
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Kean memutuskan untuk membawa Anne pergi secara diam-diam. Dalam malam itu juga, Kean pamit pada Dinda untuk pergi menemani Anne ke New York.
Awalnya, Dinda sedikit ragu dan takut jika Papa akan murka kalau tahu hal ini. Tapi, Kean memberikan penjelasan jika Papa tidak akan berani melakukan sesuatu yang jahat.
" Kamu hati-hati ya, Bang."
Kean mengangguk.
" Kamu juga jaga diri baik-baik di sini. Kalau ada apa-apa telepon abang, ya," ujar Kean sebelum pamit.
Setelah berpamitan pada istri dan ketiga anaknya, Kean pun membawa Anne pergi dari rumah.
" Tuan Kean, mau kemana malam-malam begini?" tanya security.
Sementara Anne bersembunyi di sela-sela kursi bagian belakang.
" Mau ke apotik sebentar, Pak," dusta Kean.
" Oh, apa perlu saya antarkan Tuan?"
" Tidak perlu."
Setelahnya, Kean pun segera melajukan mobilnya pergi dari kediaman keluarga Fabio. Setelah berhasil keluar dari kediaman Fabio, Anne langsung keluar dari persembunyian.
" Akhirnya," gumam Anne yang membuat Kean tersenyum.
Tanpa aba-aba, Anne langsung pindah duduk di depan.
" Anne hati-hati, kenapa tidak duduk di belakang saja?" tanya Kean ketika adiknya tiba-tiba pindah duduk di depan di saat mobil masih melaju.
" Gak mau, kesannya Kakakku yang tampan ini jadi driver," goda Anne.
" Dasar!"
" Makasih ya, Kak," ucap Anne tulus.
" Buat apa? "
" Karena Kakak setuju untuk membawa aku kabur dari rumah," terang Anne.
Kean hanya bisa geleng-geleng kepala dengan apa yang telah ia lakukan saat ini. Demi mendukung kisah cinta Anne dan Brian harus membuatnya terlibat sesuatu yang cukup nekad. Pergi secara diam-diam layaknya seorang pencuri.
" Tapi, Anne. Boleh Kakak bertanya sesuatu?"
" Biasanya juga langsung tanya, kenapa sekarang tiba-tiba izin?" goda Anne agar suasana tidak sepi.
__ADS_1
" Kenapa tadi kamu menerima lamar Pangeran?"
Anne terlihat tertunduk, dia seakan berpikir bagaimana cara menjelaskannya pada Kakaknya itu.
" Jika Anne berkata karena ingin mencoba, apa Kakak percaya? "
" Mencoba?" ulang Kean yang tak paham akan maksud adiknya.
" Em. " Anne mengangguk.
" Mencoba menikah? Anne, pernikahan itu bukan ajang sebuah percobaan. Kalau bisa, menikah sekali seumur hidup. Jadi, kamu harus benar-benar yakin ketika memutuskan untuk menikah."
" Bukan itu."
" Terus apa?"
" Mencoba untuk melupakan masa lalu dengan menerima orang baru. Soalnya, Nala dan Kak Lean berhasil menggunakan cara itu."
" Oh, ya? "
Dikarenakan Kean yang belum tahu soal cerita ini, Anne pun menceritakan soal Nala yang dulunya pernah mengukai dirinya. Tetapi, perasaan itu harus di kubur ketika Kean tiba-tiba menikah dengan Dinda. Sedangkan soal Lean, Kean juga tahu sendiri apa penyebab patah hatinya.
Jadi, saat itu Anne yang mencoba menjadi mak comblang antara Lean dan Nala dengan melakukan metode ini. Dan sekarang, Ia ingin mencoba cara itu sendiri. Tapi ternyata, Jalan ceritanya berbeda.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, akhirnya mereka sampai juga di bandara. Kean sengaja tak menggunakan jet pribadi karena nanti akan mudah di lacak oleh Papanya, dan untungnya malam ini ada keberangkatan ke New York.
" Anne tidak mengantuk?" tanya Kean.
Anne menggeleng.
" Tumben, biasanya kamu tukang tidur!" cibir Kean.
Anne menghembuskan nafas panjangnya. " Setelah melihat foto dan video kak Brian, mata Anne seakan di beri obat bangun!"
Kean menoel kepala adiknya yang mulai eror.
" Mana ada obat bangun, Anne! Yang ada obat tidur! "tandas Kean.
" Ada kok? "ujar Anne yang tak mau kalah.
" Mana? "tanya Kean serius. Namun, Anne justru memperlihatkan vidio yang di kirimi oleh Jeremy.
" Tapi aku sendiri yang menamainya, " pungkasnya yang membuat Kean geleng-geleng kepala.
Tak lama kemudian, terdengar siaran jika penerbangan ke New York akan segera berangkat.
__ADS_1
Anne dan Kean pun bergegas bangun dari tempat duduknya menuju ruang pemeriksaan sebelum masuk ke dalam pesawat.
Ketika sudah berada di pesawat, Anne kembali menatap kearah jendela.
" Maafkan Anne, Pa," lirih Anne.
...***...
Ketika waktu subuh datang, Papa Ken tak melihat Kean dan Anne turun sholat berjamaah di mushola. Ia pun mencoba mengecek ke kamar Anne.
" Anne ... Bangun, sholat subuh, " panggil Papa Ken dari luar. Namun, panggilannya tak kunjung mendapat balasan.
" Kemana Anne? Tumben, sulit sekali di bangun!" lirih Papa Ken.
" Di kunci lagi!"
Papa Ken pun akhirnya pergi kembali ke kamarnya mengambil ponsel untuk mencoba menelpon Anne. Tetapi nomornya sedang tidak aktif.
" Kemana anak ini?"
Melihat Papa Ken yang gelisah, Mama Dira hanya diam saja karena ia masih berada dalam mode diam.
" Lobet kali, ya."
Ketika sarapan pagi, Papa Ken tak kunjung melihat Anne turun ke bawah, begitupun dengan Dinda dan juga Kean.
" Sudah jam segini, tidak ada yang turun sarapan! Apa masih marah?" Papa Ken bermonolog seakan mengingat kembali kejadian kemarin sore, dimana ia membentak Kean untuk tidak banyak bicara.
Papa Ken pun memutuskan untuk naik ke lantai atas. Sesampainya di kamar Kean dan Dinda, Papa Ken melihat menantunya yang terlihat begitu gelisah.
" Kamu kenapa, Din?" tanya Papa Ken.
" Ini, Pa. Bang Kean dari semalam pergi katanya mau beli obat ke apotik, tapi gak pulang-pulang sampai sekarang." Dinda mulai berakting sesuai arahan Kean.
" Kok bisa? Bukankah persediaan obat-obatan di rumah lengkap, ya, "ujar Papa Ken.
" Biasanya lengkap, Pa. Tapi semalam tiba-tiba habis. Jadi, terpaksa Bang Kean pergi untuk membelikannya. "
" Yaudah, Kamh tenang dulu. Papa akan suruh Nino melacak."
Papa Ken segera menyuruh Nino untuk melacak dimana keberadaan mobil Kean, dan tak butuh waktu lama. Noo berhasil menemukan keberadaan mobil Kean yang terparkir di depan apotik dua puluh empat jam. Namun, ketika Papa Ken ke sana, Ia tak menemukan Kean di sana.
Papa Ken segera menanyakan pada petugas apotik, tetapi mereka tidak ada yang tahu.
" Kemana Kean? Mana mungkin dia___" Papa Ken mencoba membuang pikiran - pikiran negatif yang muncul. Sedangkan Dinda terlihat menangis karena mengetahui Kean yang menghilang.
__ADS_1
...****************...