Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 59 : Aman?


__ADS_3

Matahari mulai menyingsing ke arah barat, tiupan angin laut mampu membuat daun dan dahan bergoyang meliuk-liuk.


Di dalam sebuah mobil, terlihat seorang pria yang mulai mengerjapkan matanya. Perlahan, Arzan mencoba bangun meski kepalanya terasa begitu berat. Ia pijat pelipisnya guna merilekskan otot-otot yang tegang.


Menatap hari yang sudah sore, membuat Pria itu langsung teringat pada seseorang. Seseorang yang harus ia jaga sangat ketat sesuai perintah majikannya.


" Non Anne!"pekik Arzan.


" Pak Arzan sudah bangun? "


Suara itu sontak membuat Arzan menoleh ke bangku penumpang bagian belakang.


" Non Anne, " seru Arzan yang terlihat bingung bercampur kaget.


" Kenapa, Pak? Apa ada yang salah? " Anne melihat tubuh dan sekelilingnya, seakan mencari sesuatu yang terlihat Aneh.


Arzan menggelengkan kepalanya, dan mulai mengingat apa yang telah terjadi padanya. Kenapa dia bisa tertidur, dan berada di dalam mobil? Bukankah terakhir kali ia sedang mengawasi Anne yang tengah menikmati suasana pantai?


" Pak Arzan," panggil Anne yang langsung membuyarkan lamunannya.


" Iya, Non. Ada apa?"


" Bapak yang kenapa? Bukannya pulang, kok malah ngelamun! Ini nih, efek tidur di sore hari. Bisa bikin orang linglung!" Anne terus mencoba mencari topik pembicaraan agar Bodyguardnya itu tak menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi .


" Maaf Non. " Setelahnya, Arzan segera mengemudikan mobilnya melaju memecah jalanan kota Jakarta.


Anne mengusap-usah dadanya yang sempat berdetak sangat cepat karena takut ketahuan. Tapi, untung saja di detik-detik sang Bodyguard bangun, Anne sudah berada di dalam mobil.


" Untung saja gak ketahuan, benar-benar pengalaman yang cukup menantang," batin Anne dalam hati.


"Tapi aku menyukai hari ini," lanjutnya sambil menatap gelang pemberian Brian.


Anne terus menatap gelang yang di dalamnya terdapat inisial A&B itu. Meski tulisannya begitu kecil dan tersembunyi, tapi Anne sangat menyukainya. Setidaknya, tidak akan ada yang curiga jika gelang itu adalah pemberian Brian ketika ia memakainya.


Ingatan tentang momen kebersamaannya bersama Brian seakan terlintas kembali dalam benaknya.


" Apakah enak?" tanya Brian penasaran ketika melihat Anne memakan camilan corndog mozarela yang ia beli.


" Em."Anne mengangguk." Mau coba? Ini masih ada satu lagi," tawar Anne sambil menyodorkan corndog rasa kentang. Namun, siapa sangka jika Brian justru mencicipi corndog yang sudah di gigit sebagian oleh Anne.


" Kak ... Kok makan yang ini! "protes Anne.


" Memangnya kenapa? "


" 'Kan itu bekas gigitanku, emangnya Kakak___"

__ADS_1


" Gak bakalan kena rabies kan?" potong Brian yang langsung mendapatkan pukulan dari Anne.


" Emangnya Kakak kira aku ini anjing gila, bisa bikin orang kena rabies!" kesal Anne. Sedangkan Brian justru tertawa terbahak-bahak.


Saat ini, hal yang Brian sukai adalah menjahili Anne karena dia terlihat sangat menggemaskan sekali jika marah.


" Non sepertinya sedang bahagia sekali, ya" seloroh Pak Arzan yang seketika membuat lamunan Anne buyar.


" Sepertinya begitu," jawab Anne ambigu.


" Apakah Non sangat menyukai pantai?" lanjut Arzan yang mencoba mencari topik pembicaraan agar suasana tak hening selama perjalanan.


" Suka, sangat suka," jawab Anne seraya membayangkan wajah serta senyuman manis dari seseorang yang membuatnya sangat menyukai pantai.


" Pantas saja, kalau gunung? Suka nggak?"


" Suka tidak suka."


" Maksudnya non?"


" Ya ... Aku suka pemandangan yang ada di gunung, tapi aku tidak suka mendaki. Capek, bikin tubuh pegal, dan lain sebagainya."


Arzan pun tertawa mendengar jawaban Anne. Ia merasa cukup senang melihat Anne yang mulai mau berbicara banyak padanya, tak seperti biasa yang hanya. Em, atau tidak.


" Nggak kok! "


Setelahnya, ada sebuah notifikasi pesan masuk sehingga membuat Anne kembali fokus pada ponselnya.


✉️Brian


[Anne, sudah sampai rumah? Bagaimana, ketahuan apa nggak?]


✉️ Anne


[ Masih di jalan, mungkin lima belas menit lagi baru sampai rumah.]


[ Untuk saat ini sepertinya masih aman]


✉️Brian


[ Besok bertemu lagi, bisa?]


✉️ Anne


[ Besok? Sudah kangen, ya?] Anne mencoba menggoda Brian.

__ADS_1


Setelahnya, tak ada lagi balasan pesan dari Brian, membuat Anne menunggu dan terus menatap layar ponselnya sampai tak sadar jika sudah sampai rumah.


" Non, kita sudah sampai," kata Pak Arzan memberitahu.


" Oh, ya?" Anne terlihat celingak- celingukan melihat ke sekitar, dan ternyata benar jika ia sudah sampai rumah. Tanpa berlama-lama, Anne langsung membereskan barang-barangnya dan keluar dari mobil.


***


Di tempat lain, terlihat seorang pria yang tengah sibuk mencari dimana keberadaan obat-obatnya. Entah kenapa, akhir-akhir ini kepalanya makin sering tiba-tiba terasa sakit.


Setelah mendapatkan obat itu, Ia langsung meminumnya beberapa.


Brian mencoba menyandarkan tubuhnya di atas ranjang, lalu menari nafas dan membuangnya secara perlahan agar tubuhnya lebih rileks.


" Aku kenapa? Dan rasa ini seperti tak asing, tapi semoga apa yang aku takutkan tidak terjadi. Sungguh, masih banyak hal yang ingin aku lakukan. " Brian bermonolog dengan mata yang tertutup.


Bayang-bayang akan rasa sakit yang pernah ia alami dua tahun silam seakan terasa kembali. Namun, Brian masih berusaha untuk berpikir optimis dan berharap jika rasa sakit yang ia alami bukanlah sesuatu yang serius.


Sekalipun kemungkinan besar jika penyakit itu bisa datang lagi, Brian berharap jangan sekarang. Karena apa? Karena saat ini, Ia sedang berada pada masa yang sangat membahagiakan. Dimana, Ia menjalin sebuah hubungan asmara dengan wanita yang ia cintai, meski harus sembunyi-sembunyi gara-gara tak mendapatkan restu. Tapi, Brian sudah sangat Bahgia karena Anne masih tetap bersamanya.


Ketika obat itu sudah bekerja di dalam tubuhnya, akhirnya Brian tidur terlelap juga.


...***...


Di saat makan malam bersama, Anne terlihat murung. Padahal, Arzan tadi melaporkan bahwa Anne terlihat sangat bahagia, tapi kenapa sekarang justru seperti ini?


" Anne," panggil Papa Ken.


" Ya, ada apa, Pa?"


" Kamu kenapa? Wajahnya kok di tekuk begitu, seperti baju lecek belum di setrika. Bukankah tadi Papa sudah izinkan untuk mencari hiburan?" sarkas Papa Ken.


" Oh, Anne gapapa kok. Hanya ... Ada tugas yang belum terselesaikan aja. Jadi, Anne pamit ke atas dulu, ya. " Anne mencoba mencari alasan agar bisa segera naik ke atas. Entah kenapa, sejak pesannya tak kunjung di balas oleh Brian, Anne merasa sangat cemas dan gelisah. Layaknya, merasa jika ada sesuatu yang terjadi pada pria itu. Apalagi, panggilannya juga tidak diangkat-angkat.


" Kenapa anak itu! Minta jalan-jalan, sudah di turuti tapi kenapa masih saja cemberut!" gumam Papa Ken sembari terus menatap kepergian Anne.


" Mungkin ada masalah sama kekasihnya, Pa," tanggap Lean.


" Hush, kamu apaan sih, Le! Jangan memancing suasana," tegur Mama Dira.


" Lagian, bukannya Anne tadi bilang kalau dia masih ada tugas yang belum di selesaikan? Mungkin dia sedang memikirkan tugasnya yang terlalu banyak, makanya dia jadi terlihat seperti sedang bad mood, " lanjut Mama Dira yang mencoba menengahi. Dia tak Mau jika suaminya ikut-ikutan berpikiran yang tidak-tidak soal sikap Anne.


...****************...


Halo gengs, maaf baru update lagi. Soalnya, Novi sempat pergi ke luar kota karena ada kedukaan, terus di tambah kurang vit. Jadi, slow respon ya...

__ADS_1


__ADS_2