
Ketika selesai mandi, dan bersiap-siap untuk tidur, Brian mencoba kembali membuka galeri fotonya. Seulas senyum terbit di bibir merah itu tatkala melihat foto-foto Anne yang ia ambil secara tak sengaja dan juga foto mereka berdua.
" Indah sekali," gumam Brian seakan merasa takjub akan keindahan ciptaan Tuhan.
Jujur, Brian tak pernah menyangka jika ia bisa mewujudkan satu per satu daftar list kehidupannya. Sejak bisa kembali hidup lebih lama dari sebelumnya, Brian mulai membuat sebuah list apa yang ingin ia lakukan agar hidupnya lebih tertata dengan baik.
Begitu banyak rencana yang Brian ingin wujudkan selama ia masih bisa hidup di dunia ini. Memiliki riwayat penyakit tak biasa, membuat Brian menjadi orang yang lebih menghargai waktu.
" Tuhan ... jika diizinkan, aku ingin bisa hidup lebih lama lagi bersama wanita ini. Tapi, jika tak bisa. Maka, izinkan aku mengukir sebuah cerita yang indah bersamanya dalam sisa hidupku." Brian bermonolog sambil menatap fotonya saat bersama Anne.
Setelahnya, Brian segera tidur agar besok bisa bangun lebih cepat.
...***...
Waktu terus berputar tanpa henti, malam yang gelap gulita, kini telah berganti menjadi pagi yang begitu cerah dengan pancaran sinar mentari.
Setiap bangun, Brian akan merasa bersyukur karena ia masih bisa kembali menatap dunia ini. Perlahan, Ia mulai beranjak turun dari ranjangnya. Namun, ketika baru berjalan beberapa langkah, dunia seakan berputar, pandangannya pun terasa kabur. Brian mencoba kembali duduk guna menstabilkan dirinya.
" Ah. .. Kenapa kepalaku tiba-tiba sakit begini? Apakah posisi tidurku kurang nyaman semalam? atau...," Brian mencoba memegangi kepalanya yang semakin berdenyut.
Sebuah notifikasi masuk, membuat Brian ingin melihatnya. Namun, rasa sakit itu semakin menderanya.
" Tuhan ... kenapa lagi aku? "gumam Brian seraya merebahkan dirinya kembali ke atas kasur.
__ADS_1
Jika Brian sedang melawan rasa sakit kepalanya, berbeda dengan Anne yang sedang menunggu pesannya di balas. Sambil sarapan pagi, Anne mencoba mengirimkan pesan ke Brian untuk menanyakan apakah dia sudah bangun. Pasalnya, sebelum mereka berpisah kemarin, Brian mengatakan akan mengantar Anne pergi ke kampus. Tapi sampai sekarang Brian belum muncul, bahkan pesannya juga belum di balas.
" Apa ada masalah, Anne?" tanya Seva tatkala memperhatikan Anne yang terus memperhatikan layar ponselnya. Bahkan, Ia sesekali mengontak atik layar itu.
" Em, tidak ada," elak Anne.
" Terus, kenapa sarapannya belum di habiskan? Kalau kamu terlalu lama, bisa telat berangkat ke kampus!" Seva mencoba memberi nasehat.
" Oh, iya." Anne segera menghabiskan sarapan paginya.
Selesai sarapan, Anne mencoba menelepon Brian. Namun, tak kunjung diangkat. Merasa ada sesuatu yang aneh, Anne segera berlari keluar dari apartemennya menuju apartemen Brian.
" Kak, apakah kamu ada di dalam?" panggil Anne dari luar sambil terus mengetuk pintu.
" Kemana dia?" gumam Anne.
" Anne, kamu sedang apa? Kenapa teriak-teriak seperti itu?" tanya Seva yang sudah berada di depan pintu.
" Oh, aku hanya mencoba memanggil Kak Brian. Semalam dia bilang ingin mengantarku pergi ke kampus, tapi sampai sekarang gak muncul. Di telepon tidak diangkat, di panggil-panggil juga tidak ada jawaban, aku takut terjadi sesuatu," papar Anne panjang lebar.
" Mungkin Tuan Brian tidak ada di apartemen. "
" Mana mungkin? Orang semalam, dia masuk ke apartemen ini kok! "
__ADS_1
" Ya ... Kita 'kan tidak tahu Anne, siapa tahu setelah kamu masuk apartemen Tuan Brian pergi karena ada urusan."
" Masak sih? Tapi, kok gak bilang kalau pergi?" Anne terlihat sangat kecewa jika apa yang dikatakan Seva benar adanya. Karena itu tandanya, Brian mengingkari janjinya.
" Sudahlah, kita pergi ke kampus sendiri. Nanti kamu bisa telat, " usul Seva sembari membawa Anne pergi dari sana.
" Tapi___" Anne masih merasa berat meninggalkan tempat itu.
" Apa Kak Seva punya nomor Jeremy?" tanya Anne.
Seva menggeleng, sedangkan Anne menghela nafas panjangnya. Tiba-tiba, Anne merasa menyesal karena tak memiliki nomor asisten Brian. Jika ia punya 'kan bisa bertanya dimana Brian sekarang.
Dikarenakan jam kuliahnya sudah hampir tiba, Anne terpaksa mengikuti saran Seva untuk segera pergi. Sedangkan di dalam apartemen, terlihat Brian yang begitu menyesal karena tak bisa menepati janjinya pada Anne. Tapi, Brian juga tak ingin Anne melihat kondisinya sekarang. Ia tak mau, Anne khawatir atau cemas dengannya.
" Sorry, Anne ...," Lirih Brian.
Setelah tak mendengar suara Anne lagi, Brian mencoba mengambil ponselnya dan menelpon Jeremy.
" Halo, Bos," sapa Jeremy dari ujung telepon.
" Jer, kamu datang ke apartemen dan panggilkan Dokter John," pinta Brian dengan suara yang terdengar parau.
" Apa terjadi sesuatu, Bos?" tanya Jeremy yang merasa bahwa Brian sedang tak baik-baik saja. Namun, Brian sudah tak lagi menjawab pertanyaannya sehingga membuat Jeremy segera bergegas pergi.
__ADS_1
...****************...