
Di belahan dunia lainnya, terlihat seorang pria yang begitu sibuk dengan pekerjaannya. Rasa penat, bercampur lelah ia rasakan. Tiba-tiba, Ia teringat pada seseorang, dan mencoba menelponnya.
Di dering ketiga, barulah panggilan itu di angkat.
" Hai Sweety," sapa Brian dengan tersenyum lebar.
" Sweety?" ulang Anne yang hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar panggilan baru lagi dari Brian.
" Kenapa, Anne?"
" Tidak ada, aku hanya heran saja. Kenapa panggilan Kakak selalu berubah-ubah setiap saat? Dan, sekarang Sweety? Seperti nama merek pampers saja!" papar Anne dengan memasang wajah kesal.
" Merek Pampers?" Brian terlihat terkejut.
" Ya, di sini ada merek Pampers namanya Sweety! "
" Oh, Sorry Anne. Aku tidak tahu, soalnya aku memanggil itu sebagai pengganti panggilan sayang. Jadi, maaf ya ... Jangan marah, oke?"
Melihat Brian yang mencoba menjelaskan secara detail dengan wajah merasa bersalah, membuat Anne tak sanggup lagi untuk menahan tawanya. Padahal, dia hanya ingin bercanda tapi Brian memanggapnya serius.
" Kamu tertawa Anne? "
" Bukan, tapi menangis! "goda Anne.
" Huh? "
" Astagfirullah Kak Brian, kenapa kamu begitu mengesalkan! Sudah tau aku tertawa, masih di tanya! "tandas Anne.
" Ya, habisnya aku sedikit bingung. Tadi, kamu kesal karena aku panggil Sweety, eh tiba-tiba tertawa begitu saja. Padahal tidak ada yang lucu."
" Oh, ya? Padahal wajah Kakak tadi cute loh! "goda Anne yang langsung membuat Brian kikuk. Entahlah, Anne selalu saja bisa membuat pipi Brian bersemu merah dan merasa kikuk dengan bulalannya.
" Tuh, 'kan! Cute banget ... " Anne semakin menggoda Brian.
" Sudah ... Sudah ... " Brian berusaha menghentikan Anne yang terus menggoda ya. Biasanya wanita yang selalu di bikin malu-malu oleh laki-laki. Tapi, ini kebalikannya. Mungkin, karena sifat Anne yang suka ceplas ceplos jika bersama orang yang dia anggap nyaman. Jadi, Ia terlihat biasa saja.
" Kak," panggil Anne seusai hening sejenak.
" Ya, ada apa Anne?"
" Kapan main ke Indo?"
" Memangnya kenapa? Kamu sudah rindu?"
Anne mengangguk, dan Brian pun tersenyum karena di rindukan oleh wanita yang ia cintai. Entahlah, ini sebuah keuntungan atau bukan. Semenjak berjauhan dan backstreet, Anne jauh lebih blak-blakan dengan perasaanya. Tidak seperti dulu yang selalu jual mahal dan mengelak.
__ADS_1
" Kok malah diam?" Anne kembali bertanya saat melihat Brian yang hanya diam saja.
" Em ... Soalnya lagi berpikir. Kapan ya ... Ada waktu luang biar aku bisa main ke sana," ujar Brian dengan bertopeng dagu.
" Memangnya sesibuk itu, ya?"
Brian mengangguk karena dia memang sedang sibuk-sibuknya. Apalagi, semenjak menolak bertunangan dengan Cassidy, membuat Brian harus membantu Daddy Samuel untuk menyelesaikan berbagai masalah.
"Yaudah, kalau gitu."
" Ngambek, ya?"
" Nggak kok, biasa aja!" dusta Anne. Mulut bisa berkata tidak, tapi hati dan raut wajah tak bisa di bohongi.
" Maaf ya, Anne. Nanti, kalu sudah ada waktu. Aku pasti akan ke Indonesia." Brian mencoba memberikan pengertian agar kekasihnya tak marah lagi.
" Em. " Anne hanya menjawab dengan singkat.
" Kok cuma gitu jawabnya? Katanya nggak marah."
" Ya ... Apa aku harus jungkir balik? Nggak 'kan? Udah ya, aku ngantuk mau tidur. "
" Yaudah, kalau gitu. Selamat tidur cintaku, dan semoga kita bisa bertemu di alam mimpi," canda Brian.
" Nggak mau ah!" tolak Anne.
" Ya ... Karena pengennya ketemu langsung, bukan di alam mimpi. " Sayangnya, perkataan ini hanya bisa Anne ucapkan di dalam hatinya saja.
" Sudah, aku tutup. "
" Eh... " Brian menghentikan aksi Anne yang mau menutup panggilan vidionya.
" Senyum dulu, dong! "pinta Brian.
Anne pun memberikan senyum terpaksanya, dan hal itu di sadari oleh Brian. Namun, Ia tak membahasnya lagi karena sepertinya Anne memang sedang bad mood.
Selepas panggilan itu di matikan, keduanya saling menghembuskan nafas panjang. Brian menyandarkan kepalanya di kursi bertumpu dengan kedua tangannya, sambil menatap langit-langit ruangan kerjanya.
" Kenapa, terasa berat seperti ini?" gumam Brian sambil menutup kedua matanya.
" Ternyata, menjalin hubungan jarak jauh itu tak mudah. Apalagi, di tambah dengan hubungan beda keyakinan. Jarak serta dinding pembatasnya semakin besar dan tinggi dua kali lipat. " Anne memiringkan tubuhnya menatap ke arah lukisan keluarganya. Lukisan yang ia buat agar bisa ada Mama dan Oma di tengah - tengah foto keluarganya.
" Oma, Anne harus bagaimana? " entah kenapa, tiba-tiba ada rasa dilema dalam hati Anne.
***
__ADS_1
Hari - hari Anne terasa semakin hambar dan membosankan, apalagi semenjak kembali dari New York. Setiap hari, Anne seperti mengulang sesuatu yang sama, tak ada bedanya. Kuliah, dan di rumah. Bodyguard yang baru juga sungguh membosankan, tak seperti Seva yang enak diajak bercanda.
Ada yang ingin tahu Seva kemana?
Semenjak kembali, Seva sudah di pecat oleh Papa Ken karena dianggap tak bisa di percaya dalam mengawasi Anne. Selama ini, Seva memang selalu saja berusaha menyembunyikan semua hal tentang Brian dan Anne. Isi laporannya, selal mengatakan kalau Anne baik-baik saja, tidak menjalin hubungan dengan laki-laki manapun atau melakukan hal-hal yang aneh . Tapi, nyatanya? Anne mempunyai hubungan spesial dengan Brian, serta sering keluar liburan bersama.
Awalnya, Anne sempat menolak pemecatan Seva dan pergantian Bodyguard baru. Tapi, apa yang sudah di tentukan oleh Papa Ken, tak bisa di ganggu gugat dan harus di turuti selama Anne belum menikah. Jadi, dengan berat hati Anne menerimanya.
" Pak, bisakah singgah ke pantai sebentar?" pinta Anne yang ingin mencari udara segar.
" Tapi, Non. Tuan bilang kalau__"
" Sebentar saja, saya hanya ingin merilekskan diri," bujuk Anne yang membuat sang Bodyguard bingung antara menuruti atau tidak.
" Saya izin Tuan dulu ya, Non."
Anne hanya menghembuskan nafas kesal karena Bodyguardnya yang sekarang terlalu takut dan penurut dengan Papa Ken.
Setelahnya, sang Bodyguard pun menelpon Papa Ken untuk meminta izin. Dalam hati, Anne berharap jika Papanya mau memberikan izin, karena ia benar-benar butuh merilekskan pikirannya.
" Tuan mengizinkan, Non."
" Benarkah?" raut wajah Anne terlihat begitu bahagia karena akhirnya Papanya sudah mulai kembali seperti dulu.
Di balik layar, Papa Ken ikut tersenyum saat melihat raut wajah bahagia putrinya. Mungkin, akhir-akhir ini ia terlalu keras dalam menjaga Anne sehingga membuat putrinya jarang tersenyum seperti ini.
" Ternyata, Nona Anneta semakin terlihat cantik jika tersenyum," Arzan terlihat terpukau dan kagum akan kecantikan putri majikannya. Selama ia bekerja, Anne memang selalu memasang wajah jutek, dingin, dan ketus. Jadi, ini adalah pertama kalinya ia melihat gadis itu tersenyum.
***
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, akhirnya mereka sampai juga di taman indah kapuk. Anne yang begitu bersemangat, langsung berlari diatas pasir putih. Untungnya, suasana di sana cukup sepi, mengingat ini masih jam kerja kantor.
Anne menghirup dalam-dalam aroma air laut yang sudah lama ia rindukan. Anne memang sangat suka pantai karena baginya hembusan angin sepoi-sepoi, suara deburan ombak, dan aroma laut itu menenangkan. Meski bukan laut yang sama, tetapi laut seakan menyimpan kenangan indah dalam memorinya.
Di saat Anne sedang menikmati air kelapa muda, dan indahnya pemandangan laut lepas. Tiba-tiba ada orang yang datang menghampirinya.
" Mbak cantik, mau bunga?" ucap seseorang dengan suara barintonnya sambil menyodorkan buket bunga mawar yang begitu cantik.
Anne menghembuskan nafas panjangnya.
" Maaf saya tidak butuh bunga."
" Tapi, bunganya gratis loh untuk mbak cantik."
" Meskipun gratis, saya tetap gak mau. Masnya paham gak sih?" ucap Anne sembari menoleh ke arah orang yang kekeh menawarinya bunga. Dan betapa terkejutnya Anne saat melihat siapa orang itu.
__ADS_1
...****************...