
" Bos, sepertinya ada masalah di pusat perbelanjaan xx," ujar Bentala memberitahu.
Pangeran menghela nafas panjangnya.
" Bisakah jika tak ada masalah pekerjaan yang menggangguku di hari libur? Kamu tahu ini weekend 'kan?" kata Pangeran pada Bentala.
" Tahu, bos tapi___" Bentala jadi bingung sendiri harus bagaimana.
" Baiklah, saya akan ke sana sebentar!" tandas Pangeran yang tak bisa melalaikan sebuah pekerjaan.
Ketika masih berada di perjalanan, tiba-tiba Pangeran mendapatkan sebuah pesan dari Anneta jika ia tak jadi bertemu. Alhasil moodnya yang sudah tak bagus, semakin memburuk. Namun, siapa sangka jika ia justru di pertemukan di sebuah mall oleh gadis itu.
" Itu sepertinya Anneta, tapi bersama siapa dia?" gumam Pangeran.
"Anne, kamu beneran tidak jadi bertemu dengan temanmu itu?" Papa Ken kembali bertanya untuk memastikan.
" Bener, Pa," dusta Anne.
Sebelumnya, ketika masih berada di dalam mobil Anne mengatakan jika janji temu dengan temannya gagal. Dengan beralasan seperti itu, Anne berharap jika mereka akan kembali pulang. Namun nyatanya Papa Ken justru merubah rute untuk pergi ke sebuah pusat perbelanjaan dengan alasan jika ingin jalan-jalan berdua bersama putrinya sekaligus mencarikan hadiah untuk sang istdi karena sebentar lagi adalah peringatan anniversary pernikahan kedua mereka.
Kerena begitu penasaran dengan pria yang di gandeng mesra oleh Anneta, Pangeran pun akhirnya memberanikan diri untuk memanggil.
" Anneta ... "panggil Pangeran seraya berjalan menghampiri gadis yang tiba-tiba membatalkan janji lunch dengannya.
Langkah Anne seketika terhenti tatkala menyadari suara siapa yang tengah memanggilnya. Sementara Papa Ken langsung berbalik menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang sedang memanggil putrinya.
Anne terlihat seakan mencoba menahan Papanya untuk tidak berbalik, tapi pria paruh baya itu tetap berbalik.
" Akhirnya kita bisa bertemu di sini," ujar Pangeran dengan rasa kecewa karena Anne telah berbohong padanya. Ia beralasan tidak bisa datang karena ada urusan mendadak tapi nyatanya justru pergi dengan seorang ... pria matang? Tapi, jika di perhatikan lebih jelas dia terlihat seperti...
" Tuan, Ken? "sapa Pangeran ketika menyadari siapa pria dewasa yang sedang bersama Anneta.
Papa Ken hanya tersenyum smirk.
" Kalian saling kenal? "tanya Anne sambil menunjuk kearah kedua pria di hadapannya sekarang.
" Tentu kenal, siapa yang tidak kenal dengan Tuan Kenzo dalam dunia bisnis. Tapi Anne kalian___" Pangeran menggantung ucapannya karena takut salah berbicara atau mengenali.
" Dia Papaku," jawab Anne yang tak menutupi identitasnya pada Pangeran.
" Papa?" kata Pangeran yang terlihat terkejut.
" Jadi, Anneta adalah nona muda dari Fabio grup?" gumam Pangeran yang tiba-tiba merasa insecure.
Setelahnya, Papa Ken mengajak Pangeran untuk makan bersama di sebuah restoran yang ada di mall itu juga.
Selama di meja makan, Pangeran lebih banyak diam karena merasa tegang dan bingung harus berkata apa.
__ADS_1
" Apa Kamu sebelumnya punya janji temu dengan putri saya?" tanya Papa Ken yang membuat Anne dan Pangeran tegang.
" Iya, Tuan," jawab Pangeran gugup.
" Jangan terlalu formal atau takut karena kita tidak sedang bekerja!" Papa Ken mencoba mencairkan suasana agar Pangeran tak begitu tegang. Namun, wajah dingin Papa tetap saja membuat Pangeran tegang.
" Kalau Papa tidak mau Pangeran tegang, maka jangan perlihatkan wajah garang seperti singa yang siap memangsa! "sindir Anne yang membuat Papa Ken tercengang.
" Apa Papa harus tersenyum seperti ini? "
" Itu semakin menakutkan! "tandas Anne yang terus mengomentari wajah Papanya yang memang terlihat garang. Apalagi senyuman yang dipaksakan, semakin terlihat mematikan.
" Terus Papa harus seperti apa? "tanya Papa Ken seakan meminta pendapat.
" Rileks, ramah, hangat, seperti wajah ketika sedang bersama ABC, " goda Anne yang tak tanggung-tanggung.
" Bisa luntur wibawa Papa, Anne! "protes Papa Ken dengan suara sedikit lirih. Sementara Anne justru tertawa lepas sambil membayangkan wajah Papanya ketika bersama ABC. Wajah seorang Kakek yang teduh, hangat agar cucunya tak takut. Bahkan, kadang Papa Ken juga harus menampilkan wajah Aneh agar terlihat lucu.
Melihat Anne dan Papa Ken yang terlihat begitu akrab, membuat Pangeran sedikit iri. Pasalnya, Ia sudah tak lagi mempunyai seorang ayah. Punya Ibu tapi seperti tak punya.
" Kamu kenapa, Ran?" tanya Anne ketika menyadari raut wajah Pangeran yang tiba-tiba berubah sendu.
" Tidak apa-apa, hanya suka melihat interaksi kalian yang begitu akrab dan dekat," ujar Pangeran.
Di tengah makan siang, tiba-tiba Anne pamit untuk pergi ke toilet sebentar. Setelah hanya tinggal berdua, Papa Ken langsung menanyakan beberapa hal.
" Boleh, Om tanya sesuatu? "izin Papa Ken.
" Apa Kamu menyukai putri saya? "tanya Papa Ken to the point.
Deg
Jantung Pangeran seakan berhenti berdetak saat mendengar pertanyaan seperti ini dari Papa Ken.
" Kenapa diam saja? " Papa Ken kembali bertanya.
Pangeran mencoba tenang dan tersenyum guna menutupi rasa gugupnya.
" Apakah boleh jika saya mempunyai perasaan itu pada putri Om?" Pangeran menjawab dengan sebuah pertanyaan kembali. Pangeran bertanya begitu karena ia sadar jika dia siapa dan siapa Anne.
" Jika kamu hanya berniat main-main, maka jauhi putri saya! Jika kamu serius, datanglah ke rumah," tantang Papa Ken.
" Apa Om tidak masalah jika orang seperti saya masuk ke dalam keluarga___? "
" Satu hal yang perlu Kamu ketahui Pangeran," Papa Ken memotong ucapan Pangeran yang sudah ia pahami arahnya kemana.
" Saya Bukanlah orang yang memandang seseorang dari status sosialnya, melainkan personality orang tersebut. "
__ADS_1
" Kalian sedang membicarakan apa? "tiba-tiba Anne sudah datang sehingga membuat Papa Ken menghentikan pembicaraannya bersama Pangeran.
" Hanya pembicaraan tentang sesama pria, "papar Papa Ken.
" Oh," jawab Anne yang tak banyak tanya.
Setelah itu, Papa Ken dan Anne pamit pergi duluan. Sementara Pangeran masih duduk di kursinya.
" Personality? Datang ke rumah? "gumam Pangeran yang memikirkan dengan baik-baik perkataan Papa Ken tadi.
***
" Papa mau membelikan Mama kado apa? "tanya Anne.
" Menurut kamu, apa yang bagus? "
Anne memicingkan matanya, lalu menatap lekat-lekat ke arah Papanya. Bagaimana bisa Papanya mengajak pergi membeli sebuah hadiah, tapi tak tahu harus membeli hadiah apa. Bukankah itu artinya, Anne harus ikut memikirkan?
" Papa mah, kebiasaan! "kesal Anne yang tiba-tiba merajuk.
Papa Ken langsung merengkuh kedua pundak putrinya sambil tersenyum." Ya, Papa 'kan hanya berusaha untuk meminta saran. Apakah salah? "
" Ya gak salah sih, tapi kalau soal saran Anne juga bingung harus kasih Mama apa. Soalnya, Mama sudah punya semuanya. Tas, baju, sepatu, perhiasan, mobil, semuanya punya. Bahkan, bukan hanya punya tapi sudah seperti seorang kolektor. "
" Kalau begitu, sepertinya hanya satu yang belum Mama punya."
" Apa?" Kini, justru Anne yang kembali bertanya.
" Menantu laki-laki," canda Papa Ken.
" Papa!" pekik Anne dengan memasang wajah tak suka. Bisa-bisanya, Papanya membicarakan hal seperti itu di saat-saat seperti ini.
" Ya 'kan emang bener Anne, Mama sama Papa belum punya menantu laki-laki."
" Ya, tapi___ ahhh .... " Anne justru merengek layaknya anak kecil.
"Sudah, jangan seperti anak kecil. Gak malu di liatin orang?" Papa Ken mencoba memperingati putrinya yang merengek di tempat umum. Begitulah Anne ketika bersama dengan Papanya, selalu seperti anak kecil dan lupa diri jika ia sudah dewasa.
" Ya, habisnya Papa nyebelin sih! Lagian, emangnya Papa udah siap jika Anne menikah? Orang yang kemarin aja gak di restuin!".
Deg
Tiba-tiba Papa Ken dan Anne Sama-sama diam. Anne diam karena sudah keceplosan membahas tentang masa lalu lagi. Sedangkan Papa Ken diam karena teringat kembali tentang Brian. Tentang kondisi Brian yang begitu menyedihkan.
" Maaf, Pa,"lirih Anne.
" Kita pulang saja! "
__ADS_1
Akhirnya, mereka berdua tak jadi membeli hadiah.
...****************...