Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 31: Bahagia itu sederhana


__ADS_3

Sesampainya di tempat tujuan, Anne masih saja menutup mata serta memegang erat tali seat beltnya. Dia benar-benar ketakutan jika ada yang mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.


" Anne," panggil Brian yang tak kunjung mendapat respon dari gadis itu. Brian mencoba menyentuh Anne untuk memberitahukan padanya bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan.


Tapi, saat Brian menyentuh lengan gadis itu, spontan Anne segera menghindar dan membuka matanya.


" Kamu kenapa, Anne?" tanya Brian bingung saat melihat Anne menatapnya dengan tatapan tajam serta tangan yang menyilang di depan dada seperti sedang melindungi diri.


" Kakak yang kenapa? Bisakah mengemudi dengan kecepatan normal saja? Bagaimana kalau sampai remnya blong terus kita mengalami kecelakaan? Apakah Kakak bisa mempertanggungjawabkan semuanya? " Omel Anne yang membuat Brian membeo.


" Tapi, kita masih selamat dan tidak kenapa-kenapa Anne. Jadi tidak usah___"


" Iya, sekarang kita masih di beri selamat kalau__" Brian segera membekap mulut Anne dengan tangannya agar gadis itu diam dan tidak terus mengomel. Tapi, Anne segera menyingkirkan tangan Brian dari mulutnya.


"Jangan pernah menyentuhku!" tandas Anne dengan tatapan tajam.


" Anne ... Bisakah tidak perlu bersikap berlebihan seperti ini? Aku hanya membekap mulutmu dengan tangan bukan___"


Dengan bibir. Kalimat itu hanya bisa Brian ucapakan dalam hati. Jika Brian mengucapkannya secara langsung, Anne pasti akan menganggapnya sebagai pria mesum.


" Bukan apa?" tantang Anne.


Brian hanya bisa menghembuskan nafas panjang, lalu segera keluar dari mobil karena jika terus-menerus menatap wajah Anne yang tengah mengomel, ia takut tak bisa mengendalikan diri. Melihat Brian yang keluar dari mobil begitu saja, membuat Anne ikut keluar.


Saat melihat pemandangan pantai di depannya yang begitu indah, membuat Anne merasa takjub dan terpesona.


"Masya Allah ... Indah sekali," puji Anne saat melihat indahnya pemandangan laut lepas dengan deburan ombak yang menerpa terumbu karang.


" Apa Kamu menyukainya, Anne?" tanya Brian yang tak di jawab oleh Anne. Karena ia tengah menikmati hembusan angin laut yang menerpa wajahnya.


Melihat Anne yang tengah menutup mata, dengan hijabnya yang di terpa angin laut, membuat gadis itu terlihat semakin cantik. Seulas senyum terbit di bibir Brian tatkala melihat raut kebahagiaan tercetak jelas dari wajah Anne.


Itulah definisi bahagia itu sederhana. Cukup bisa bersama dengan seseorang yang kita cintai, maka hidup di dunia seakan penuh arti dan warna.


Brian juga jadi ikut-ikutan menutup mata guna menikmati hembusan angin sepoi-sepoi. Suara deburan ombak yang menerpa terumbu karang pun terdengar begitu menenangkan jiwa yang sempat terbakar api cemburu.


Setelah beberapa menit menikmati hembusan angin, Anne pun mulai membuka matanya. Melihat Brian yang sedang menutup mata, membuat Anne tiba-tiba memiliki pemikiran jahil untuk membalas sikap Brian.


Tanpa aba-aba, Anne langsung menarik lengan Brian menuju pantai.

__ADS_1


" Anne, kamu mau apa?" tanya Brian yang tetap mengikuti langkah Anne. Melihat Anne yang mau memegang tanganya, membuat Brian senang. Namun, kebahagiaan itu berganti sebuah kekesalan ketika Anne mendorong tubuhnya masuk ke laut.


"Anne," seru Brian ketika kakinya basah terkena air laut.


Anne pun hanya menjulurkan lidahnya, lalu berlari ke tepi karena takut kalau Brian akan membalas sesuatu yang sama.


"Baiklah." Brian pun berlari mengejar Anne, dan terjadilah aksi saling kejar-kejaran.


Melihat Anne yang berlari dengan tersenyum bahagia, membuat Brian tiba-tiba ingin sekali mengabadikan momen itu. Brian pun berhenti berlari, dan mengambil ponselnya yang ada di saku. Lalu, memotret Anne dari kejauhan.


"Kakak ngapain?" tanya Anne yang jadi ikut memperlambat langkahnya.


" Tersenyumlah, Anne," pinta Brian sembari terus merekam apa yang dilakukan Anne.


" Kakak merekamku? "tanya Anne dengan berjalan mundur.


" Emm ..., "


Anne pun tersenyum dan menikmati indahnya pemandangan pantai. Ketika Anne sedang sibuk merekam dengan ponselnya, tiba-tiba Brian memercikkan air ke arahnya.


" Kak ..., " rengek Anne.


" Kenapa? Mau main air? "tawar Brian seraya terus memercikkan air ke arah Anne. Anne yang kesal pun, ikut memercikkan air ke arah Brian sehingga membuat baju keduanya cukup basah.


" Haus? "tawar Brian yang diangguki oleh Anne. Setelahnya, Brian berjalan menuju mobilnya untuk mengambil air mineral.


" Minumlah. " Brian menyodorkan sebotol air mineral untuk Anne.


" Terimakasih. " Anne pun segera meneguk minuman itu guna melegakan dahaganya.


Setelah minum, tiba-tiba Anne teringat suatu hal. Ia pun segera melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


" Astagfirullah, udah jam segini," gumam Anne ketika menyadari jika ia tadi belum sholat dzuhur. Pasalnya, sepulang kuliah Brian langsung membawanya secara paksa ke tempat ini.


" Ada apa, Anne?" tanya Brian ketika menyadari kegelisan gadis itu.


" Apa jarak apartemen kita jauh dari tempat ini?" tanya Anne.


" Lumayan, memangnya kenapa?"

__ADS_1


" Aku belum sholat dzuhur, gimana dong? " ujar Anne yang terlihat gelisah.


"Oh, mau sholat?" Brian terlihat berpikir, dan ia pun menemukan solusinya.


"Kalau gitu, kita ke hotel saja," usul Brian.


" Buat apa ke hotel?" Anne justru bertanya kembali.


" Ya, katanya mau sholat. Mana mungkin kamu sholat di sini, 'kan?"


Akhirnya, Anne pun paham dengan maksud Brian. Saking paniknya karena belum sholat, membuat Anne lupa kalau ia sedang tidak tinggal di Indonesia. Dimana, begitu banyak masjid atau mushola.


Anne setuju dengan usul Brian, meski di hotel tak ada tempat ibadah yang khusus untuk seorang muslim. Tapi, setidaknya mereka bisa memesan kamar agar Anne bisa berwudhu dan sholat.


" Ya ... Terus bajuku, gimana? gara-gara Kakak nih, bajuku jadi kotor dan basah," omel Anne dengan bibir yang sudah manyun.


" Kok Kakak sih? Bukannya kamu duluan yang ngedorong Kakak ke pantai sampai basah. Jadi, kita impas sama-sama basah dan kotor! Karena kalau sendirian nggak enak, "jelas Brian yang membuat Anne semakin kesal.


" Udah, gak usah cemberut ... nanti cantiknya hilang. Lagian, di mobil juga sudah ada baju ganti kamu, kok. "


" Oh, ya?" tanya Anne yang masih kurang percaya jika ada baju gantinya di dalam mobil. Pasalnya, mereka pergi secara mendadak, tanpa rencana terlebih dahulu.


" Apa jangan-jangan Kak Brian memang sudah merencanakannya? "batin Anne.


***


Sesampainya di hotel, Brian segera memesan kamar untuk Anne.


" Ini kartu kamarnya, kamu sholat dulu. Setelahnya kita makan siang. "


Anne mengangguk mengerti dan mengambil kartu itu. Begitupun dengan Brian yang masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk mandi dan juga mengganti pakaiannya yang basah.


...***...


Seusai mandi, dan sholat dzuhur. Anne pun segera turun menuju restoran karena ia memang sudah sangat lapar. Sedangkan Brian sudah pergi lebih dulu ke restoran untuk memesan makanan. Ketika sedang berjalan menuju restoran, tanpa sengaja Anne bertabrakan dengan seseorang.


" Sorry ...," ucap orang itu yang merasa bersalah karena telah menabrak orang lain akibat tidak terlalu fokus dengan jalannya.


"Oh, no problem."

__ADS_1


" Anne ...," seru orang itu tatkala menyadari jika orang yang ia tabrak adalah seseorang yang ia kenal.


...****************...


__ADS_2