
Selesai sholat isya, Anne mencoba untuk menghubungi Brian sebentar. Mumpung di sana sudah pagi. Setelah dering ketiga, panggilannya baru diangkat.
" Halo," sapa Anne pada Pria yang masih terlihat sulit membuka matanya.
Mendengar suara yang menelponnya terdengar tak asing, membuat sepasang mata Brian langsung terbuka lebar.
" Anne!" seru Brian dengan penampilan yang masih terlihat begitu berantakan dan ekspresi terkejut. Bagaimana tak terkejut, baru bangun tidur, tiba-tiba di Vidio call oleh kekasih.
Meski berantakan dan terkejut, namanya orang ganteng, mah tetap ganteng aja.
" Apa sih, Kak?" tanya Anne dengan suara sedikit manja dan menahan senyum.
" Aku cuci muka dulu, ya." Brian bergegas turun dari ranjangnya menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Meski hanya melakukan vidio call, masak iya teleponan dalam keadaan berantakan, belum cuci muka, dan gosok gigi. Nanti kalau Anne ilfil gimana?
Begitulah pria, jaga image jika masih dalam pdkt, beda lagi kalau sudah menikah, keluar semua.
Sedangkan Anne, terlihat tersenyum setelah melihat Brian baik-baik saja. Tak berselang lama, Brian sudah kembali lagi dengan wajah yang jauh lebih segar dari sebelumnya.
" Kamu belum tidur, Anne?" tanya Brian saat melihat jam berapa sekarang di sana.
" Ini sudah mau tidur, tapi pengen lihat wajah Kakak dulu, biar rindunya sedikit terobati," ucap Anne yang langsung membuat pipi Brian merona malu.
Tumben-tumbenan, Anne bersikap terang-terangan jika sedang merindukan dia. Padahal biasanya selalu jual mahal, mungkin efek ldr kali ya.
" Cie ... merah pipinya, "goda Anne.
" Apaan sih, nggak kok! "elak Brian.
" Kalaupun merah juga gapapa kali, Kak. Gak usah malu. "
Di saat Anne masih asik mengobrol dengan Brian, tiba-tiba terdengar suara maid yang mengetuk pintunya.
" Sebentar ya, Kak. " Anne beranjak turun dari ranjang ya, bergegas berjalan menuju pintu yang tadi sempat ia kunci sebelum sholat karena ia sedang tak ingin dj ganggu.
" Ada apa, Mbak?" tanya Anne ketika pintu sudah terbuka.
" Oh, saya cuma mau memberikan aroma therapy, sama membereskan piring bekas makanan, Non."
Setelahnya, Anne mempersilahkan maid itu untuk masuk.
__ADS_1
" Siapa, Anne?" tanya Brian.
" Mbak," jawab Anne singkat yang masih belum fokus untuk melanjutkan vidio call karena masih ada maidnya.
" Non, obatnya kok belum di minum? "ujar sang maid yang menjalankan amanah dari Lean untuk mengecek apakah Anne sudah meminum obatnya apa belum.
" Oh, nanti akan saya minum. "
" Bisakah sekarang saja, non? Soalnya saya di suruh Tuan Lean untuk memastikan kalau non sudah meminum obatnya. "
Anne hanya bisa menghembuskan nafas beraratnya ketika mendengar Kakaknya yang begitu cerewet. Dengan berat hati, Anne mengambil beberapa capsul obat yang telah di sediakan oleh Lean, lalu segera meminumnya agar sang maid pergi dan tak akan ada omelan lagi dari kakaknya yanb cerewet. Setelahnya, maid itu pun pergi karena tugasnya sudah selesai. Sedangkan Brian terus mendengarkan percakapan Anne dan juga sang maid.
"Anne, kamu sakit?" tanya Brian sambil memperhatihan wajah Anne yang memang terlihat sedikit pucat.
" Nggak kok, hanya jet lag saja," dusta Anne yang tak mau membuat Brian khawatir.
" Jangan bohong Anne, aku tadi dengar kok kalau Kak Lean menyuruh maid untuk mengawasi kamu minum obat. Kamu sakit apa Baby?"
Anne memicingkan matanya ketika Brian memanggilnya Baby. " Jangan memanggilku dengan panggilan seperti itu. Lagian, hanya sakit ringan saja. Setelah minum obat dan istirahat yang cukup, pasti sudah sembuh kok. Jadi, nggak usa khawatir, oke! "
" Beneran hanya sakit ringan?" Brian masih terlihat tak percaya.
" Iya, Kakk .... "
" Em, bisakah nyanyikan aku lagu penghantar tidur? "pinta Anne.
" Kamu yakin?"
Anne mengangguk.
Brian pun mengambil gitarnya, lalu menyanyikan sebuah lagu yang di sukai oleh Anne. Sedangkan Anne, sudah mulai memejamkan matanya. Meski hanya lewat panggilan vidio, momen ini terasa seperti nyata. Dimana Brian bisa melihat Anne mendengarkan nyanyiannya sampai tertidur.
" Anne ...," panggil Brian yang sudah tak lagi mendapatkan jawaban. Menandakan bahwa gadis itu sudah tertidur.
" Selamat tidur, Anne. Semoga mimpi indah," ucap Brian sembari mencium layar ponselnya yang penuh dengan wajah Anne. Ia berharap, suatu hari nanti bisa mencium kening itu secara langsung.
***
Suara adzan subuh mulai terdengar berkumandang di mushola keluarga Fabio guna membangunkan para penghuni rumah itu. Satu persatu, orang-orang di dalam rumah itu terbangun untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Begitu halnya dengan seorang gadis cantik dengan bola mata berwarna abu itu.
Anne terbangun dengan kondisi yang fresh dan jauh lebih baik dari sebelumnya. Anne mencoba merenggangkan otot-otot tubuhnya, lalu bergegas turun dari ranjangnya. Perlahan tapi pasti, Anne berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka, gosok gigi dan mengambil air wudhu.
__ADS_1
Mendengar suara iqomah sudah di kumandangkan, Anne bergegas keluar kamarnya untuk ikut sholat berjamaah di lantai bawah. Dimana, mushola keluarga berada.
Seusai sholat, Nala langsung menghampiri Anne.
" Adik iparku yang cantik sudah sehat?" goda Nala dengan suara lirih.
" Sudah."
" Syukurlah kalau begitu." Nala langsung memeluk Anne dengan erat guna meluapkan rasa rindunya. Biarpun sudah akan menjadi seorang ibu, sifat Nala masih saja sama seperti dulu. Maklum, usianya juga masih mau menginjak angka sembilan belas tahun. Jadi, wajar saja jika masih seperti anak remaja pada umumnya.
" Aku kangen banget tau," rengek Nala yang belum melepaskan pelukannya.
" Ya tapi gak gini juga, gak malu apa di liatin para maid, Mama, dan Papa?"
Nala menggeleng.
" Buat apa malu, lagian mereka juga sudah paham betul dengan sifatku!" tandas Nala. Bagaimana tak paham jika sedari kecil, Nala mainnya juga di sini. Kadang kala, menginap sampai beberapa hari jika libur sekolah bersama dengan Sabrina juga.
" Kamu sudah enakan Anne? " tanya Mama Dira yang sebelumnya duduk di shaf bagian depan.
" Sudah kok, Ma. Oh, ya? Kabar Kak Kean gimana?" tanya Anne penasaran.
" Sudah lebih baik, mungkin hari ini sudah di perolehan pulang."
" Alhamdulillah kalau begitu. Maaf ya, Ma. Kemarin Anne ketiduran waktu di mobil," ucap Anne yang merasa tak enak hati.
" Gapapa. " Mama Dira menepuk pundak Anne lembut.
" Kalau gitu, Mama duluan ya. Soalnya, mau nengokin ABC, " terang Mama Dira.
" Loh, ABC ada di sini, Ma? "tanya Anne yang cukup terkejut ketika mendengar ketiga keponakannya ada di sini.
" Iya, dong. Makanya jangan molor terus, jadi gak tau kalau keponakannya ada di sini! " sindir Nala yang langsung mendapat sentilan dari Anne.
" Anne! " seru Nala sambil mengusap kening bekas sentilan adik iparnya.
"Anne, jangan gitu sama Kakak iparnya," nasehat Mama Dira.
" Maaf ya, Kakak ipar ...," ucap Anne sembari membantu mengusap kening Nala. Sedangkan Mama Dira hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak dan juga menantunya.
Sepeninggal Mama Dira, Anne dan Nala masih terus saling menggoda sama lain.
__ADS_1
Ketika akan bangun dari duduknya, Anne berpapasan dengan Papa Ken yang akan keluar juga. Canda tawa yang baru saja tercipta, seketika menghilang. Begitupun dengan senyum yang hangat berubah menjadi dingin.
...****************...