Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 39 : Izinkan aku untuk bersamamu


__ADS_3

"Jika cinta menurutmu rumit, mari kita sederhanakan," tandas Brian.


" Tapi Kak___"


" Anne," potong Brian yang tak ingin mendengar penjelasan yang lebih panjang lagi dari Anne. Daripada penjelasan itu, Brian lebih butuh jawaban tentang perasaan Anne padanya.


" Aku tak butuh penjabaran tentang kerumitan cinta, karena pada dasarnya cinta itu tidak rumit. Yang membuat rumit adalah kita, jadi cinta itu bisa menjadi sederhana jika kita menganggapnya seperti itu."


" Untuk saat ini, aku hanya butuh butuh kamu menjawab pertanyaanku. Apa kamu tidak mencintaiku, Anne? " tanya Brian dengan tatapan begitu dalam.


Tatapan yang seakan menembus langsung ke relung hati Anne. Tatapan yang menginginkan sebuah jawaban atas pernyataannya.


Anne tahu, di gantung tanpa kepastian itu tak nyaman. Karena ia dulu sering menjadi pendengar dari kakak maupun sahabatnya. Meski Anne tak begitu paham akan cinta, atau sebuah hubungan percintaan. Tapi, Anne sedikit tahu jika cinta akan membuat orang merasakan sakit dan bahagia.


" Jika Anne berkata tidak, berarti Anne termasuk orang yang munafik. Karena mengatakan sesuatu yang bukan sebenarnya. Anne akui, Anne juga punya perasaan yang berbeda terhadap kakak. Anne bahagia saat kita bisa bercanda dan tertawa bersama. Anne merasa aman dan nyaman saat bersama Kakak, Anne juga merasa sakit ketika Kakak bersama orang lain. Tapi, Anne ..." entah kenapa tenggorokan Anne seakan tercekat dan tak mampu lagi melanjutkan perkataan yang ada di dalam hatinya.


" Tapi kenapa Anne? " jujur, Brian bahagia bercampur bingung ketika mendengar Anne mengatakan jika ia juga mempunyai perasaan lebih padanya. Karena Anne terlihat seperti ada sesuatu yang terasa berat di dalam hatinya.


Anne tersenyum tipis ketika melihat kalung Brian terpampang jelas.


" Anne ... Tapi kenapa?" desak Brian yang sudah sangat penasaran akan kelanjutan ucapan Anne.


" Tapi Anne sadar bahwa kita punya tembok penghalang yang cukup tinggi,"lanjutnya.

__ADS_1


" Tembok penghalang? "Brian semakin terlihat tak mengerti dengan arah pembicaraannya dengan Anne.


Anne pun, menunjuk kearah dimana kalung berliontin salib itu berada. Dan, Brian mengikuti arah telunjuk Anne.


" Tuhan kita memang satu, tapi kita yang berbeda, Kak. "


Brian terlihat termenung ketika mendengar ucapan Anne yang terakhir. Saking cintanya dengan Anne, sampai membuat Brian lupa akan hal itu.


" Tapi kenapa kita tidak mencoba untuk menjalaninya saja? Asal kita sama-sama cinta dan bahagia, menurutku itu tidak masalah."


" Mungkin ___" ucapan Anne tiba-tiba terhenti tatkala melihat Brian yang bangun dari tempat duduknya dan berjalan mendekatinya.


Brian berlutut di hadapan Anne, membuat gadis itu semakin bingung.


" Aku tahu kita berbeda, tapi bisakah kamu beri satu kesempatan untukku agar bisa bersamamu, Anne?" pinta Brian dengan tatapan begitu tulus dan penuh harap.


" Tapi, Kak__"


" Aku mohon, Anne ... Jika nantinya kamu tak bahagia saat bersamaku. Kamu boleh meminta pergi, tapi izinkan aku untuk bersamamu, walau hanya sebentar."


"Setidaknya, sampai jantung ini berhenti berdetak." Namun, kalimat ini hanya bisa sanggup Brian katakan dalam hatinya.


Melihat Brian yang begitu memohon padanya, membuat Anne jadi tidak tega menolaknya. Apalagi, dia juga mencintai laki-laki ini. Tapi, bagaimana jika nanti keluarganya tahu? Akankah mereka merestui hubungan mereka? Atau, ini justru takdir dari Tuhan agar ia bisa menjadi jembatan bagi Brian untuk menjadi seorang mualaf?

__ADS_1


Manusiawi bukan, jika Anne ingin Brian menjadi seorang mualaf untuk mengikuti keyakinanya? Tapi, Anne tak akan memaksa jika Brian tak menginginkannya. Ia akan mencoba mengajak Brian secara perlahan.


" Baiklah, tapi ada syaratnya."


Seulas senyum langsung terbit di bibir Brian. Dia pun spontan ingin memeluk Anne. Tapi, Anne langsung mendorongnya.


" Anne, kenapa kamu mendorongku?"


" Karena Kakak di larang memelukku!"


" Why? Bukankan hal itu sudah biasa di lakukan oleh sepasang kekasih?" protes Brian.


Anne melipat kedua tangannya di depan Dada, lalu menggoyangkan jari telunjuknya.


" No, tidak ada hal semacam itu. Lagian, siapa juga yang bilang kalau kita pasangan. "


" Huh? Bukankah barusan kamu sudah setuju?"


" Setuju? " ulang Anne. " Setuju untuk apa? " Anne justru kembali bertanya.


Brian tercengang, Ia semakin tak mengerti dengan jalan pikiran Anne. Bukankah dia tadi sudah setuju untuk bersama dengannya? Tapi kenapa sekarang tiba-tiba mengatakan kalau mereka bukanlah pasangan? Apa Anne punya Amnesia jangka pendek?


...****************...

__ADS_1


Gimana gengs? Semakin gemas ya dengan mereka berdua.


__ADS_2