
Melihat Daddy Samuel yang bagaikan patung hidup, membuat Papa Ken menepuk pundaknya seraya memberikan sebuah kata-kata penyemangat.
" Saya tahu bagaimana sedihnya di tinggal oleh orang yang kita sayangi, tetapi kamu harus Ikhlas karena sekarang Brian sudah tenang di sana."
Daddy Samuel hanya tersenyum getir, kemudian berlalu pergi begitu saja karena tak sanggup lagi berlama-lama di pemakaman Brian. Ingin rasanya mengamuk pada Semesta yang telah mengambil putra satu-satunya. Putra yang membuatnya bisa bertahan hidup di dunia ini, jika tak ada dia. Buat apa dia hidup?
" Tuan," panggil Jeremy pada Daddy Samuel.
" Ada apa?"
" Ini, ada surat dari bos untuk Anda." Jeremy memberikan sebuah amplop berwarna putih itu pada Daddy Samuel.
Daddy Samuel pun mengambilnya, lalu melanjutkan berjalan pergi menuju kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, Daddy Samuel langsung membuka surat itu.
Dear Daddy
...Hai, Dad....
...Jika Daddy membaca surat ini, itu tandanya Brian sudah tak ada lagi di dunia ini. Tetap tersenyum dan jangan bersedih ya Dad ... Karena Brian tak ingin ada air mata yang mengiringi kepergian Brian....
...Kepergian Brian merupakan sebuah takdir, jadi jangan pernah menyalahkan diri sendiri atau orang lain. Karena pada sejatinya, kita tak akan bisa hidup kekal di dunia yang fana ini. Lagipula, jika Bri pergi itu tandanya Bri tak akan merasakan sakit lagi serta menyusahkan orang-orang di sekitar Bri....
...Dad ......
...Terimakasih atas segalanya, Brian bersyukur dan merasa beruntung bisa menjadi putra dari seorang pria yang sangat hebat seperti Daddy. Maaf jika selama ini, Brian banyak salah sama Daddy....
Daddy Samuel menggeleng, air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan. Kini sudah jatuh menetes membasahi pipinya.
" Bri tak punya salah sama Daddy, justru Daddy yang meminta maaf karena tidak bisa menyembuhkan penyakit Bri. Jika boleh memilih, Daddy siap kehilangan segalanya asalkan jangan Bri. Bahkan, Daddy bersedia menggantikan posisi Bri. Tapi sayangnya, sebanyak apa harta yang Daddy memiliki tak mampu membeli sebuah nyawa. "
Katanya, sebelum empat puluh hari. Orang yang telah meninggal masih berada di sekeliling kita. Jadi, Ia bisa melihat semua kejadian di dunia ini. Namun, tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa melihat tapi tak mampu menyentuh.
Dan, di dalam kamar itu terlihat sebuah roh yang berada di samping Daddy Samuel.
" Daddy jangan sedih ...," ucap roh itu yang tak lain adalah Brian.
Daddy Samuel kembali melanjutkan membaca surat yang Brian tulis untuknya.
...Dad ......
...Jika Bri pergi, Daddy Menikahlah lagi. Jangan terus sendiri seperti ini, setidaknya Daddy akan ada yang menemani. Lebih bagus lagi kalau Daddy bisa punya anak lagi sebagai pengganti Brian. Jadi, ada penerus keluarga Marsello....
Daddy Samuel kembali menggeleng.
" Bri tak akan pernah tergantikan oleh siapapun," ucap Daddy Samuel.
...Love you Dad, Brian sayang Daddy....
__ADS_1
" Love you too, my boy."
...***...
Setelah acara pemakaman selesai, Kenzo Fams berniat untuk pergi dari Mansion Marsello. Awalnya, Mereka ingin berpamitan dulu pada Daddy Samuel, tapi dia justru tak mau keluar untuk menemui mereka. Jadi, terpaksa mereka pergi tanpa berpamitan.
" Anne," panggil Jeremy saat melihat Anne akan pergi.
Anne pun menghentikan langkahnya.
" Ada apa, Jer?" tanya Anne.
Jeremy memberikan sebuah kotak persegi pada Anneta.
" Apa itu, Jer?" bukan Anne yang bertanya. Melainkan Kean yang masih setia berdiri di samping adiknya.
" Sesuatu yang harus saya berikan pada Anneta," jawab Jeremy ambigu yang membuat Anne, Kean, dan Dinda bingung. Apa sebenarnya isi di dalam kotak itu.
" Stop! " Jeremy menghentikan Anne yang akan melihat apa isi di dalam kotak itu.
" Jangan di buka di sini, bukalah ketika kamu sudah sendirian. "
" Itu bukan sesuatu yang berbahaya kok, hanya sebuah kenang-kenangan, lanjut Jeremy tatkala menyadari tatapan curiga dari Kean.
" Terimakasih," ucap Anne.
Setelahnya, mereka bertiga pergi menyusul Mama Dira, Papa Ken dan Pangeran yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di hotel, semua orang bersiap untuk masuk ke dalam kamar masing-masing.
" Kak," panggil Anne pada Kean yang akan masuk kedalam Kamarnya.
" Ya, Anne. Ada apa?"
" Boleh Anne masuk ke kamar Kakak saja?"
Dahi Kean berkerut, lalu berganti melirik ke arah istrinya.
" Kenapa Kamu mau tidur di kamar Kakakmu, Anne? Bukankah kamu sudah punya kamar sendiri?" tanya Papa Ken yang juga masih belum memasuki kamarnya.
" Anne ... "
" Kamu sudah punya suami, Anne. Jadi, tidurlah di kamarmu sendiri," ujar Kean yang merasa tak enak ketika melihat Anne terus mengabaikan Pangeran seakan ia tak ada.
" Tapi Anne tidak___"
" Sekalipun Anne tidak menyukainya, dia tetap suami Anne. Seorang suami yang harus Anne patuhi dan hormati. Jadi, pergilah masuk ke kamarmu dengan Pangeran," titah Papa Ken lembut.
__ADS_1
Sebagai seorang ayah yang tahu akan hukum agama, sudah sepantasnya Papa Ken mengingatkan putrinya jika ia berbuat salah. Sekalipun kondisi Anne yang sedang berduka serta tak menginginkan suaminya.
" Jangan Paksa Anne, jika dia tak mau." Mama Dira justru membela Anne.
Ia menguatkan diri untuk berjalan menghampiri Anne." Jika Anne tak mau masuk ke kamar itu, masuk ke kamar Mama saja, " usul Mama Dira.
" Sayang ... Kamu tidak bisa berbuat seperti ini. Bagaimana pun juga Anne itu___"
" Kenapa kalian suka sekali membuat Anne melakukan hal yang tak ia sukai. Lagipula, apakah sebelumnya kalian sudah meminta pendapat Anne saat akan mengubah pengantin pria?" pungkas Mama Dira dengan nada cukup tinggi.
Melihat keluarganya yang justru berdebat, membuat Pangeran akhirnya membuka suara.
" Jika Anne belum siap satu kamar dengan saya tidak apa-apa, saya mengerti. "
" Baguslah! "tandas Mama Dira yang langsung membawa Anne masuk ke dalam kamarnya.
Melihat pintu kamar yang tiba-tiba di kunci, membuat Papa Ken bingung dan mencoba mengetuk.
" Sayang, Mas kok di kunciin di luar? "tanya Papa Ken. Namun tak mendapat sahutan apapun dari istrinya.
" Mama kenapa justru mengunci Papa? "tanya Anne.
" Biarkan saja, biar kita bisa tidur berdua di kamar ini. "
Anne tersenyum, lalu memeluk Mamanya dengan erat. Kedua wanita itu saling berpelukan dan menguatkan satu sama lain karena diantara mereka semua yang paling merasa kehilangan Brian selain Daddy Samuel ya Mama Dira dan Anne.
Dikarenakan tak bisa masuk ke dalam kamar itu, terpaksa Papa Ken harus memesan kamar lagi.
...****************...
Kini, Pagi telah kembali menyapa. Di saat Mama Dira terbangun, Ia tak mendapati Anne ada di sampingnya.
" Anne, kamu dimana?" panggil Mama Dira seraya mencari keberadaan putrinya. Namun, Ia tak menemukan Anne ada di dalam kamar itu.
Di saat akan keluar dari kamar, Mama Dira seakan melihat sebuah surat diatas meja. Ia pun kembali melirik ke arah meja yang ada di dalam kamarnya, dan benar jika ada surat di sana.
Tanpa berlama-lama, Mama Dira langsung membuka isi surat itu dan membaca.
[Dear Mama, Papa, Kak Kean, dan Pangeran.
Maaf jika Anne pergi tanpa pamit lagi, tapi Anne memang benar-benar butuh waktu untuk sendiri. Jadi, Anne harap kalian bisa mengerti dan memaklumi.]
^^^Anneta^^^
Mama Dira spontan menutup mulutnya yang menganga akibat terkejut setelah membaca pesan singkat dari Anne. Ia pun segera bergegas keluar dari kamar untuk memberitahukan hal ini pada semuanya. Pasalnya, sekarang Anne pergi sendiri, jadi Ia takut jika akan terjadi sesuatu pada putrinya.
...****************...
__ADS_1
Kira-kira, Anne kemana?
Kalau tamat sampai di sini saja gimana, guys?