Melawan Restu

Melawan Restu
Bab 99 : Dua kalimat syahadat


__ADS_3

Di kediaman Marsello, para maid terlihat begitu sibuk untuk menyambut kedatangan Brian. Bahkan, Daddy Samuel juga menyuruh mereka untuk membersihkan paviliun belakang sebagai jaga-jaga jika keluarga Mama Dira tak mau tinggal di Mansion utama.


" Sebenarnya, Tuan muda datang membawa siapa sih?" bisik para maid di sela-sela bebersih.


" Aku juga tidak tahu!" tandas maid lainnya.


" Apa jangan-jangan Nyonya datang?" tebak maid yang tengah menata bunga.


" Nyonya?" ulang maid lainnya.


" Iya, apa kamu lupa jika bunga-bunga ini adalah kesukaannya nyonya?" ujar maid itu lagi.


Mereka berempat jadi saling pandang satu sama lain. Tetapi, tak lama kemudian terdengar teriakan dari seorang kepala pelayan yang membuat keempat maid itu melanjutkan kembali aktivitas masing-masing.


Di sebuah kamar yang besar, terlihat seorang pria paruh baya yang tengah mondar-mandir tak jelas. Entah kenapa ia tiba-tiba merasa gelisah, detak jantungnya pun berdetak begitu cepat ketika setelah mendengar kabar bahwa Mama Dira juga akan ikut datang ke Mansion.


Setelah kejadian penembakan tiga tahun lalu, Ia memang tak pernah bertemu lagi dengan mantan istri palsunya. Jadi, ketika akan bertemu seakan ada perasaan yang aneh datang pada dirinya.


" Ada apa denganku?" gumam Daddy Samuel seraya memegang dadanya.


...***...


Di karenakan sudah memasuki waktu dzuhur, rombongan Mama Dira berhenti sebentar di sebuah masjid yang kebetulan mereka lewati.


" Kita berhenti dulu ya, Bri," ujar Kean yang diangguki oleh Brian.


Mama Dira, Anne, Kean, Dinda dan beberapa pengawal yang muslim terlihat memasuki masjid. Sementara Brian, tiba-tiba ingin sekali ikut masuk kedalam masjid itu.


Jadi, Jeremy mencoba membantu Brian naik ke kursi roda dan membawanya masuk ke dalam masjid.


Ketika memasuki masjid, Brian selalu merasa ada ketentraman dalam dirinya. Apalagi saat mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an hatinya seakan terasa sejuk.


Brian menutup matanya, seakan menikmati alunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang sudah ia hafal sebelumnya.


" Kenapa, aku masih mengingat bacaan ayat-ayat suci itu? Di saat fungsi kerja otakku mulai menurun, bahkan aku mulai melupakan hal-hal yang baru aku alami atau kejadian di masa lalu. ," batin Brian yang merasa heran dengan dirinya.

__ADS_1


Akhir-akhir ini, Brian memang mudah sekali melupakan hal-hal di sekitarnya. Bahkan, Ia harus menulisnya dalam sebuah buku agar tak melupakan setiap momen yang telah terjadi.


" Bri, "panggil Kean yang beru selesai sholat.


Brian tersenyum lebar.


" Kamu ngapain di sini? "tanya Kean.


" Kak, aku ingin masuk islam sekarang, " pungkas Brian yang membuat Kean terkejut.


Selama ini, memang Kean yang membantu Brian dalam belajar tentang islam, tapi ini adalah pertama kalinya ia mendengar Brian mengatakan ingin masuk islam.


" Kamu yakin, Bri? " tanya Kean memastikan.


Brian mengangguk.


" Alhamdulillah," ucap Kean yang langsung memeluk Brian. Pelukan ini seakan ungkapan kebahagiaannya sebagai seorang kakak sekaligus orang yang selama ini membantu mengajari Brian tentang islam.


Selama ini, Kean memang tak pernah memaksa. Ia hanya menyuruh Brian belajar tentang islam dengan baik. Soal apa keputusannya nanti, biar Brian yang memilih karena ini bukanlah sesuatu yang mudah.


Kean langsung melepaskan pelukannya, lalu memberitahu kabar bahagia yang baru saja ia dengar.


Semua orang tentu sangat bahagia mendengar kabar itu, terutama Anne. Jika Brian sudah masuk islam, maka rencana pernikahan mereka akan bisa segera terlaksanakan.


Tak butuh waktu lama, Kean segera membawa Brian masuk ke dalam masjid untuk bertemu dengan ustadz yang ia jumpa tadi.


Sebelum mengucapkan kalimat syahadat. Sang ustadz menyuruh Brian untuk melepaskan kalung berbentuk salib yang masih ia kenakan.


"Bagaimana saudari Brian, apakah anda sudah benar-benar yakin ingin menjadi seorang muslim?" tanya Ustadz itu lagi.


" Yakin."


" Apa yang membuatmu yakin?"


" Saya yakin karena___"

__ADS_1


Setelahnya, Brian menceritakan apa yang membuatnya yakin untuk memeluk islam. Dan, keyakinannya bukan berlandaskan agar bisa menikah dengan Anne. Melainkan tentang islam itu sendiri.


Selama mempelajari islam, banyak kejadian yang membuat Brian merasa takjub, nyaman, tentram, damai dsb. Lalu, apakah agamanya dulu tak memberikan hal itu?


Memberikan, tapi ada perbedaan yang Brian rasakan dan itu tak bisa ia ungkapkan melalui kata-kata.


Setelah mendengar cerita Brian yang akhirnya yakin ingin menjadi seorang mualaf, membuat sang ustadz merasa bahagia. Bukan hanya sang ustadz, tapi juga Anne, Mama Dira, Kean, Dinda dan yang lainnya. Setiap orang memiliki jalan-jalannya sendiri dalam mendapatkan sebuah hidayah. Dan ini adalah kisah Brian.


"Masya Allah sungguh besar hidayah yang Allah berikan kepadamu, Brian.


" Kalau begitu, ayo kita ucapkan dua kalimat syahadat," ujar ustadz itu.


" Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rasulullah. Yang Artinya: "Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusan (Rasul) Allah."


" Asy-ha-du An laa ila-ha illallah, wa asy-ha-du an-na muhamm-adar rasu-lullah."


Dengan kalimat yang masih terbata-bata, akhirnya Brian resmi menjadi seorang muslim.


" Brian, sekarang kamu sudah menjadi seorang muslim, dan saya berharap kelak kamu akan menjadi seorang muslim yang baik. Karena di kelilingi oleh orang-orang yang baik," ujar sang ustadz seraya menepuk pundak Brian.


" Terimakasih Ustadz," jawab Brian.


" Semoga, Allah juga segera mengangkat penyakit kamu, "imbuh sang ustadz saat melihat kondisi Brian yang terlihat tak sehat.


" Amin ..., " seru semua orang bersamaan yang berharap jika Brian akan sembuh dari penyakitnya.


" Amin, "lirih Brian dengan tersenyum saat melihat raut wajah kebahagiaan dari orang-orang yang menyayanginya.


" Ya, Allah sang maha agung, Anne harap ini adalah awal yang baik buat semuanya. Terutama Kak Brian yang kini sudah menjadi seorang mualaf. Anne mohon padamu ya Allah, angkatlah penyakitnya. Sembuhkanlah ia, dan pelancar jalan untuk kami agar bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan. " doa Anne dalam hati. Meski ia sudah mendengar diagnosa dokter seperti apa, Anne masih berharap ada sebuah keajaiban dari sang pemilik hidup.


Karena sejatinya, hanya Allah lah yang bisa melakukan sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin.


...****************...


Halo guys, maaf baru update. Soalnya novi lagi kurang enak badan. Padahal cerita ini tinggal beberapa bab lagi. Jadi, siapkan diri kalian untuk membaca ending dari kisah Brian dan Anne.

__ADS_1


__ADS_2