
" Kamu ..., " Abi menunjuk ke arah Brian sambil mengingat-ingat siapa orang yang berada di hadapannya sekarang.
" Prang ..."
Ketika mendengar suara keras dari kamar Anne, membuat ketiga orang itu langsung berlari masuk ke dalam kamar.
" Astagfirullah," Anne beristighfar tatkala mengetahui bahwa ia membuat sesuatu terjatuh. Padahal, niatnya hanya ingin mengambil buku sketsanya yang terletak di atas nakas tapi siapa sangka jika ia justru menyenggol sebuah gelas sampai terjatuh ke lantai.
" Anne ... Kamu tidak apa-apa?" seru semua orang bersamaan yang membuat Anne sedikit terkejut.
Anne pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu meraba kepala dan tubuhnya. Dan, untung saja ia sudah memakai hijab dan juga pakaian panjang.
Brian dan Abi segera berjalan menghampiri ranjang Anne.
" Stop!" cegah Anne karena ada serpihan kaca.
" Kalian di situ saja dulu, soalnya ada serpihan kaca."
Sedangkan sang maid sudah pergi mengambil alat kebersihan untuk membersihkan serpihan kaca yang ada di dekat tempat tidur Anne. Dan tak berselang lama, maid pun kembali dengan membawa peralatan kebersihan.
Kedua pria itu, seakan seperti patung yang menurut untuk diam di tempatnya sembari menatap ke arah sang maid yang sedang membersihkan kaca.
" Bersihkan sampai bersih ya, mbak," seru kedua pria itu bersamaan.
" Jangan sampai ada sisa sedikitpun!" lagi-lagi apa yang mereka ucapkan sama dan berbarengan. Brian dan Abi saling pandang satu sama lain dengan tatapan heran bercampur tak suka. Bisa-bisanya mereka terus-menerus mengutarakan kalimat yang sama.
Sedangkan Anne justru merasa kalau kekompakan mereka akan memacu sesuatu yang tak baik.
" Kenapa lo ikut-ikut?" kesal Abi.
" Huh?" Brian terlihat kurang paham dengan apa yang Abi katakan.
" Huh?" ulang Abi yang ikut tak mengerti kenapa pria di depannya itu justru menjawab seperti itu.
Sedangkan Anne hanya bisa memijat pelipisnya yang berdenyut.
Setelah sang maid selesai membersihkan serpihan kaca, Brian maupun Abi segera berjalan mendekat ke ranjang Anne dengan saling memberikan tatapan tajam dan saling senggol.
" Bisakah kita bicara di luar saja?" saran Anne yang merasa kurang nyaman ada dua orang pria berada di dalam kamarnya. Apalagi, status mereka bukanlah muhrim bagi Anne.
" Bukankah kakimu masih sakit, Anne?" ujar Abi mengingatkan.
__ADS_1
" Aku sudah jauh lebih baik." Anne berusaha untuk bangun di bantu oleh sang maid.
" Stop! Jangan banyak bergerak dulu, nanti akan lebih lama lagi penyembuhannya."
Ketika melihat Abi yang memegang kaki Anne untuk memeriksanya, dada Brian tiba-tiba terasa sesak. Ingin rasanya Ia menghentikannya, tapi apalah daya. Saat ini, Abi adalah seorang Dokter yang sedang memeriksa kaki Anne. Sedangkan dia? Tidak mungkin memperlihatkan kecemburuannya itu dengan jelas. Takutnya, Anne akan merasa ilfil dengannya jika over protek, padahal bukan siapa-siapa.
" Sepertinya bengkaknya sudah lebih mengempis dari foto sebelumnya," ujar Abi dan diangguki oleh Anne.
" Kalau begitu, terus di kompres dengan es batu dan obatnya jangan sampai lupa di minum lagi biar cepat sempuh. Kalau ada keluhan lagi, kamu bisa hubungi Kakak, oke! " lanjutnya.
" Baik, Kak. Makasih sebelumnya. "
" Sama-sama."
Jika di perhatikan kembali, Brian seperti merasa ada sesuatu yang berbeda dari tatapan Abi ke Anne. Dia seakan melihat tatapan penuh kekaguman, dan rasa cinta. Mungkin, karena sama-sama pria dan juga ada rasa yang sama sehingga membuat Brian lebih peka.
"Apa jangan-jangan Dokter Abi menyukai Anne?" gumam Brian dalam hati.
***
Setelah menyelesaikan semua urusan, Mama Dira dan Papa Ken segera kembali ke ibu. Sesampainya di rumah, mereka langsung bergegas menuju kamar Anne guna melihat bagaimana kondisi putrinya itu. Selama perjalanan dinas, Mama Dira terus saja menelpon Anne guna menanyakan bagaimana kondisinya. Meski di rumah ada Brian, dan Anne juga mengatakan kalau dia sudah baik-baik saja, hati orang tua tetap tak tenang jika belum melihat secara langsung.
" Mama ...," seru Anne dengan wajah bahagia tatkala melihat Mamanya telah kembali.
" Anne...," Mama Dira langsung memeluk putrinya itu guna menumpahkan rasa rindu. Begitupun dengan Papa Ken.
" Bagaimana keadaanmu sayang?" tanya Papa Ken.
" Seperti yang Mama dan Papa lihat, Anne sudah baik-baik saja."
" Syukurlah, Mama jadi lega dengernya. "
" Maaf ya sayang, gara-gara ada urusan mendadak membuat kita meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini. " Papa Ken kembali meminta maaf untuk kesekian kalinya, membuat Anne justru merasa tak enak.
" Ih ... Papa ... Itu terus yang di bahas. Lagian, putri Papa ini bukanlah anak kecil lagi. Jadi, kurangilah sedikit sifat Papa yang selalu menganggap Anne itu anak kecil."
Papa Ken tersenyum sembari mengusap puncak kepala Anne. " Tapi, bagi Papa kamu masih terlihat sama seperti putri kecil Papa dulu, tidak berubah. "
" Papa ..., " kesal Anne yang justru mengundang gelak tawa dari Mama Dira dan juga Papa Ken.
Di karenakan momennya cukup pas, Anne mencoba memberanikan diri untuk segera memberitahukan kabar tentang pertukaran mahasiswa yang telah ia terima, karena kampus tujuannya akan memulai semester baru dalam dua minggu kedepan. Jadi, dia harus segera meminta persetujuan dari Mama dan papanya agar segera bisa mempersiapkan keperluan yang lainnnya.
__ADS_1
" Ma ... Pa ... Anne mau berbicara sesuatu, boleh?" izin Anne.
Melihat wajah Anne yang serius, membuat Mama Dira dan Papa Ken saling pandang satu sama lain. Tidak biasanya Anne meminta izin dulu jika ingin berbicara.
" Kamu mau bicara apa, Anne?" tanya Papa Ken yang jadi penasaran.
" Tapi, Papa sama Mama janji harus dengarkan Anne sampai selesai bicara dulu, baru menanggapi tidak boleh memotong, oke?" ujar Anne yang memberikan syarat terlebih dahulu.
Hal itu, tentu saja membuat Mama Dira dan Papa ken semakin penasaran. Jadi, mereka berdua hanya bisa mengangguk, menuruti permintaan sang putri.
Anne menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
" Begini ... Setiap tahun, kampus Anne akan mengadakan pertukaran mahasiswa antar Negara. Terus, Anne coba-coba mendaftarkan diri untuk menjadi peserta pertukaran mahasiswa antar Negera itu."
Mendengar kata antar negara, membuat Papa Ken terkejut dan ingin menyanggah. Tapi, segera di hentikan oleh Mama Dira.
"Biarkan, Anne melanjutkan ucapannya dulu," cegah Mama Dira, lalu mempersilahkan Anne untuk melanjutkan ucapannya.
" Dan ... Alhamdulillahnya Anne keterima. Jadi, apakah boleh Anne mengambilnya?" tanya Anne dengan raut wajah penuh harap. Pasalnya, selama ini Papa Ken selalu melarangnya untuk kuliah ke luar negeri.
" Tentu, boleh."
" Tidak! "
Anne tercengang tatkala mendengar jawaban Papa dan Mamanya yang berbeda.
Papa Ken dan Mama Dira saling lempar pandang karena jawaban mereka bertolak belakang.
" Anne, bukankah Papa sudah berulang kali bilang bahwa tidak ada kuliah di luar Negeri. Jadi, Papa tidak akan setuju!" tukas Papa Ken dengan tegas.
" Tapi, Pa___"
" Tidak ada tapi-tapian!" potong Papa ken sebelum Anne menyelesaikan ucapannya.
" Mas! Bisakah kamu jangan egois seperti ini?" sahut Mama dira yang ikut kesal.
" Mas bukannya egois sayang, hanya___"
" Hanya apa?" tanya Mama Dira yang ikut penasaran dengan alasan atas penolakan suaminya. Padahal, biasanya banyak orang tua yang ingin anaknya menempuh pendidikan keluar negeri. Tapi, entah kenapa Papa Ken justru melarang hal itu.
...****************...
__ADS_1