Melawan Restu

Melawan Restu
Kabur


__ADS_3

Permata menatap sekeliling ruang tamu rumahnya yang nampak lebih rapi, cantik dan wangi dari biasanya. Seharian ini, wanita paruh baya itu sudah bekerja keras merapikan rumah terutama bagian ruang tamu. Guna menyambut kedatangan calon besannya nanti malam. Permata merasa antusias sekali, ia bahkan merasa sedikit tidak sabar menantikan hari ini sejak kemarin.


"Kursi oke, meja oke, bunga oke, aroma...hmmm wangiiiii" Permata menghirup udara dalam-dalam.


"Sudah beres, Bu?" tanya Ari begitu masuk kedalam rumah. Ia ikutan-ikutan mengedarkan pandangannya, seperti yang dilakukan sang istri tadi.


"Sudah beres, sudah beres...anak sama bapak sama saja. Kalau ada orang bersih-bersih itu di bantu, bukan malah kabur" omel Permata, dia sudah hafal akal bulus suami dan putrinya yang pemalas itu.


"Bapak tidak kabur, lho. Bapak tadi kerumah pak RT, ada yang harus di bahas. Penting" kilah Ari, berbohong. Padahal disana ia dan pak RT hanya berbincang biasa saja.


"Halah, biasanya juga kalau di panggil pak RT suruh ini itu pura-pura sibuk di rumah. Sekarang giliran di rumah ada kerjaan, pura-pura sibuk sama pak RT. Lagu lama!"


"Anak kamu juga sama saja. Mau beli inilah itulah, buat acara lamaran. Ibu mah tahu, paham betul, itu akal-akalan Lalita biar tidak bantu ibu beres-beres rumah. Riza juga mau-maunya di bohongin"


"Yaudah sih, Bu. Sudah rapi, cantik, dan wangi juga. Kaya ibu"


"Rapi, cantik, wangi, dari Hongkong!"


Ari memperhatikan penampilan istrinya, kemudian mengulum senyum. Rambut acak-acakan, baju lusuh, keringat dimana-mana. Permata yang melihat senyum tertahan suaminya merasa sedang di ledek.


"Apa, masih mau bilang ibu rapi, cantik dan wangi?" Permata mencolek ketiaknya yang basah dan menempelkannya ke hidung Ari.

__ADS_1


"Astaga! aroma neraka jahanam"


"Bapakkkk! iihh....."


Keduanya berkejar-kejaran seperti anak kecil. Permata berusaha mencubit pinggang suaminya, sedangkan Ari tertawa-tawa sambil menghindari capit jari istrinya. Meskipun istrinya cerewet dan ngambekan, tapi Ari sangat mencintainya. Dia tidak pernah mengeluhkan sikap istrinya itu, baginya mencintai Permata harus sepaket dengan kekurangannya, bukan hanya mencintai kelebihannya saja.


Sementara itu, di pasar terbesar di kota itu. Lalita tak hentinya mengajak Riza berputar-putar. Riza mulai merasa curiga, setelah lama berjalan dan melihat-lihat. Nyatanya, tak ada satupun barang yang di beli Lalita. Sejak keberangkatan mereka tadi Riza memang tidak menanyakan barang apa yang ingin kekasinya itu beli. Diminta mengantar sang kekasih mencari sesuatu di pasar, Riza iya iya saja.


"Sayang" Riza menarik-narik lengan kemeja Lalita agar berhenti sejenak.


"Iya, mamas. Kenapa, capek, mau istirahat dulu, atau mau makan?" tawar Lalita.


"Hah, apa ya?"


"Loh, lha katanya mau beli sesuatu. Memang kamu mau beli apa?"


"Hehe, tidak ada yang menarik. Yasudah minum yuk, haus" ajak Lalita, ia menarik tangan Riza menuju stand jus buah.


.....


"Kamu pasti ngajak mas pergi cuma alasan saja, kan?" tanya Riza saat mereka sedang menunggu pesanan jus buah.

__ADS_1


"Tidak ikhlas nemenin aku jalan?" tanya balik Lita dengan bibir monyong andalan.


"Ikhlas, kamu saja yang modus. Mamas tau, kamu menghindar biar tidak bantu ibu bersih-bersih rumah. Hayo ngaku!"


"Enngg......iya. hehe" jawab Lita dengan wajah tanpa dosanya.


"Tidak boleh begitu, Tulalitku sayang. Masak mau jadi istri masih malas bersih-bersih rumah. Nanti kalau kita nikah, kamu tidak mau bersih-bersih rumah. Rumah kita bisa banyak semut lho, kan ada lagunya tuh"


"Banyak semut dirumahku, gara-gara Lita malas bersih-bersih" Riza menyanyikan sebait lagu anak-anak.


"Hehehe, maaf. Habisnya ibu kalau dibantu malah suka bawel, marah-marah tidak jelas. Begini salah, begitu salah"


"Ibu bawel kan memang sudah settingannya begitu dari Tuhan. Tapi kamu juga tidak boleh begitu, membantu orang tua itu kewajiban kita sebagai anak. Bukan malah menghindari, kasian ibu di rumah bersih-bersih sendiri. Pasti capek sekali. Nantinya kamu juga akan menjadi istri dan ibu, kamu mau anak-anak kita kabur waktu kamu butuh bantuan mereka?"


"Ya, tidak. Maaf, sayang"


"Tidak boleh seperti ini lagi ya. Seperti apapun, ibu itu tetap ibu kamu. Lagi pula, dengan begitu kamu akan tahu kalau kamu melakukan kesalahan atau bagaimana. Secara tidak langsung, ibu sedang mengajari kamu bagaimana menjadi istri dan ibu yang baik."


"Iya...maaf"


"Iya di maafin, sayang"

__ADS_1


__ADS_2