Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 58 : Doakan saja


__ADS_3

"Meskipun gratis, saya tetap gak mau. Masnya paham gak sih!" ucap Anne sembari menoleh ke arah orang yang kekeh menawarinya bunga. Dan betapa terkejutnya Anne saat melihat siapa orang itu.


Tubuh Anne spontan bangun dari tempat duduknya, dengan netra yang terus menatap ke arah pria yang berdiri tegak di hadapannya.


" Hai cinta," sapa Brian dengan tersenyum lebar. Sedangkan Anne justru memukul Brian dengan mata yang berembun.


" Anne, kenapa aku di pukul?" Brian berusaha mundur dan menghindar dari pukulan Anne. Bahkan, bunga yang ia siapkan sampai hancur terkena amukan gadis itu. Namun, langkah Brian terhenti ketika tubuhnya menabrak pohon kelapa.


Netra keduanya pun saling bersitatap dan masuk begitu dalam sampai menebus relung hati.


" Miss you Anne," ucap Brian sembari mengusap buliran bening yang jatuh memasahi pipi Anne.


"Kenapa lama sekali datangnya," protes Anne yang justru semakin menangis. Menangis dalam artian bahagia sebab pada akhirnya ia bisa kembali melihat wajah tampan ini secara langsung. Bukan hanya lewat panggilan video yang sering ia lakukan.


" Maaf ya ..., tapi kamu jangan nangis lagi. Lihat tuh, ingusnya keluar ke mana-mana," goda Brian yang langsung mendapatkan pukulan lagi dari Anne.


" Astaga Anne, kenapa kamu itu suka sekali mukul sih! Daripada di pukul, mending di peluk." Brian sudah merentangkan tangan, tetapi Anne justru menghindar dan menjauh.


" Gak boleh! "tolak Anne yang hanya dibalas senyum kekecewaan oleh Brian.


" Masak sebentar saja gak boleh? Itung-itung mengobati rasa rindu, " rengek Brian yang dijawab gelengan kepala oleh Anne.


" Baiklah, kalau begitu aku peluk pohon aja." Brian benar-benar memeluk pohon di belakangnya sebagai pengganti Anne.


" Pohon, aku peluk kamu saja, ya. Soalnya, kekasihku tidak mau di peluk, " ucap Brian yang mencoba berdialog dengan pohon.


" Gak mau! Aku tak mau jika hanya menjadi pengganti, " Brian menyahuti dengan suara yang di buat-buat.


Melihat Brian yang berdialog dengan pohon, sontak membuat Anne tertawa. Bagaimana bisa pria itu memeluk dan mengajak berbicara benda mati.


" Gitu dong, senyum. Kan cantik kalau senyum gitu," puji Brian yang lebih suka jika Anne tersenyum saat bersamanya bukan menangis.


Anne memalingkan wajahnya guna menutupi rona kemerahan di pipinya. Brian pun berjalan mendekati Anne.


" Kamu malu?" tanya Brian seraya memiringkan wajahnya agar bisa menatap wajah Anne.


" Apaan sih!" Anne mendorong tubuh Brian sehingga membuat pria itu tersungkur.


" Astaga Anne! Kamu benar-benar ya ..." omel Brian.


Melihat Brian yang benar-benar terjatuh, membuat Anne merasa bersalah.


Anne berjongkok agar sejajar dengan posisi Brian saat ini " Maaf, sakit nggak?" tanya Anne cemas dengan wajah bersalah karena sebenarnya dia tidak sengaja.


" Sakit ... maunya di peluk," rengek Brian seperti anak kecil.


" Apaan sih!" Ketika Anne akan berdiri, tiba-tiba Ia terpeleset dan terjatuh. Sepertinya Karma datang lebih cepat.


Brian pun tertawa, membuat Anne kesal, lalu melemparinya dengan pasir. Brian yang tak mau mengalah, ikut melempar pasir sehingga terjadilah saling lempar pasir.


" Kakak sudah!" teriak Anne. Brian pun berhenti.


Di saat membersihkan pasir yang menempel pada bajunya, tiba-tiba Anne teringat suatu hal. Ia pun segera mengedarkan pandangannya mencari seseorang.


" Dia tidak ada di sini, Anne," ucap Brian seakan tahu apa yang sedang Anne cari.


" Maksud Kakak?" tanya Anne bingung.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Brian justru mengulurkan tangannya untuk membantu Anne bangun.


" Mau kemana?"


" Menikmati waktu kebersamaan kita," jawab Brian yang menggoyangkan tangannya agar Anne mau meraih tangan itu. Namun, Anne tetap tak meraih tangan Brian, dan bangun sendiri.


" Bisa Kakak jelaskan apa maksud dari ucapan Kakak barusan?".


" Yang mana?"


" Semuanya. "


" Emm ... " Anne terlihat menunggu jawaban dari Brian.


" Kita bicarakan di tempat yang nyaman." Tanpa permisi, Brian langsung menggandeng tangan Anne dan mengajaknya pergi.


Entah setan mana yang merasuki Anne, bukannya mencoba melepaskan diri seperti biasanya. Anne justru terpana dengan semua ini. Menatap tubuh Brian dari belakang serta berjalan sambil menggandeng tangannya, membuat Anne merasakan ada sesuatu perasaan aneh yang hadir dalam dirinya. Perasaan egois yang berharap jika waktu berhenti berputar.


Sepanjang perjalanan menuju mobil, Anne terus terdiam membeku bagaikan tubuh tanpa jiwa.


" Masuklah, Anne," pinta Brian yang sudah membukakan pintu mobil.


Anne pun menuruti perintah Brian.


" Jalan, Pak," titah Brian pada supir taksi yang sudah ia sewa.


Anne masih terdiam dengan netra yang terus menatap ke arah Brian. Kehadiran pria itu, seakan membusnya.


" Anne," panggil Brian yang seketika membuat Anne bangun dari lamunan.


" Ya."


Anne menggeleng.


" Oh, ya. Kita mau kemana?"


" Mau pergi makan, kamu belum makan siang 'kan?" tebak Brian.


Anne menggeleng.


Melihat Anne yang begitu patuh dan pendiam seperti ini, membuat Brian tersenyum.


" Yaudah, kalau begitu kita makan siang bareng." Brian mengusap puncak kepala Anne yang tertutup hijab.


" Tapi, Kak ... Bodyguard Papa? "


" Kamu tenang saja, dia sudah aman!" jawab Brian dengan tersenyum.


" Sudah aman? Aman gimana?" tanya Anne yang terlihat bingung.


" Kamu kenapa sih, Anne? Kok seperti orang linglung gitu?"


" Ihh ... Kebiasaan deh! Di tanya apa, jawabnya apa!" kesal Anne yang langsung memalingkan wajahnya menatap ke arah jendela.


" Ngambek .... " Brian mencoba membujuk Anne, tapi gadis itu masih saja marah.


" Jangan ngambek gitu dong, Anne. Masak, sudah jauh-jauh datang ke sini cuman di ambekin! Kalau gitu, aku pulang aja lagi!" Brian berpura-pura ikut - ikutan ngambek agar gadisnya itu tak marah lagi.

__ADS_1


" Iya ... Iya ... Tapi jangan pulang dulu. Masak baru datang sudah mau pulang lagi?"


" Kalau gitu, senyum dong. "


Anne pun tersenyum, membuat Brian merasa gemas dan ingin mencubit pipi itu. Tapi ia mencoba menahannya karena Anne pasti tidak akan suka, dan ujung-ujungnya marah lagi. Jadi, selama waktu kebersamaan yang tak lama ini, Brian ingin menikmatinya dengan baik tanpa ada pertengkaran.


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, akhirnya mereka sampai juga di sebuah restoran yang tak jauh dari pantai.


Sebelum keluar dari mobil, tiba-tiba Anne menghentikan Brian.


" Ada apa Anne?"


" Kita pergi cari makan di tempat lain ya,"


" Kenapa? Bukankah restoran ini halal?" sebelumnya, Brian sudah mencari tahu terlebih dulu tentang restoran - restoran yang enak di sekitaran sini.


" Aku pengen ke tempat lain."


"Baiklah."


Setelahnya, mereka pergi ke sebuah street food yang tak jauh dari restoran pilihan Brian.


Ketika awal memasuki tempat street food itu, Brian sedikit kurang nyaman.


" Anne, kamu yakin mau makan di sini?" Brian sedikit merasa aneh, pasalnya awal masuk ke tempat itu. Banyak yang jualan makanan non halal. Tapi, sebenarnya banyak juga makanan halal.


" Kita jalan-jalan saja dulu, sambil mencari makanan yang enak."


Anne terlihat begitu bahagia karena akhirnya, Ia bisa datang ke tempat ini. Bahkan, Anne sampai kalap mata sampai setiap melihat jajanan halal, Ia langsung memesan.


" Kamu yakin bisa memakan semuanya, Anne? "


" Em. " Anne mengangguk karena ia sangat lapar. Sedangkan Brian terlihat kurang percaya, pasalnya biasanya Anne tak makan sebanyak ini.


Setelah membeli begitu banyak jajanan, Anne pun berhenti di salah satu rumah makan yang menjual makanan sunda. Ia pun masuk ke tempat itu agar Brian bisa mencicipi, makanan lokal.


" Anne ... Jangan memesan terlalu banyak, nanti perutmu tidak muat!" nasehat Brian.


" Siap, bos!"


" Pacarnya, neng?" tanya sang pemilik warung ramah saat memberikan pesanan Anne.


" Kelihatannya apa, bu?" Anne justru bertanya kembali dengan tersenyum ramah. Melihat Anne yang begitu ramah pada penjual makanan, membuat Brian merasa seperti melihat sisi lain dari Anne. Pasalnya, Ia belum pernah melihat Anne seperti ini.


" Naha anjeun malah nanya ka kuring, neng? Suaminya, ya? "


" Doakan saja, Bu."


" Amin."


Sepeninggal ibu tadi, Brian langsung menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan. Namun, Anne tak mau mengatakannya.


***


Di tempat lain, terlihat seorang pria yang mulai mengerjapkan matanya. Perlahan, Ia mencoba bangun meski kepalanya terasa berat.


Melihat hari yang sudah sore, membuat Pria itu langsung teringat pada seseorang.

__ADS_1


" Non Anne!"


...****************...


__ADS_2