapa puluh menit kemudian, keluarga Riza sampai di kediaman keluarga Lalita. Lalita dan Ayahnya sudah menunggu di teras. Keduanya menyambut kedatangan keluarga Riza dengan senyum merekah, terutama Lalita. Dia bahagia sekaligus berdebar, karena ini pertama kalinya kedua orang tua mereka berjumpa.
Namun, melihat perlakuan baik keluarga Riza terhadapnya selama ini. Membuat Lalita yakin jika kedua orang tua Riza juga akan bisa menjalin hubungan yang baik dengan kedua orang tuanya.
Lalita mencium tangan kedua calon mertuanya. Begitu juga dengan Riza, ia mencium tangan ayah Lita. Lalu Ayah dan Ibu Riza, bersalam dan sedikit berbasa-basi dengan Ayah Lita. Riza tersenyum melihatnya. Hatinya merasa hangat melihat keakraban ini.
Setelah cukup berbasa-basi, ayah Lita mempersilahkan seluruh tamunya masuk, lalu menyuruh Lita memanggil ibunya yang masih berada di dalam kamar.
"Bu, tamunya sudah datang" bisik Lita, tangannya mengetuk pintu kamar pelan.
"Iya, ibu sudah siap" jawab ibu begitu bersemangat. Bukannya segera keluar, ia malah merapikan lagi penampilannya dan terakhir mengecek senyumannya.
__ADS_1
Lita meninggalkan ibunya dan kembali keruang tamu untuk menemui Riza dan kedua orang tuanya yang sedang berbincang dengan sang ayah.
"Ibumu mana, masih ngaca?" tanya ayah Lita dan dijawab dengan anggukan oleh sang putri.
"Maaf ya pak, Bu, istri saya itu memang agak berlebihan, kalau kata anak jaman sekarang Lebay. Tahu mau kedatangan tamu istimewa, ngaca terus. Katanya biar penampilannya sempurna. Riza ini sudah paham bagaimana ibunya" semua pun tertawa mendengar penuturan ayah Lita.
"Iya tidak apa-apa, pak. Maklum, sepertinya semua perempuan memang seperti itu. Ini yang disebelah saya juga, ganti baju sampai 5 kali. Kurang inilah, kurang itulah. Tapi ujung-ujungnya yang di pakai pilihan pertama juga"
"ihh...papa buka kartu, deh" bisik mama Riza, merasa malu.
"Kalau Lita tidak lho, pa. Sekali pilih langsung dipakai. Tidak perlu ngaca seribu kali juga sudah pasti cantik. Iyakan, mamas?" ucap Lita penuh percaya diri.
Sedangkan yang ditanya hanya menjawab, "Hem"
"iihh....kok cuma Hem?!" rengeknya dengan bibir manyun seperti bebek.
Riza menghela nafas, bisa-bisanya pacar uniknya ini minta di puji di depan orang tua mereka. "Iya iya, cantik. ck!" jawabnya lagi dengan malas-malasan. Para orang tua hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat interaksi anak-anak mereka.
"Selamat malam semua, maaf..."
"Riza, kamu tidak salah membawa orang tua?" tanya Permata begitu sinis.
"Maksud ibu?" tanya Riza kebingungan.
"Harusnya kamu membawa kedua orang tuamu, bukan malah membawa sampah kerumahku!"
Lita dan Riza terperanjat mendengar ucapan Permata yang sangat kasar. Keduanya saling pandang dengan wajah yang sama-sama bingung. Riza marah mendengar ucapan ibu Lita, tapi Riza juga bingung. Apa yang sebenarnya terjadi.
"Ibu!" Lita mencoba memperingati ibunya.
"Jaga bicara kamu, kami kesini ingin bersilaturahmi bukan mencari masalah" Bunga mulai terpancing emosi. Dia juga sama kagetnya dan tidak menyangka jika akan bertemu dengan Permata lagi, terlebih sebagai calon besan.
"Hahaha.... bersilaturahmi. Riza, benar ini orang tua kamu?"
__ADS_1
"Iya, Bu. Ini Mama saya namanya...."
"Stop! Aku tahu siapa namanya, tidak perlu kamu sebutkan. Silahkan tinggalkan rumah kami. Dan kamu, Riza. Tinggalkan Lalita!"
"Ibu, apa-apaan ini. Lita tidak mau putus dengan Riza"
"Diam kamu, Lita! Mereka bukan orang baik. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ingat itu, Lita"
"Jangan sembarang bicara ya, mbak. Anak saya ini pria baik-baik. Bukankah mbak sudah mengenalnya dengan baik?"
"Bisa saja semua perilaku baiknya hanya pura-pura, hanya untuk menarik simpati kami. Cih, menjijikan"
Papa Riza yang sudah muak mendengar hinaan yang terlontar dari mulut Permata, berdiri dari duduknya "Ma, Riza, kita pulang!" ucapnya pelan, namun tegas dan dingin.
"Tapi, pa....." sela Riza, namun sang papa sepertinya tidak ingin di bantah.
"Kita pulang!" kata Fahri sekali lagi, dengan suara yang lebih tegas.
Riza menatap Lita yang sudah menangis tersedu-sedu di samping ayahnya, sebenarnya ia tidak tega meninggalkan Lita dengan kondisi seperti itu. Namun, dia tidak ingin memperkeruh suasana dengan melawan perintah papanya. Lagi pula, ibu Lita juga sepertinya sedang emosi-emosinya, mungkin akan sangat sulit jika diajak bicara baik-baik untuk saat ini.
Ayah Lita keluar tanpa berpamitan, di susul Bunga yang menarik Riza karena tak kunjung bergerak. Dengan berat hati, Riza melangkahkan kakinya, meninggalkan Lita yang menangis di dekapan ayahnya.
"Pergilah kalian, jangan injakkan kaki kotor kalian di rumahku lagi!" teriak ibu Lita setelah tamu-tamunya keluar, membanting pintu dengan keras.
"Mas, mas Riza...." Lita ingin mengejar Riza, tapi tangannya di cekal oleh ayahnya. Ayah Lita hanya menggeleng dengan wajah sendu saat menatap Lita yang juga menatapnya dengan wajah memohon.
"Sudah Lita, biarkan mereka pergi. Ibu tidak sudi punya besan seperti mereka"
"Tidak Bu, tidak. Mereka orang baik. Lita cinta sama Riza. Sebenarnya ibu kenapa?"
"Kamu tidak perlu tahu!" bentak Permata yang belum bisa mengendalikan diri.
"Tapi Bu, ibu......" panggil Lita pada ibunya yang melenggang masuk tanpa mempedulikan apa yang ingin Lita sampaikan.
__ADS_1
"Sudah Lita, sudah. Ibumu sedang emosi. Biarkan dia tenang dulu, nanti bapak yang akan bicara sama ibu. Semua akan baik-baik saja. Kamu istirahatlah, bapak mau menemui ibu dulu. Lita sabar ya"
Lita hanya bisa menangis, meratapi semua yang terjadi setelah semua orang meninggalkannya seorang diri tanpa kejelasan. Semua berjalan jauh dari apa yang ia bayangkan.