Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 80 : Ternyata hanya rekaman


__ADS_3

"Anne, dia__" Daddy Samuel terlihat bingung harus bagaimana menjelaskannya. Brian bertanya mungkin karena ia selalu mendengarkan suara gadis itu.


Melihat gurat kecemasan di wajah sang Daddy serta suara gadis itu yang masih terus terdengar, membuat Brian kembali mengedarkan pandangannya, dan ia akhirnya menemukan sebuah alat pemutar suara.


" Jadi, suara yang selama ini aku dengar, hanyalah sebuah rekaman?" gumam Brian dalam hati.


Melihat tatapan Brian yang terkunci pada satu titik, membuat Daddy Samuel ikut menatap kearah itu.


" Ketahuan!" satu kata yang ada dalam pikiran pria paruh baya itu.


" Bri, maaf jika Daddy hanya___"


" A_pa dia tahu?" Brian memotong ucapan Daddy Samuel yang belum selesai.


" Sepertinya tidak," jawab Daddy Samuel.


" Syukurlah, lalu da-ri mana Daddy men-dapat-kan su-ara itu?" tanya Brian dengan suara lirih dan terpotong-potong. Kondisi Brian yang sudah sangat parah dan lemah, membuat Ia sedikit kesulitan untuk berbicara lancar seperti dulu. Bahkan, Ia hanya berkata secara singkat, tapi untungnya Daddy Samuel paham dengan apa yang di bicarakan putranya.


" Dari seseorang yang ingin melihat Bri sembuh, lalu kembali berjuang untuk mendapatkan keinginan Bri yang belum terwujudkan."


Brian tersenyum, meski Daddy Samuel tak mengatakan dengan jelas siapa orang itu, Brian sudah tahu siapa dia. Karena hanya dia satu-satunya orang yang terus mensupport dan membantunya untuk berjuang mendapatkan restu dari Papa Ken. Bahkan, dia juga yang memberikan banyak buku panduan tentang islam, tata cara sholat, dsb.


" Jadi, Daddy harap Bri semangat untuk kembali berjuang melawan kanker itu, ya?" pinta Daddy Samuel dengan memegang tangan Brian erat-erat dan tatapan yang begitu sala. .


" Sekalipun di dunia ini tak ada yang peduli dan membenci Bri. Bri harus ingat, bahwa masih ada Daddy yang akan selalu ada di samping Bri dan terus menemani Bri sampai kapanpun. Karena cinta dan kasih sayang Daddy sama Bri tak akan pernah berubah."


Tanpa terasa, buliran bening nan hangat luruh dari keduanya. Entah kenapa Brian seakan merasa bahwa ternyata orang yang paling menyayanginya tanpa syarat di dunia ini hanyalah Daddynya. Daddy yang akan selalu melakukan apapun demi kebahagiaan dirinya.


"Teri-makasih, Daddy," lirih Brian yang semakin membuat tangisan Daddy Samuel pecah.


Mungkin, di luar sana banyak orang yang mengenalnya sebagai pria berhati dingin. Tapi siapa sangka jika ia juga memiliki hati yang begitu lembut dan mudah rapuh jika berurusan dengan Brian.


Bagi Daddy Samuel, Brian adalah hal yang paling berharga dalam hidupnya. Apalagi semenjak istrinya meninggal, membuat Brian adalah pusat dari kehidupannya.


...***...


Hari libur yang sungguh Anne suka, dimana ia akan beralas-malasan diatas kasurnya sambil scroll-scroll media sosial. Kalau sudah bosan, Ia akan turun ke kamar baby ABC untuk bermain bersama mereka.


Tanpa di duga, tiba-tiba ada sebuah notifikasi pesan masuk dari seseorang yang aneh. Dimana, setelah pertemuan terakhir mereka, dia tak pernah lagi menghubungi. Lalu, tiba-tiba kembali menghubungi?


✉️ Pangeran.


[ Assalamualaikum, Anneta.]


[ Apa Kabar?]


Awalnya, Anne malas menanggapi. Namun, tiba-tiba ada pesan lagi masuk.


[ Anne, apa kamu senggang hari ini?]


[ Kamu tak lupa jika punya hutang satu janji padaku, 'kan?]


Anne menghela nafas panjang, Ia paling malas berurusan dengan seseorang yang mudah sekali menghilang, lalu datang kembali jika membutuhkan sesuatu.


Namun, Anne memang masih punya satu janji dan janji itu bagaikan sebuah hutang yang harus di bayar.


" Ahh... Bagaimana ini?" Anne memukul-mukul bantalnya.


" Abaikan atau?"


Tiba-tiba, Pangeran menelpon bukan lagi sekedar mengirimi pesan.

__ADS_1


" Nih, pria kenapa sih?" kesal Anne.


Karena malas mengangkat panggilan telepon dari Pangeran, Anne hanya membalas lewat pesan.


✉️ Anneta


[ Waalaikumsalam, kabarku baik]


[ Hari ini, aku sedang sibuk. Jadi, lain hari saja]


✉️ Pangeran


[ Kamu yakin lagi sibuk?]


Setelahnya, Pangeran mengirimi sebuah foto screnshoot postingan dirinya di media sosial.


Pupil Anne seketika melebar tatkala melihat foto itu. Ia pun langsung mencari aku media sosial Pangeran untuk melihat apakah dia adalah pengikutnya? Tapi, Ia tak menemukan salah satu pun akun Pangeran Aditama sebagai pengikutnya. Pasalnya, akun media sosial Anne di privat sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihat.


Apa dia memakai nama samaran?


Anne di buat bingung sendiri dengan seseorang yang bernama Pangeran itu. Ia benar-benar sudah seperti cenayang yang bisa membaca pikiran orang lain, stalker yang seakan sedang mengawasi dirinya, dan tukang ghosting yang suka tiba-tiba menghilang.


Tiba-tiba, Pangeran mengirim pesan lagi.


[ Jangan takut atau berpikiran buruk tentangku]


[ Siang ini, aku tunggu kamu di restoran xx oke. Jika kamu tak datang, maka janji hutang makan siang kita akan berlipat ganda!]


Anne tercengang, lalu menjauhkan ponsel itu darinya. Ia benar-benar tak mengerti kenapa bisa mengenal dan terjerat dengan pria ini.


Anne mencoba menarik nafas, lalu menghembuskannya secara perlahan.


" Tenang Anne, setelah janji makan siang ini lunas. Maka, kamu bisa menghilang dan lepas dari pria ini, oke!" Anne mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Dikarenakan hanya makan siang bersama seseorang yang tak penting, maka Anne hanya memakai outfit sederhana dengan sedikit sentuhan make up natural agar tak terlihat pucat saja.


Setelahnya, Anne segera pergi ke kamar ABC mencari Mama dan Papanya untuk berpamitan.


" Mau kemana, Anne?" tanya Papa Ken yang sedang duduk santai di sofa sambil membaca koran.


" Astagfirullah hal adzim," Anne mengelus dadanya akibat terkejut mendengar suara sang Papa. Pasalnya, Anne memang tak melihat jika ada Papanya di sana.


" Ternyata Papa di sini, pantas aja gak ada di kamar ABC," tukas Anne seraya berjalan menghampiri Papanya.


" Iya, Papa di sini karena merasa terkucilkan di sana," terang Papa Ken dengan memasang wajah sendu.


" Terkucilkan? Kok bisa?"


" Kamu bingung 'kan? Papa sendiri juga bingung, "tandas Papa Ken.


Anne hanya bisa geleng-geleng kepala tatkala mendengar ucapan Papanya yang ambigu.


" Memangnya ada apa sih, Pa? "tanya Anne yang merasa kasihan saat melihat wajah Papanya.


" Gak tau tuh, Mama kamu! Masak dari kemarin Papa di cuekin, terus sekarang ngajak - ngajak Kean, Dinda, dan ABC lagi," terang Papa Ken.


" Memangnya Mama sama Papa lagi berantem? "tanya Anne.


Papa Ken menggeleng.


" Em ... Mungkin Papa salah ngomong, atau gak nurutin keinginan Mama. "

__ADS_1


Papa Ken kembali menggeleng, membuat Anne jadi pusing sendiri.


" Terus, kenapa dong? "


" Papa juga gak tau! Sudahlah, biarin saja. Nanti juga bakalan kembali seperti biasa kalau udah kangen, "ujar Papa Ken.


" Papa pd banget kalau Mama bakalan kangen, kalau misalnya gak kangen gimana? "goda Anne.


" Ya di paksa kangen! "


Gubrak


Beginilah jadinya, ketika ke absurdan Papanya kambuh.


" Oh, ya? Kamu mau kemana? "Papa Ken bertanya kembali, akibat membahas soal di kucilkan sampai membuat mereka lupa dengan pembahasan utama.


" Oh, Anne mau pamit pergi keluar sebentar. "


" Mau ngapain? "


" Em ... Itu, bertemu teman, " jawab Anne yang tak berani jujur jika akan bertemu Pangeran.


"Siapa? Bertemu di mana? Dan mau ngapain"


Anne kembali menghela nafas beratnya ketika melihat mode posesif Papanya on. Demi mengalihkan perhatian, Anne berpura-pura melihat jam lalu berpamitan.


" Anne pergi dulu ya, Pa. Soalnya sudah telat," Anne segera beranjak pergi dan mencium tangan Papanya.


Anne mempercepat langkahnya agar terkesan memang sedang terburu-buru.


" Ada yang janggal!"gumam Papa Ken.


Ketika baru duduk memasuki mobil, tiba-tiba ada yang ikut masuk dan duduk di kursi sampingnya.


" Papa! "pekik Anne terkejut.


" Jalan, Pak, " titah Papa Ken dan di ikuti oleh sang supir.


" Eh, tunggu! "Anne menghentikan." Papa ngapain di sini? "


" Mau ikut jalan-jalan, lagian Papa bosen di rumah. Boleh, 'kan? "tandas Pap Ken.


Ingin rasanya mengatakan jangan tapi bingung harus mencari alasan apa, di tambah lagi, Papanya ini adalah orang yang sangat keras kepala. Ketika dia ingin ikut, maka akan terus berusaha agar tetap ikut. Jadi, Anne hanya bisa pasrah dan mencari cara agar bisa membatalkan rencana bertemu dengan Pangeran tanpa harus ada kelipatan.


✉️ Anneta


[ Pangeran, maaf hari ini aku tiba-tiba ada urusan mendadak. Jadi, tidak bisa bertemu, dan aku harap tidak ada kelipatan! ]


" Semoga dia bisa mengerti," batin Anne dalam hati.


" Kamu kenapa, Anne? Kok kelihatannya gelisah begitu? Kamu gak suka ya, pergi jalan-jalan sama Papa? Padahal, kita 'kan sudah lama tak jalan berdua seperti ini," ucap Papa Ken dengan memasang wajah kecewa bercampur sedih.


" Bukan, Anne seneng kok. Jadi, Papa jangan berpikiran yang aneh-aneh deh! " Anne berusaha tersenyum agar Papanya tak lagi berpikiran aneh.


Sesampainya di depan mall, Papa Ken dan Anne segera turun dari mobil dan berjalan memasuki mall.


Ketika akan menaiki eskalator, tiba-tiba ada yang memanggil Anne.


" Anne ..., "


Langkah Anne seketika terhenti tatkala menyadari suara siapa yang tengah memanggilnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2