Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 100 : Meminta restu


__ADS_3

Sesampainya di kota New York, Papa Ken dan rombongannya langsung melanjutkan perjalanan ke tempat dimana Brian sebelumnya di rawat.


" Kita mau kemana lagi, Om?" tanya Pangeran lagi ketika mobil yang mereka kendarai berjalan di sebuah tempat jauh dari perkotaan.


" Ke tempat persembunyian!" jawab Papa Ken dingin.


" Persembunyian?" gumam Pangeran yang semakin di buat penasaran. Tetapi, saat melihat calon mertuanya yang menyandarkan kepalanya di kursi penumpang serta menutup mata, membuat Pangeran tak enak jika harus bertanya lagi.


Puluhan jam bersama dengan seseorang yang dingin dan irit bicara seperti Papa Ken memang cukup membosankan. Meski ia menyetujui Pangeran menjadi menantunya, entah kenapa sikapnya masih saja sama seperti dulu.


'Dingin!'


Satu kata yang dapat menggambarkan sikap Papa Ken pada Pangeran. Demi menghilangkan rasa bosannya, Pangeran kembali mendengarkan sebuah lagu dengan menggunakan headset bluetooth miliknya. Inilah salah satu cara yang selalu Pangeran gunakan ketika merasa bosan.


Alunan musik yang begitu menenangkan kembali membuat Pangeran tertidur.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka sampai juga di tempat yang dulu di gunakan untuk Brian tinggal. Namun, tempat itu terlihat cukup sepi. Hanya ada beberapa penjaga saja yang berjaga. Tidak seperti sebelumnya saat pertama kali mereka datang.


" Tuan, kita sudah sampai," panggil Nino pada seorang pria paruh baya yang duduk di kursi belakang.


Untungnya Papa Ken dan Pangeran bukanlah tipe orang yang sulit di bangunkan, jadi hanya dengan sebuah panggilan dari Jeremy sudah mampu membuat keduanya terbangun dari tidur.


" Apakah sudah sampai?" tanya Papa Ken dengan suara seraknya.


" Sudah Tuan, tapi sepertinya Brian sudah tidak ada di sini," tebak Jeremy.


" Apa maksud kamu!"


Tanpa berlama-lama, Papa Ken segera turun dari mobil. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat tempat itu terlihat cukup sepi. Papa Ken melangkahkan kakinya berjalan menghampiri para penjaga yang hanya tinggal beberapa saja.


" Ada kepentingan apa anda datang ke sini, Tuan?" tanya seorang penjaga.


"Dimana Brian?" Papa Ken kembali bertanya.


" Tuan Muda tidak ada di sini!" ucap Pria itu tegas.


" Kemana dia?"


" Mohon maaf Tuan, kami tidak bisa memberitahukan kepada Anda dimana keberadaan Tuan Muda," pungkas pria itu.


" Apa kalian lupa siapa saya?" bentak Papa Ken.


" Kami ingat siapa anda tapi kami tetap tidak bisa memberikan informasi dimana keberadaan Tuan Muda," pungkas penjaga itu yang kekeh tidak mau memberitahukan keberadaan dimana Brian.


Tangan Papa Ken terlihat mengepal, rahangnya pun ikut mengeras ketika tak berhasil mendapatkan dimana keberadaan istri dan juga anak-anaknya.


" Tuan Muda? Brian? Siapa pria itu? Dan apa hubungannya dengan Anne?" gumam Pangeran yang memang belum tahu soal siapa Brian.


Tanpa berkata apa-apa lagi, tiba-tiba Papa Ken menarik kerah baju penjaga itu.

__ADS_1


" Katakan dimana Brian? Atau___"


" Maaf Tuan, singkirkan tangan anda atau saya juga tidak akan segan-segan untuk melukai anda!" ancam pria itu dengan wajah yang tak kalah sangarnya.


Tatapan keduanya sama-sama tajam dan menusuk, seakan tak ada rasa takut sedikitpun.


Tiba-tiba ponsel Papa Ken berdering, jadi mau tak mau ia harus melepaskan cengkramannya pada sang penjaga itu agar bisa mengangkat panggilan masuk dari ponselnya.


Dahi Papa Ken berkerut tatkala melihat sebuah nomor yang tak terdeteksi menelponnya. Tapi, Ia tetap mengangkat panggilan itu.


" Halo, Assalamualaikum, Pa." salam seseorang dari ujung telepon.


Baru saja mendengar suara itu, hati Papa Ken seketika mendingin. Suara dari seseorang yang sedang ia cari.


" Pa," panggil Anne lagi ketika tak mendapat sahutan dari sang Papa.


" Waalaikumsalam, " jawab Papa Ken.


" Kamu dimana Anne?" Papa Ken langsung bertanya dimana keberadaan putrinya.


Anne terlihat tersenyum seraya menatap ke arah seseorang yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.


"Anne sedang berada di tempat yang membuat Anne merasa bahagia."


" Anne sedang bersama Brian?" tebak Papa Ken.


"Pa, Anne menelpon hanya ingin mengatakan sesuatu yang penting sama Papa." Anne mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


Anne menarik nafasnya dalam-dalam. Sebenarnya, di lubuk hatinya paling dalam masih ada rasa kecewa yang cukup besar pada Papanya. Tetapi, bagaimana pun juga Anne harus tetap meminta izin dan restu pada seorang pria yang telah merawat, menyayangi, membesarkannya, sekaligus seseorang yang mempunyai hak sebagai walinya jika ingin menikah.


Jadi Anne harus mengesampingkan egonya terlebih dulu karena bagaimanapun Papanya pasti punya alasan tersendiri kenapa melakukan hal seperti itu.


"Pa, sebelumnya Anne mau minta maaf karena pergi tanpa izin Papa. Tapi, Anne melakukan itu semua juga karena___"


" Karena kamu takut jika Papa akan melarang," lanjut Papa Ken yang seakan tahu apa isi pikiran putrinya saat ini.


Anne menundukkan kepalanya, tangannya pun terlihat tengah memilin ujung hijabnya. Menandakan bahwa hatinya sedang gugup.


Menyadari kegugupan Anne, membuat Brian segera memencet tombol jalan pada kursi rodanya. Tanpa di duga, ada sebuah tangan yang mengenggam tangan Anne seakan ingin memberikan keberanian pada dirinya.


" Biar aku yang bicara," usul Brian yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Anne.


" Anne ... Apa itu suara Brian?" tanya Papa Ken yang mendengar samar-samar jika putrinya sedang bersama seseorang.


" Pa, apa Papa ingat dengan ucapan Papa dulu sama Anne? "


" Ucapan apa?" tanya Papa Ken dingin.


" Dulu Papa pernah berkata, jika Anne memang sudah ingin menikah dan sudah menemukan pria yang pasti mencintai Anne lebih dari cinta Papa, pasti lebih menyayangi Anne, pasti bisa menjaga Anne dengan baik, pasti bisa membahagiakan Anne, pasti seiman, dan pasti akan menikahi Anne. Papa akan menyetujuinya. " Anne terlihat mengulang perkataan yang pernah Papa Ken ucapkan dulu.

__ADS_1


" Dan sekarang Anne sudah menemukannya, jadi Anne ___"


" Jika itu Brian Papa tidak akan setuju!" potong Papa Ken yang membuat Anne tercengang.


" Kenapa, Pa?"


Brian ingin menggantikan untuk berbicara pada Papa Ken, tetapi Anne terus menolak dan menyuruhnya untuk diam saja.


" Jika Anne sekarang sedang bersamanya, Anne pasti sudah tahu apa alasannya."


Anne terlihat tersenyum kecut, ternyata apa yang dikatakan Mamanya benar. Jika Papanya sangat egois dan tak berperasaan.


" Kalau Papa tak merestui karena beda keyakinan, sekarang kita sudah berada dalam iman yang sama. "


" Bukan itu. "


Anne tersenyum kecut, ternyata apa yang dikatakan oleh Mamanya benar.


" Lalu apa, Pa? Apa karena penyakit Kak Brian?" Anne bertanya-tanya, dan berharap jika apa yang selama ini ia dengar itu salah. Karena selama ini, Anne mengenal Papanya bukanlah pria yang berpikiran sempit. Dia adalah pria bijaksana, penyayang, tanggung jawab, dan baik hati.


Papa Ken tak lagi berbicara, Ia seakan bingung harus menjawab iya atau tidak. Jika ia jujur, takutnya Anne akan semakin marah dan membencinya.


"Anne Papa tidak merestui___"


" Anne mohon, Pa," potong Anne sebelum Papa Ken menyelesaikan ucapannya.


" Untuk kali ini saja, izinkan Anne memilih jalan hidup Anne sendiri. Anne ingin menikah dengan orang yang Anne cintai, Anne ingin selalu ada di sampingnya untuk menghabiskan sisa waktu yang tersisa. Lagipula bukankah semua manusia juga akan pergi dari dunia ini? " mendengar Anne yang begitu memohon membuat hati Papa Ken seakan teriris. Ternyata, sekarang ada laki-laki yang jauh lebih penting dari dirinya di hati putrinya sampai membuat ia tak peduli pada apapun.


" Jadi sekarang dia lebih penting dari Papa? "


Wajar bukan jika seorang ayah cemburu pada pria yang telah menggeser posisinya di hati sang putri?


" Bukan seperti itu, Papa dan Dia Sama-sama penting dalam hidup Anne tapi dalam kategori yang berbeda. Jika Papa tak penting, mana mungkin Anne meminta restu dan memohon seperti ini."


" Jadi, Anne harap Papa akan datang untuk menikahkan Anne. Karena Anne ingin Papa yang menjadi wali nikah Anne, "pinta Anne yang terdengar memohon dan sangat tulus.


Setelahnya, Panggilan pun di matikan.


" Bagaimana, Om? Anne ada dimana? "tanya Pangeran penasaran.


" Apa Kamu bisa melacak nomor khusus?"Bukannya menjawab pertanyaan Pangeran, Papa Ken justru bertanya hal lain.


" Nomor khusus? "ulang Pangeran memastikan.


Setelahnya, sebuah notifikasi pesan masuk.


📩 [Jika Papa masih tetap tak merestui, jangan salahkan Anne jika putri Papa ini akan terus menghilang]


" Maafkan Anne, Pa,"lirih Anne yang merasa bersalah karena sudah mengancam, memaksa serta memberikan pilihan yang sulit pada Papanya. Tapi, mengingat bagaimana keras kepalanya Papa Ken, sepertinya memang sekali-kali harus di beri sebuah pilihan yang di dalamnya terdapat sebuah ancaman.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2