
Di sebuah ruangan yang penuh dengan alat bantu hidup, terlihat seorang pria yang terlihat begitu lemas tak Berdaya. Meski pengobatan terus di lakukan, ternyata masih belum bisa mengatasi pertumbuhan sel kanker yang begitu cepat dan sangat ganas. Bahkan tubuhnya yang kekar, semakin terlihat begitu kurus.
Sebagian anggota tubuhnya pun mulai tak bisa berfungsi dengan baik lagi karena otak
Yang bekerja sebagai pusat kendali tubuh dan menyusun saraf pusat telah di penuhi oleh sel-sel kanker.
" Jer," panggil Brian.
" Iya, bos ada apa?" tanya Jeremy yang mendekatkan telinganya agar mendengar suara Brian yang lirih.
" Apa__ per-nika-han-nya ber-hasil?" tanya Brian penasaran.
" Dari penjaga yang berjaga di sana, pernikahan sudah berhasil tapi__"
" Syukurlah."
Melihat Brian yang tersenyum getir, membuat Jeremy merasa Iba. Meski Brian yang merencanakan pernikahan ini, tapi di lubuk hatinya paling dalam ia pasti sedang merasakan kesedihan karena Jeremy tahu betul seberapa besar cinta Brian pada Anne, begitupun sebaliknya.
" Kenapa bos melakukan ini semua? Bukankah bos sangat mencintai Anneta? Tapi kenapa justru membuatnya menikah bersama orang lain? " Akhirnya Jeremy mengeluarkan uneg-uneg yang telah lama ada di dalam hatinya.
Selama ini, Jeremy memang lebih banyak diam dan tak banyak bertanya karena itu menurutnya privasi. Tapi, entah kenapa ia tiba-tiba sangat penasaran dengan hal ini. Pasalnya, perjuangan Brian untuk mendapatkan restu bisa dikatakan tak mudah, tapi kenapa ketika sudah dapat ia justru menyerah?
Bukankah hasil tak boleh mengkhianati perjuangan?
" Jer, A-apa ka-mu per-nah men-de-ngar pe-patah mega-takan bah-wa pun-cak ter-tinggi men-cintai ada-lah meng-ikhlas-kan?"
" Apakah ada hal seperti itu?" Jeremy justru bertanya balik, membuat Brian jadi tersenyum.
Pasalnya, Jeremy bukanlah seorang pria remaja berusia belasan tahun. Tapi, sepertinya selama ini dia memang hanya mengetahui soal kesenangan saja, tanpa tahu apa arti dari sebuah cinta.
" Ada, dan A-ku seda-ng beru-saha me-laku-kannya. Meng-ikhlaskan dia berasa-ma pr-ia yang ke-lak bisa membuatnya ba-hagia."
" Meski sebenarnya rasa sakit itu ada tapi biarlah, yang terpenting sekarang Anne sudah tak lagi sendiri ketika aku pergi," ucap Brian dalam hati.
Meski tak ada yang memberitahu tentang kondisinya yang sebenarnya, Brian seakan tahu jika hidupnya di dunia ini hanya tinggal sebentar, maka dari itu dia melakukan ini semua sebelum pergi.
__ADS_1
" Jer, Teri-makasih su-dah men-jadi par-tner ker-ja ya-ng ba-ik, dan ma-maf ji-ka A-ku pun-ya sa-lah sa-ma ka-mu," ucap Brian.
Jeremy menggeleng. " Bos tidak punya salah, justru bos adalah majikan yang paling baik dan tak pernah menganggap saya sebagai bawahan. Anda justru melakukan saya seperti teman. "
Brian tersenyum." Syukurlah ka-lau begi-tu. Set-lah ini, belajarlah men-cintai se-seorang deng-An baik, Jer. Jan-gan han-ya suka me-laku-kan ONS, itu tak baik," pesan Brian.
" Kenapa bicara bos seperti orang yang akan pergi jauh? "kata Jeremy yang merasa bahwa ucapan Brian barusan layaknya orang yang akan pergi.
Brian hanya tersenyum." Aku mau ti-dur. "
" Tidurlah, bos. Sepertinya anda memang sangat lelah. " Jeremy membantu membenarkan posisi tidur Brian agar lebih nyaman, serta merapikan selimutnya.
Tak lama kemudian, pria itu sudah terlihat menutup mata.
" Bos, anda tidur saja masih tersenyum dan terlihat tampan. Semoga, anda lekas sembuh dan terus bahagia," harap Jeremy.
Baru saja melangkah beberapa langkah, Jeremy sudah mendengar suara bip dari monitor detak jantung Brian.
" Bos, anda kenapa?" tanya Jeremy cemas saat melihat Brian yang barusan baik-baik saja, tiba-tiba dadanya membusung dengan mata yang masih terpejam.
Baru saja memencet tombol untuk memanggil pada dokter, suara bip itu terdengar semakin panjang.
Piiipp ....
Pupil Jeremy seketika melebar tatkala melihat garis lurus yang terbaca di layar monitor.
" Boss ..., "pekik Jeremy.
Tak lama kemudian, beberapa dokter masuk kedalam ruangan itu. Sementara Jeremy di suruh mundur karena Dokter akan memberikan tindakan pada Brian. Pria itu terlihat sangat shock, dunia seakan bergoyang, lalu berhenti saat mendengar dokter mengatakan bahwa Brian telah meninggal.
Dengan tubuh yang sempoyongan, Jeremy memegang salah satu Dokter di sana.
" Apa maksud kalian? Itu tidak benar 'kan? Bos saya masih hidup' kan?" cecar Jeremy dengan matanya yang memerah serta suara tinggi.
" Maaf, tapi Tuan Brian memang sudah meninggal."
__ADS_1
Tubuh Jeremy spontan memundur, dadanya tiba-tiba terasa begitu sesak, telinganya berdengung. Ia benar-benar tak percaya jika Brian benar-benar telah pergi. Padahal, baru saja mengobrol dan terus tersenyum padanya, tapi kenapa sekarang.
Setelah merasa lebih tenang, Jeremy mencoba menghubungi Kean untuk mengabarkan tentang berita kematian Brian.
Meski ini berat, Jeremy tetap harus mengatakan hal ini pada Anne, Mama Dira dan yang lainnya.
" Anne, Nyonya, bos ... sudah pergi. "
" Pergi kemana?" tanya Anne cemas dengan dada yang bergemuruh.
" Pergi untuk selama-lamanya."
Deg
Jantung Anne seketika berhenti berdetak, begitupun dengan Mama Dira, Kean, Dinda, Pangeran, dan juga Papa Ken.
" Jer, kamu sedang tidak bercanda 'kan? "Kean yang bertanya.
" Buat apa saya bercanda soal kematian, Tuan Kean. Bos memang sudah pergi ke surga. "
Kepala Anne terasa pusing, dadanya begitu sesak, otot-otot di dalam tubuhnya pun ikut melemas, dan
Bruk
Anne pun jatuh dan tak sadarkan diri
" Anne ..., " seru semua orang yang langsung menghampiri Anne.
Sama halnya dengan Anne, Mama Dira juga terlihat seperti tubuh tanpa jiwa. Papa Ken dan Dinda mengurus Mama Dira. Pangeran dan Kean mengurus Anne.
" Anne, bangun." Pangeran menepuk lembut pipi wanita yang kini telah menjadi istrinya.
" Dek, jangan seperti ini." kata Kean yang terlihat begitu cemas melihat kondisi adiknya.
...********...
__ADS_1