
Keesokan paginya, semua orang sarapan bersama seperti biasanya. Raut wajah semua orang terlihat cerah layaknya cuaca pagi ini, tetapi ternyata masih ada satu yang terlihat mendung.
Jika biasanya Anneta yang memberikan raut wajah mendung, kini giliran Papa Ken. Sementara gadis itu, sudah terlihat cerah kembali.
" Sepertinya pagi ini mood Anne sedang dalam kondisi sangat baik, apa ada sesuatu yang membahagiakan telah terjadi?" tanya Papa Ken yang mencoba menutupi kegelisahannya.
"Masak sih? Perasaan sama aja seperti biasanya," tampuk Anne.
" Oh, ya?"
" Em." Anne mengangguk.
Dikarenakan hari ini dia sedang tak ada jam kuliah,selesai sarapan Anne langsung menuju ruangan studio melukisnya. Ia akan membuat sebuah karya baru yang akan diikutkan lomba di salah satu galeri seni.
Di saat Anne masih membuat sketsa lukisan, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
" Anne ... Apa Papa boleh masuk?" izin Papa Ken dari balik pintu.
" Boleh, masuk aja, Pa. Tidak di kunci," sahut Anne yang masih terus melanjutkan lukisannya.
Setelahnya, pintu pun terbuka dengan memperlihatkan pria paruh baya yang masih terlihat gagah.
" Apa Papa mengganggu Anne? "
Anne menoleh, lalu menggeleng. " Tenang saja, Anne hanya sedang melukis saja."
Papa Ken tersenyum, lalu menarik sebuah kursi agar bisa duduk di samping tubuh Anne. Dalam beberapa waktu, Papa Ken hanya diam saja memperhatikan tangan putrinya yang terus menari diatas kanvas putih.
Ia tak menyangka, bisa memiliki putri yang sehebat ini dalam dunia seni. Meski Anne tak pandai dalam akademik, Ia memang bisa dianggap pandai dalam seni. Toh, setiap orang memang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi, jangan suka memabanding-bandingkan diri ini dengan orang lain.
" Sepertinya, putri Papa memang sedang dalam kondisi bahagia," sindir Papa Ken yang seketika membuat Anne menghentikan aktivitasnya.
Gadis cantik itu menoleh ke arah sang ayah yang duduk di sampingnya.
" Papa kenapa sih? Kok kesannya seperti___"
" Perkenalkan dong sama Papa," sela Papa Ken yang membuat Anne jadi bingung.
" Maksud Papa?"
" Ya ... Perkenalkan seseorang yang sudah mampu membuat senyum indah putri Papa ini kembali lagi," ujar Papa Ken sambil menyentuh pipi Anne lembut.
Kedua mata Anne menyipit, dahinya pun ikut berkerut. " Jangan bilang jika Papa sudah mencari tahu soal Pangeran! "tebak Anne.
__ADS_1
" Oh ... Jadi, namanya Pangeran? "goda Papa Ken.
" Papa ... " rengek Anne yang merasa kesal dengan sikap Papanya yang tak pernah berubah dari dulu. Melihat Anne yang salah tingkah seperti ini membuat Papa Ken tertawa. Beban pikiran yang menumpuk seakan sedikit terkurangi. Namun, rasa kecemasan justru semakin bertambah.
Cemas jika seandainya putrinya tahu apa yang sedang ia sembunyikan darinya sekarang. Bagaimana reaksi Anne nanti, apakah dia akan marah dan membencinya karena sudah menutupi ini semua? Dan, wajah kebahagiaan ini akankah kembali hilang?
" Dia hanya teman," lanjut Anne yang tak mau Papanya salah paham.
" Oh, ya?"
" Em," Anne mengangguk.
" Kalau begitu, ajak dia main ke sini."
" Buat apa?"
" Ya, biar Papa bisa berkenalan dengan seseorang yang sudah membuat putri Papa sangat bahagia kemarin," terang Papa Ken.
" Papa!" pekik Anne.
" Tidak perlu berteriak Anne, pendengaran Papa masih normal. Jadi, slow! "
" Ya, siapa suruh Papa berlebihan. Dia itu hanya sekedar teman, jadi jangan berlebihan." Anne kembali memperjelas hubungannya dengan Pangeran yang tak ada apa-apa.
" Papa tahu, memangnya apa tidak boleh Papa berkenalan dengan teman Anne? " Papa Ken justru bertanya balik.
Papa Ken menaikkan satu alisnya, sedangkan Anne menghembuskan nafas beratnya. Meski ini bukan pertama kalinya, Anne masih saja merasa kesal dengan Papanya yang selalu saja menyelidiki siapa saja teman atau orang yang Anne kenal.
Jika seperti ini terus, bukankah Anne seakan tak memiliki privasi ?
***
Di belahan dunia lain, suara Monitor ICU masih terdengar stabil, menandakan bahwa jiwa itu masih bernyawa. Namun, raganya terlihat begitu lemah, kurus, dan tak berdaya. Bahkan, kehidupannya saat ini seakan bergantung pada alat-alat bantu kehidupan yang menempel pada tubuhnya.
Rekaman suara seseorang terus di perdengarkan di ruangan itu, berharap dapat membantunya semangat untuk sembuh.
Seorang pria paruh baya, mulai mendekati tempat tidur putranya. Perlahan, Ia mencoba menggenggam tangan lemah putranya yang terpasang jarum infus.
" Bri ....," lirih Daddy Samuel.
" Bangun, Nak___" ucapnya lirih. Tanpa di minta, buliran bening nan hangat itu kembali luruh membasahi pipinya.
Daddy Samuel kembali mencium tangan putranya.
__ADS_1
" Bri, kamu harus bangun dari tidur panjang ini. Daddy belum siap jika harus kehilangan kamu. Lagipula, apa kamu tak mau lagi memperjuangkan cinta dan impianmu?"
"Kamu dengar 'kan suara itu? Suara-suara yang ingin kamu untuk bangun dan kembali sembuh!" lanjut Daddy Samuel yang terus mengajak Brian berbicara.
Meski mata itu tertutup, tetapi Ia tetap bisa mendengar setiap ucapan orang-orang yang mengajaknya berbicara.
Meski suara dari rekaman itu tak merdu, tapi Brian menyukai suara itu. Jadi, Daddy Samuel terus memperdengarkannya. Siapa tahu dengan begini, dapat menstimulus Brian untuk bangun dari koma nya.
Dan ... tiba-tiba, Daddy Samuel merasakan bahwa jari tangan Brian bergerak.
"Dokter," panggil Daddy Samuel yang membuat Dokter pribadi Brian berlari masuk kedalam ruangan.
" Ada apa Tuan Samuel?" tanya sang Dokter.
" Tangan Brian bergerak," ucap Daddy Samuel yang terlihat begitu senang. Selama beberapa minggu koma, ini adalah pertama kalinya ia mengetahui tubuh putranya kembali bergerak. Jadi, tahu 'kan bagaimana perasaannya?
Sang Dokter pun segera mengecek kondisi tubuh Brian.
" Bagaimana, Dok?"tanya Daddy Samuel penasaran.
Dokter itu terlihat tersenyum, seakan memperlihatkan jika ada pertanda baik.
" Sepertinya, tubuh Brian memang benar-benar masih merespon setiap rangsangan yang anda berikan, " ujar sang Dokter.
Daddy Samuel ikut merasa lega karena ternyata, usahanya tak sia-sia.
" Terimakasih Tuhan, terimakasih Kean," batin Daddy Samuel.
Perlahan, mata yang terus terpejam selama beberapa minggu itu, mulai mengerjap dan terbuka.
" Bri, kamu sadar?" Daddy Samuel terlihat sangat senang saat melihat putranya akhirnya sadar juga dari koma.
" Dad_dy, "lirih Brian.
" Iya, Nak. Ini Daddy, bagaimana perasaan kamu? Apa ada sesuatu yang tak nyaman? "tanya Daddy Samuel yang terlihat cemas bercampur bahagia.
Brian hanya diam saja, lalu masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling, seakan sedang melihat siapa saja yang ada di sampingnya. Namun, ternyata ia tak menemukan seseorang yang tengah ia cari. Padahal, Brian ingat betul jika ia mendengar suara gadis itu terus menyemangatinya untuk bangun.
" An-ne ma-na?" lirih Brian selanjutnya.
" Anne?" ulang Daddy Samuel untuk memastikan.
Brian mengedipkan matanya sebagai jawaban 'iya' karena tubuhnya masih sangat lemas.
__ADS_1
" Anne, dia__" Daddy Samuel terlihat bingung harus bagaimana menjelaskannya. Brian bertanya mungkin karena ia selalu mendengarkan suara gadis itu.
...****************...