
Selama dua hari ini, Anne dan Brian saling tak memberi kabar. Keduanya, sama-sama sedang menata hati dan pikiran. Namun, jika terus seperti ini semua urusan tak akan segera selesai.
Jadi, Anne bertekad untuk menyelesaikan semuanya hari ini. Soal keputusan apa yang akan nantinya Brian berikan, Anne hanya bisa pasrah. Setidaknya, Ia bisa tahu tentang kejelasan hubungannya, lanjut atau berhenti sampai di sini.
Selesai bersiap-siap, Anne segera turun ke bawah untuk sarapan pagi bersama keluarganya.
" Selamat pagi, Ma," sapa Anne sembari mencium pipi Mamanya.
" Mama aja yang di sapa, Anne? "sindir Papa Ken.
" Selamat Pagi, Pa. " Anne merangkul Papa Ken dari belakang serta memberikan kecupan di pipi sang Papa.
Melihat hubungan Papa Ken dan Anne yang sudah kembali seperti sedia kala, membuat semua orang ikut senang. Keluarga yang dulunya harmonis, seakan kembali lagi.
" Kamu ada kuliah pagi, Dek?" tanya Kean yang dijawab anggukan kepala oleh Anne.
"Kakak gimana? Kakinya sudah bisa di buat jalan lagi?" tanya Anne yang mencoba menanyakan kondisi Kakaknya.
" Alhamdulillah sudah."
" Syukurlah kalau begitu, lain kali kecepatannya jangan nanggung - nanggung, Kak. Jadi___"
" Anne ..." sela Papa Ken yang membuat Anne tersenyum memperlihatkan giginya.
" Kalau bicara itu yang baik dan sopan sama Kakaknya," tegur Papa Ken.
" Siap bos! Lagian juga Anne cuman bercanda aja kok, iya 'kan Kak?" Anne mencoba mencari pembelaan. Lagipula, dia memang sedang bercanda.
" Iya, adikku cantik,"jawab Kean sembari mengusap lembut kepala Anne. Kebetulan, Anne memang duduk di samping kanan Kean. Sedangkan di samping kiri ada Dinda istrinya.
Sebelum berpamitan, Anne mencoba meminta izin terlebih dahulu pada Papanya karena ia sudah berjanji untuk tidak sembunyi-sembunyi lagi jika bertemu dengan Brian.
" Pa," panggil Anne.
" Iya, ada apa Anne?"
" Anne ..." entah kenapa Anne tiba-tiba sedikit ragu dan cemas takut tidak di beri izin. Tapi kalau misalnya tidak izin dan ketahuan, pasti nanti papanya akan marah lagi. Bisa-bisa, Ia tak akan di beri kepercayaan lagi.
" Anne ..., " panggil Papa Ken ketika melihat Anne justru hanya diam saja, bukannya melanjutkan ucapannya.
"Eh, Iya, Pa."
" Kamu kenapa?"
"Em ... Kalau misalnya Anne minta izin buat ketemu sama___"
" Brian?" tebak Papa Ken yang tepat sasaran.
Anne tersenyum canggung. Sedangkan Papa Ken, kembali menyeruput kopinya yang belum habis.
" Buat apa kamu bertemu dengan dia?" wajah Papa Ken seketika terlihat berubah menjadi lebih dingin.
__ADS_1
" Anne hanya ingin menyelesaikan semuanya, Pa."
" Menyelesaikan apa?"
Setelahnya, Anne menjelaskan pada Papanya soal apa yang ingin ia selesaikan. Dan untungnya, hari ini Papa Ken lebih tenang dari biasanya. Ia tak langsung marah-marah seperti sebelum-sebelumnya.
" Bagaimana, Pa? "Anne meminta jawaban dari penjelasannya barusan.
" Baiklah, asal___"
" Di temani sama bodyguard!" sela Anne yang sudah hapal betul kalimat selanjutnya yang selalu Papanya ucapkan jika ia ingin pergi kemana-mana.
" Sudah hafal sekarang."
"Tentu hafal dengan peraturan putri yang terkekang," canda Anne yang langsung mendapatkan plototan dari Papa Ken.
" Bercanda, Pa." Anne memberikan tanda pis pada Papanya.
Melihat suaminya yang lebih pengertian, membuat Mama Dira juga ikut senang.
Sebelum pergi, Anne berpamitan dulu pada Papa Mamanya.
" Makasih ya, Pa. Papa baik, deh! " Anne mengecup pipi Papa Ken berkali-kali, membuat Pria paruh baya itu merasa geli. Ia tak pernah menyangka jika Anne bisa seekspresif ini.
Hanya mendapatkan sebuah izin untuk bertemu Brian saja, sudah membuat Anne terlihat begitu senang seperti mendapatkan jackpot.
" Tapi ... Anne harus ingat kata-kata Papa dan janji Anne waktu itu." Papa Ken mencoba mengingatkan kembali pembicaraan mereka tempo hari.
Sebelum berangkat, tiba-tiba Mama Dira keluar dari dapur dengan membawa paper bag.
" Anne, titip berikan ini sama, Bri ya?" pinta Mama Dira.
" Oke, Ma. Kalau begitu, Anne berangkat dulu, Assalamualaikum," salam Anne sembari mencium pipi Mamanya .
" Waalaikumsalam," jawab Mama Dira dan Papa Ken serentak.
...***...
Ketika Brian baru saja selesai mandi, tiba-tiba ada yang memencet bel.
" Siapa yang bertamu pagi-pagi seperti ini? Apa jangan-jangan Anne? " saking penasaran siapa yang datang sampai membuat Brian lupa jika ia hanya memakai bathrobe.
Ketika pintu sudah terbuka, betapa terkejutnya Brian saat melihat siapa yang datang.
" Bri ...," wanita itu langsung menghambur memeluk Brian.
Brian berusaha melepaskan diri, namun wanita itu semakin memeluknya erat. Dari tubuh wanita itu tercium aroma alkohol yang begitu menyengat, menandakan bahwa dia sedang mabuk.
" Cassi ... jangan seperti ini," ujar Brian sembari mencoba melepaskan pelukan Cassidy.
" No, aku masih ingin seperti ini. Kenapa kamu selalu saja menolakku, hem?"racau Cassidy.
__ADS_1
" Tubuhmu sangat harum dan bikin candu, Bri. " Cassi mengendus-endus tubuh Brian seperti anak kucing yang mencari kehangatan pada ibunya.
" Cassi, stop! kalau tidak aku bisa bersikap kasar padamu!" ancam Brian seraya melepaskan diri.
Cassidy menatap sendu ke arah Brian, dia kecewa tatkala mengingat kembali kejadian dimana Brian yang terus saja menolaknya. Bahkan, Ia sampai tak peduli saat orang tuanya membatalkan perjanjian kerjasama.
Baru saja keluar dari pintu lift, Anne langsung di suguhan dengan pemandangan yang sangat tak mengenakkan. Dimana, Ia menyaksikan kekasihnya sedang berpelukan dengan wanita lain. Raut wajah penuh bahagianya seketika hilang dalam waktu sekejap, berubah dengan rasa cemburu bercampur amarah.
Dengan langkah besar, Anne menghampiri Brian dan Cassidy dengan wajah penuh amarah.
Anne langsung melepaskan pelukan Cassidy pada Brian secara kasar. Lalu, menampar wanita itu. Melihat Anne yang bisa begitu kasar pada orang lain, membuat Brian tercengang dan tak percaya. Pasalnya, selama ini ia hanya tahu jika Anne itu suka mengomel, bercanda, dan baik hati.
" Hei, apa-apaan kamu!" bentak Cassidy sembari memegang pipinya yang memerah bekas tamparan keras dari Anne.
" Seharusnya aku yang bertanya begitu! Apa maksudmu memeluk kekasihku, huh?" bentak Anne.
Kini, Anne berbalik menghadap Brian. " Kakak juga! Kenapa mau-maunya di peluk sama uler bau alkohol!" omel Anne sembari memukul dada bidang Brian.
" Anne cukup!" Brian menghentikan aksi Anne.
" Kenapa Kakak menatapku seperti itu? "tanya Anne yang bingung dengan tatapan Brian padanya. Tatapan yang tak biasanya Brian berikan padanya.
" Kenapa? Lagipula, buat apa kamu datang ke sini? Kamu tidak takut di marah oleh Papamu? " sarkas Brian.
Anne memundurkan langkahnya selangkah.
" Ada apa dengan Kakak? Apa Kakak marah denganku?" tanya Anne yang terlihat bingung.
Brian menyeringai. " Buat apa aku marah! "
" Ya ... Kalau begitu, kenapa Kakak terlihat berbeda dari biasanya? Kakak seperti bukan Kak Brian yang aku kenal."
" Memangnya, Brian seperti apa yang kamu kenal? " Brian berjalan mendekati Anne, tetapi gadis itu justru terus mundur menjauh.
" Kamu takut aku dekati, Anne? " Brian menghentikan langkahnya.
" Jika kamu takut, pergilah. Lagipula, kita juga tak ada hubungan apa-apa. "
Pupil mata Anne seketika melebar tatkala mendengar ucapan Brian yang mengatakan bahwa mereka tak ada hubungan.
" Apa maksud Kakak? "tanya Anne.
" Kamu sudah dewasa Anne, jadi aku tak perlu menjelaskannya secara rinci 'kan? " sarkas Brian seraya menggandeng tangan Cassidy dan membawa wanita itu masuk ke dalam kamar hotelnya.
Otot-otot tubuh Anne seketika melemah sehingga membuatnya hampir saja jatuh.
" Non ..., " seru bodyguard Anne yang sigap menangkap tubuh majikannya yang hampir terjatuh.
Anne berusaha melepaskan diri dari sang bodyguard. Tetapi, tubuhnya masih terasa begitu lemas, dadanya juga sangat sakit bagikan di tusuk ribuan pisau. Anne tak pernah mengira bahwa kedatangannya langsung mendapatkan sebuah kejutan seperti ini.
" Apa aku di campakkan?"
__ADS_1
...****************...