Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 36 : Di tolak?


__ADS_3

Jika Anne tengah merasa khawatir, lain halnya dengan Brian yang mencoba menahan diri agar tidak tersenyum. Sebenarnya, Brian baik-baik saja,dan sudah siuman dari pingsannya. Tapi ketika mendengar ada suara orang yang berjalan masuk ke dalam ruangan, Brian langsung menutup matanya kembali.


Apalagi saat mengetahui bahwa yang datang adalah Anne, semakin membuat Brian ingin memainkan sedikit drama. Ia ingin tahu, bagaimana reaksi Anne jika melihatnya terluka dan tak sadarkan diri.


Melihat Brian yang tak kunjung sadarkan diri, membuat Anne semakin cemas dan khawatir. Sedangkan, Seva terlihat tenang-tenang saja karena ia tahu bagaimana kondisi Bria yang sebenarnya, di tambah lagi ia sempat melihat sudut mata Brian yang berkedip. Menandakan bahwa pria itu sebenarnya sudah sadarkan diri.


"Kalian berdua itu benar-benar lucu!" batin Seva dalam hati.


Di karenakan sudah tidak tega lagi melihat Anne yang terus menangis sampai matanya bengkak, terpaksa Seva mempunyai ide gila untuk membangunkan Brian.


Seva mendekati Anne, lalu berbisik pada gadis itu. Awalnya, Anne tak setuju dengan ide Seva yang menurutnya aneh. Namun, wanita dewasa itu tetap saja meyakinkan Anne. Jadi, Anne mencoba mengikuti saran yang di berikan oleh Seva, siapa tahu berhasil.


Anne menghapus air matanya, lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai aksinya.


" Kak, karena kamu masih belum sadarkan diri juga. Aku pamit pergi untuk menemui Caka ya, karena___" Belum saja Anne menyelesaikan ucapannya, Brian sudah membuka matanya.


" Siapa Caka itu?" satu kalimat yang pertama kali Brian ucapkan setelah sadarkan diri. Brian sangat tak suka mendengar Anne menyebut nama pria lain di depannya.


Anne mengerutkan keningnya, lalu mengambil bantal dan memukuli Brian dengan bantal itu.

__ADS_1


" Anne ... kenapa kamu memukulku?" teriak Brian dengan tangan yang diangkat guna membentuk sebuah perlindungan diri.


" Siapa suruh Kakak menipuku! Apa Kakak tidak tahu kalau dari tadi aku itu sangat mencemaskan Kakak. Tapi, dengan seenaknya Kakak berpura-pura tak sadarkan diri. " Anne terus mengomel sampai tenaganya mulai habis, dan berhenti memukul Brian.


Brian langsung mencekal tangan Anne, ketika gadis itu sudah berhenti memukulinya.


" Apa kamu mencemaskanku, Anne? "tanya Brian. Namun, Anne justru memalingkan wajahnya karena merasa kesal karena sudah di tipu. Rugi dia sudah merasa cemas dan khawatir sama pria yang sebenarnya baik-baik saja.


" Jika kamu mencemaskanku, maka aku lebih mencemaskanmu, Anne. Bahkan, aku merasa cemburu ketika mendengar kamu mau pergi menemui pria lain di saat tahu aku belum sadarkan diri . Apa kamu tak pernah sadar jika selama ini aku mencintaimu, Anne." kini Brian sudah tak mau lagi hanya memendam rasa itu di dalam hati. Dia ingin Anne tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya.


Deg


" Jangan bercanda, aku tidak akan___"


Brian menarik tubuh Anne sampai membuat gadis itu terduduk di atas pangkuannya. " Aku tidak bercanda Anneta, aku benar-benar mencintaimu. Bahkan sangat mencintaimu lebih dari yang kamu bayangkan. Kamu ... Adalah cahaya terang dalam hidupku, penyemangatku, bahagiaku, serta satu-satunya wanita yang ada di hati ini." Brian berkata sambil menunjuk hatinya serta tatapan yang begitu dalam.


Anne masih terdiam membeku, seakan terhanyut terbawa suasana yang Brian ciptakan. Detak jantungnya pun berdetak semakin cepat, Anne tak pernah menyangka akan mendapatkan ungkapan cinta dari Brian seperti ini.


" Jadi, apa kamu juga__"

__ADS_1


" Lepasin aku, Kak," sela Anne yang tak tahu sikon. Sudah benar, suasananya jadi romantis ia justru menyela dengan meminta Brian melepaskannya.


"Bisakah___"


" Tidak bisa," sela Anne cepat seraya bergerak mencoba bangun dari pangkuan Brian.


Meski sudah terbawa suasana, Anne harus tetap menjaga kesadarannya. Ia harus ingat siapa dia, dan Brian. Mereka tak seharusnya berbuat seperti ini. Ini terlalu intim untuk ukuran wanita dan pria yang belum ada ikatan pernikahan.


" Kamu mau kemana, Anne?" tanya Brian saat melihat Anne beranjak pergi.


" Aku pulang dulu, lagian Kakak juga sudah tidak ada apa-apa," tandas Anne yang segera pergi keluar dari ruangan UGD.


Melihat Anne yang pergi sebelum menjawab pernyataan cinta dari Brian, membuat pria itu merasa bahwa ia telah di tolak.


Rasa sakit akibat kecelakaan lift, seakan tak sebanding dengan rasa sakit karena di tolak cintanya. Brian meraup wajahnya kasar, lalu merebahkan kepalanya ke bantal.


" Cinta dalam diam, cinta sepihak, dan di tolak cintanya, sama-sama terasa sakit," gumam Brian yang mencoba menahan rasa sakit itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2