
Di saat jama sarapan pagi telah tiba, Anne masih beralas-malasan berada di dalam kamarnya, berteman buku sketsa dan juga pena. Bagi seorang pelukis, dua hal itu sangatlah penting dalam hidupnya. Dimana, mereka suka mengabadikan suatu momen lewat sebuah goresan pena.
Di dalam kamar ini, tempat favorit Anne berada di sofa panjangnya yang terletak dekat jendela. Dimana, Ia bisa melihat pemandangan taman belakang yang terlihat sejuk, dan teduh karena di penuhi oleh pohon-pohon besar yang rindang.
Tiba-tiba, Anne merasa rindu dengan almarhum Oma Carol. Oma yang selalu memanjakannya, menyayanginya, paling mengerti, dan selalu menuruti setiap keinginan Anne. Menjadi cucu perempuan satu-satunya, membuat Anne menjadi pusat perhatian dan kasih sayang.
" Oma, Anne rindu," ucap Anne sembari menatap foto Oma Carol yang tersimpan di dalam ponselnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
" Non," panggil seorang maid dari balik pintu.
Awalnya, Anne mengabaikan panggilan itu karena Ia tahu jika sang maid memanggil pasti karena di suruh oleh Papa, Mama, atau Kakaknya. Namun, lama-lama ia kasihan juga mendengar sang maid yang terus-menerus memanggil namanya.
Dengan terpaksa Anne membukakan pintu.
" Ada apa, Mbak?" tanya Anne ketika pintu sudah terbuka.
" Itu, non di suruh turun untuk sarapan bersama," papar sang maid.
" Mbak bilang aja, kalau Anne masih kenyang. Jadi, belum ___" ucapan Anne terhenti ketika perutnya berbunyi nyaring. Menandakan bahwa Ia sebenarnya sudah lapar, tapi berpura-pura kenyang.
" Sepertinya perut non lebih jujur," sindir sang maid yang membuat Anne sangat malu.
" Dasar perut! Ngapain bunyi segala sih! Emang gak bisa diajak kompromi!" kesal Anne dalam hati.
" Nggak kok! Pokoknya, mbak bilang aja kalau Anne belum mau sarapan!" tandas Anne. yang segera menutup pintunya.
" Tapi, non__" Anne langsung menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam.
" Non, tolong turun untuk sarapan. Kalau non gak turun, nanti saya di marahin Tuan, sama den Lean, " kata sang maid yang takut dimarahi oleh kedua pria itu jika tak berhasil menyuruh Anne makan.
Anne berusaha untuk tak mendengar panggilan dari sang maid. Entah kenapa, Anne masih malas saja untuk bertemu atau sekedar sarapan bersama dengan keluarganya. Apalagi ada Kak Lean dan juga Papanya.
Dikarenakan Anne tak kunjung keluar, sang maid pun memutuskan untuk kembali ke lantai atas. Toh, sampai mulutnya berbisa pun Anne tak akan keluar dan mendengarkan ucapannya.
" Anak orang kaya mah, emang aneh! Tinggal di suruh duduk manis, dan makan aja sulit. Padahal, sudah tersedia berbagai makanan tanpa capek-capek masak." sang maid hanya bisa ngedumel sendiri.
Ketika melihat sang maid hanya datang sendiri tanpa Anne, membuat Lean langsung berdiri dari tempat duduknya.
" Mau ke mana, Bee? " cegah Nala tatkala melihat suaminya yang tiba-tiba berdiri. Padahal, makanannya belum selesai.
" Mau ke kamar Anne, " jawab Lean singkat
__ADS_1
" Mau ngapain? "
" Nyuruh dia makan dan minum obat. " Lean mencoba melepaskan cekalan tangan Nala, namun gadis itu menolaknya.
" Biar aku saja!" tukas Nala yang tak mau ada keributan di pagi hari.
" Kamu belum selesai makannya. "
" Bee juga belum, lagian Bee ada operasi 'kan pagi ini? " Nala mencoba mencari alasan agar dia saja yang menemui Anne. Daripada Lean yang nantinya akan ada perdebatan kecil sehingga membuat hubungan mereka ikut merenggang, sama halnya Papa Ken dan Anne.
" Iya, Le. Biar Nala saja yang ke kamar Anne, kamu lebih baik berangkat kerja saja." Mama Dira ikut memberi usulan. Pasalnya, dia tahu betul bagaimana sifat para lelaki di rumah ini.
Nala mengedipkan matanya dengan senyum lebar, berharap jika suaminya akan mengalah dan menurut.
" Baiklah, kalau begitu. Jangan lupa suruh Anne untuk meminum obatnya, dan kamu juga. Susu dan vitamin jangan sampai kelupaan," ucap Lean sembari menoel hidung Nala.
" Em." Nala mengangguk patuh.
" Kalau begitu, Bee berangkat ke rumah sakit. Kamu baik-baik di sini, oke! "pesan Lean sebelum pergi.
" Siap, suamiku yang ganteng. "
Sebelum pergi, Lean tak lupa juga untuk memberi kecupan pada perut istrinya yang sudah sangat besar, dan berpamitan pada sang buah hati.
***
" Anne, bukain pintunya." panggil Nala sembari mengetuk pintu kamar Anne.
" Nala?" gumam Anne yang langsung bergegas bangun. Lalu berjalan untuk membukakan pintu.
" Hai adik ipar," sapa Nala dengan tersenyum.
" Ada apa?"
Bukannya menjawab, Nala justru membuka pintu Anne lebar-lebar agar para maid bisa masuk untuk meletakkan makanan.
" Ini apa-apaan?" tanya Anne bingung.
" Apakah matamu mulai rabun Anne?" goda Nala yang membuat Anne semakin bingung.
" Maksudnya? "
" Ya, taruh situ saja semua, Mbak," ucap Nala pada dua orang maid.
__ADS_1
" Nal!" panggil Anne yang masih tak di hiraukan oleh Nala.
" Oke, terimakasih ya, mbak. Kalau begitu, kalian sudah boleh pergi." Nala berucap dengan lemah lembut pada sang maid.
Sepeninggal sang maid, terlihat Anne memberikan tatapan tajam ke arahnya dengan tangan yang di lipat depan dada.
" Kamu kenapa, Anne? " tanya Nala yang masih terlihat santai.
" Seharusnya aku yang tanya. Kamu kenapa bawa makanan sebanyak ini ke kamarku?" tukas Anne.
Nala menghembuskan nafas panjangnya sambil mengusap-usap perutnya yang sudah sangat besar. Lalu, merangkul lengan Anne dan mengajaknya duduk.
" Jangan marah atau ngambek terus, nanti cepat muncul garis-garis kecil membentuk sebuah keriput di wajah cantik ini," seloroh Nala sambil membelai lembut wajah Anne.
" Apaan sih, Nal!" kesal Anne.
Nala hanya tersenyum, lalu mengambil sebuah cake kesukaan Anne.
" Emmb ... Cake buatan Mama emang gak ada duanya. Selalu enak, lembut, apalagi cremnya ini ... manis, pecah di mulut" Nala mendesah seakan begitu menikmati makanan yang ada di dalam mulutnya guna meng iming-imingi Anne.
Sedangkan, Anne terlihat menelan ludah seakan membayangkan bagaimana enaknya cake strawberry buatan Mamanya yang memang juara.
Nala terlihat melirik ke arah Anne yang mulai terpancing.
" Kalau mau, ambil aja Anne. Aku ikhlas kok berbagi sama kamu," goda Nala yang langsung membuat Anne membuang muka.
"Oh, gak mau. Kalau gitu, aku habis___ Belum selesai Nala bicara, Anne sudah merebut piring berisi beberapa cake strawberry itu.
Ingin rasanya Nala tertawa terbahak-bahak, namun ia tahan karena takut akan membuat Anne ngambek lagi. Soalnya, adik ipar sekaligus sahabatnya itu mudah sekali ngambek.
Ketika Anne ingin mencicipi cake strawberry itu, tiba-tiba Nala menghentikannya.
" Sebelum makan cake, minum obat maag dan makan nasi dulu," kata Nala yang membuat Anne kecewa.
Nala mengambil cake yang ada di tangan Anne, lalu menggantinya dengan obat maag.
" Cepat di minum, kalau tidak. Kakakmu akan ngomel!" tandas Nala sembari menuangkan sirup obat maag.
" Lo nggak asik! "kesal Anne yang tak di hiraukan oleh Nala.
" Aa ..., " ucap Nala yang sudah menyodorkan sendok berisikan obat maag.
" Gue udah___" Nala langsung mencengkram mulut Anne dan membukanya secara paksa agar bisa memasukkan obat itu. Layaknya seorang ibu yang memaksa putrinya untuk meminum obat. Begitulah Anne yang memang seperti anak kecil kalau soal minum obat. Sulit bin ruwet! Harus di paksa dan di awasi jika ingin benar-benar di minum.
__ADS_1
...****************...