Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 106 : Melawan Restu


__ADS_3

..." Kita, bagaikan dua tokoh utama yang tak di takdirkan untuk bersama. Tetapi, namamu akan tetap tersimpan di hati ini. Karena bagiku, mencintai dan bisa di cintai olehmu adalah sebuah keberuntungan. Keberuntungan yang akan aku ingat selamanya."...


...~ Bhadrika Anneta Fabian~...


Setelah menempuh penerbangan selama beberapa jam, akhirnya Anne sampai juga di Swiss atau Switzerland yang merupakan negara indah yang terletak di Eropa Tengah tepat berbatasan dengan Prancis, Italia, Jerman, Liechtenstein dan Austria. Negara ini dikenal dengan julukannya sebagai negara paling netral selama berabad-abad. Selain itu, Swiss juga terkenal sebagai negara yang bersih, sehat, indah, aman, dengan ribuan danau serta di dominasi oleh pegunungan.


Anne pergi ke Swiss karena tempat ini adalah negara yang akan ia kunjungi bersama Brian setelah menikah. Namun, kenyataannya Anne datang ke negara ini tanpa Brian.


Anne menutup matanya layaknya tengah menikmati udara pagi di kota ini.


"Anne,"panggil seseorang yang telah selesai mengambil bagasi Anne.


Anne pun menoleh ke arah pria itu." Apakah sudah semua? "tanya Anne pada pria itu yang tak lain adalah Jeremy mantan asisten Brian.


Semalam, saat semua orang sudah tertidur. Anne mengirimi Jeremy sebuah pesan untuk membantunya pergi dari New York. Awalnya, Jeremy menolak tapi Anne terus memohon.


Melihat Anne yang terus memohon, tentu membuat Jeremy tak tega. Apalagi sebelum pergi Brian memberikan pesan untuk selalu membantu dan menjaga Anne dari kejauhan. Jadi, dengan berat hati Jeremy membantu.


Sebelum pergi, Jeremy melumpuhkan para penjaga Papa Ken dengan memberikan mereka obat tidur. Setelah aman, barulah ia membawa Anne pergi dari hotel itu.


Ketika kabur bersama Kean, Anne terus mengamati semua rencana yang diatur oleh Kean agar mereka tak terlacak, dan itu ia terapkan kembali.


" Sudah, kalau begitu ayo kita pergi. Sepertinya mobilnya juga sudah sampai. " Jeremy mengajak Anne pergi untuk menuju mobil yang telah ia pesan.


Ketika memasuki mobil, Jeremy duduk di samping supir, sementara Anne duduk di belakang.


Anne membuka jendela di sampingnya agar bisa menghirup udara segar di kota ini.


" Masya Allah, indah sekali. Andai kamu masih ada, Kak. Rasanya pasti akan jauh lebih menyenangkan," gumam Anne dengan mata yang kembali mengembun.


Kesedihan akan kehilangan orang tercinta masih terlihat jelas di wajah sendunya.


Jeremy menoleh ke belakang, menatap Anne yang tengah menikmati hembusan angin di kota Interlaken.


Jika Anne tengah menikmati Indahnya tempat baru, lain halnya dengan dj hotel yang di tempati oleh Kenzo Fams.


Semua orang terlihat bingung, cemas dan khawatir tatkala mengetahui bahwa Anne kembali menghilang.


" Kean, kamu beneran tidak tahu Anne pergi kemana?" Papa Ken kembali bertanya. Pasalnya, kaburnya Anne yang kemarin Kean ikut andil di dalamnya.


Kean menghembuskan nafas panjangnya.


" Kean harus membuktikan apa lagi sama Papa agar percaya kalau Kean sama sekali tidak tahu soal kepergian Anne," jelas Kean.


" Ya, Papa hanya memastikan saja. Karena___"


" Karena kemarin Kean sempat membawa Anne kabur," lanjut Kean yang seakan tahu apa maksud dari Papanya.


" Untuk yang kemarin, Kean memang tahu. Tapi sekarang, Kean sama sekali tidak tahu."

__ADS_1


" Sudah... Sudah... Jangan berdebat terus!" omel Mama Dira. " Daripada berdebat, lebih baik pikirkan kemungkinan kemana Anne pergi," lanjutnya.


" Apa Anne pintar IT?" Kini Pangeran yang bertanya.


" Tidak! Dia hanya pintar melukis, " pungkas Kean.


" Kalau begitu, berarti ada seseorang yang membantu Anne untuk kabur," ujar Pangeran yang mengutarakan pemikirannya.


" Maksud kamu___"


" Ya, sekarang coba pikir saja. Anne tidak pintar IT tapi kenapa dia bisa pergi tanpa bisa di lacak seperti ini."


Kean, dan Papa Ken terlihat berpikir.


" Papa setuju, tapi__ kira-kira siapa yang membantunya?"


" Kata Papa, bukankah Anne sebelumnya pernah kuliah di sini? "


Papa Ken mengangguk.


" Kalau begitu, kita bisa mencari tahu dari teman-temannya dulu, " usul Pangeran.


Tanpa berlama-lama, Papa Ken langsung menghubungi Seva untuk meminta data-data teman Anne saat masih kuliah di New York.


Setelah cukup lama mencari, mereka tetap tak bisa menemukan petunjuk tentang kepergian Anne kali ini.


Di sebuah tempat yang begitu indah dengan pemandangan gunung serta sungai yang mengalir. Terlihat seorang wanita yang tengah merapikan barang-barangnya.


Saat merapikan barang, Anne kembali menemukan kotak pemberian Jeremy yang belum sempat ia buka. Anne pun segera mengambil kotak itu dan membukanya.


Di dalam kotak itu terlihat ada sebuah surat diatas tumpukan barang-barang lainnya. Anne pun langsung membuka surat yang ada di dalam sebuah amplop berwarna biru muda.


...Dear Putri Anneta...


...Assalamualaikum Putri Annetaku yang cantik ......


...Pastikan kamu untuk tersenyum saat membaca surat ini, karena Kamu akan terlihat jelek saat menangis....


...Anne ......


...Sebelumnya, terimakasih karena sudah hadir dalam hidupku. Hadirnya kamu, membuat hidupku penuh akan warna pelangi. Pelangi yang begitu cantik dan sangggatt indah....


...Anne ......


...Happy Wedding, semoga pernikahanmu dengan Pangeran selalu di penuhi dengan kebahagiaan dan keberkahan. Maaf jika aku tak bisa memenuhi janjiku untuk Menikahi mu dan seenaknya mengganti pengantin laki-laki tanpa izinmu terlebih dahulu....


...Tapi, percayalah Anne. Jika dia adalah jodoh yang di kirim Tuhan untuk kamu. Jadi, semoga kamu bisa menerima dan mencintainya setulus hati....


Tanpa terasa, buliran bening kembali menetes dari pelupuk mata.

__ADS_1


" Kamu jahat dan egois, Kak. Apakah kamu lupa jika pria yang ingin aku nikah itu hanya kamu? Kamu berbuat seperti ini justru semakin membuatku sakit dan tak mengerti Kenapa semua orang suka mengatur hidupku!" Anne seakan mengeluarkan apa yang ada di dalam hatinya saat ini seraya menatap surat dari Brian.


Kini, tatapan Anne teralihkan pada sebuah kotak kecil yang ada di dalam sana. Anne pun membukanya, dan sepasang matanya seketika membulat sempurna tatkala mengetahui apa isi di dalam kotak itu.


"Cincin pasangan?" gumam Anne. Kemudian, Ia mengambil salah satu cincin itu, dan melihat sebuah inisial A&B di dalamnya.


" A&B? Anne dan Brian? Tapi untuk apa cincin ini?"


Anne pun kembali mencari petunjuk dari dalam kotak itu, dan menemukan sebuah buku yang terlihat seperti buku deary. Tapi, kenapa seorang pria bisa memiliki buku diary?


Karena sudah sangat penasaran, Anne segera membuka buku itu tepat pada pembatasnya, dan sepertinya itu adalah tulisan terakhir dari sang pemilik buku.


New York 22-02-17


Langit hari ini begitu cerah, apakah ini sebuah pertanda baik?


Seharusnya hari ini adalah hari yang sangat istimewa dalam hidupku, dimana aku akan menikahi wanita yang sangat aku cintai. Tapi sayangnya, takdir berkata lain karena aku tak bisa lagi menjadi pengantin prianya.


Sedih, marah, kesal, kecewa, sakit, semua bercampur menjadi satu. Meski aku sudah berusaha untuk mengikhlaskan, tapi nyatanya aku belum sepenuhnya rela jika dia menjadi milik pria lain. Andai sakit ini tak ada, apakah mungkin kisah kita akan berbeda?


Anne ... Maafkan pria pengecut ini karena menyerah di detik-detik terakhir. Aku tak menikahimu, bukan karena tak cinta. Melainkan sadar diri jika cinta saja tak cukup untuk menjalani sebuah pernikahan.


Meski aku tak bisa melawan restu sang pencipta alam semesta, percayalah bahwa kamu adalah langitku, dan satu-satunya wanita yang aku cintai sampai akhir nafas ini.


Semoga, kamu bahagia ya langitku, cintaku, dan pemilik hati ini.


Meski pada akhirnya kita tak bisa bersatu, tapi Tuhan masih baik dengan mengabulkan doaku yang lain. Dimana, kamu bisa bersama dengan pria yang lebih baik dari aku.


^^^Love you forever Bhadrika Anneta Fabian.^^^


Dada Anne kembali sesak setelah membaca tulisan terakhir dari Brian. Ia pun kembali menatap sepasang cincin itu.


" Jadi, ini adalah cincin pernikahan yang telah kamu siapkan, Kak?" ucap Anne yang bertanya-tanya. Entah kenapa, Anne tiba-tiba ingin memakai cincin itu, dan pas di jari manisnya.


Anne kembali menangis sesegukan sambil mencium cincin yang sudah tersemat di jari manisnya.


" I Love you to, Kak. Jika aku adalah langitmu, maka kamu adalah peri cintaku. Peri yang mengajarkan aku tentang apa itu cinta, kesetiaan, perjuangan, kebersamaan, dan kehilangan."


...****************...


Halo para reader kesayangan Novi. Untuk kisah Anne dan Brian (Melawan Restu) berakhir sampai di sini.


Kalau kalian ingin lanjutan bagaimana kisah Pangeran dan Anne, mungkin novi akan buatkan novel terpisah karena bagi novi novel ini khusus untuk kisah cinta Brian dan Anne.


Jadi, komen di bawah ya kalau mau lanjut novel Pangeran dan Anne. Dimana meraka akan jadi pemeran utama dengan kisah cerita yang jauh berbeda. Bukan melawan restu lagi.


Terimakasih banyak telah mencintai Anne dan Brian. Jujur, kisah mereka yang paling mengena di hati sampai bisa buat Novi nangis terus selama nulis.


Bye ... Sampai bertemu lagi di kisah selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2