
Di sebuah ruangan yang penuh akan alat-alat medis, terlihat seorang wanita cantik tengah membuka horden jendela agar cahaya bisa sedikit masuk.
Pantulan sinar mentari, terlihat menyilaukan sehingga mampu membuat pria itu mulai mengerjapkan matanya.
Perlahan, sepasang netra itu mulai terbuka. Seulas senyum terbit dari bibir yang terlihat begitu pucat. Meski hanya tampak dari belakang, Ia sudah mengenali siapa pemilik tubuh itu.
Setelah membuka horden, Anne membalikkan tubuhnya dan betapa terkejutnya ia saat melihat Brian sudah bangun. Namun, seperdetik kemudian seulas senyum terbit dari bibirnya.
" Kakak sudah bangun?" tanya Anne lembut.
Brian hanya terdiam dengan wajah yang terlihat begitu bahagia.
" Akhirnya, kamu datang juga dalam mimpiku," lirih Brian yang membuat Anne bingung.
" Mimpi?" ulang Anne memastikan.
Brian menjawab dengan kedipan mata karena tubuhnya terasa cukup lemah.
" Ya, selama ini aku berharap kamu datang, meski hanya lewat mimpi tidak apa-apa. Dan kini, hal itu terjadi. "
" Ingin rasanya aku tak mau terbangun dari tidur ini, "lanjutnya.
" Kenapa? "Anne mencoba meladeni perkataan Brian.
" Karena ketika aku bangun, aku akan tersadar jika dia sudah menjadi milik pria lain. "
Deg
Jantung Anne seakan berhenti sejenak, padahal ucapan Brian begitu sederhana. Namun, begitu mengena sampai ke uluh hati.
" Kamu kenapa?" Brian bertanya ketika melihat raut wajah Anne yang berubah sendu.
__ADS_1
Anne menggeleng.
" Maaf, "lirih Anne.
" Untuk apa? "Brian kembali bertanya.
" Segalanya. "
Brian memberanikan diri untuk mengenggam tangan Anne, toh ia sedang berada di alam mimpi. Jadi, Brian ingin melakukan hal-hal yang tak bisa ia lakukan di dunia nyata.
Anne terlihat terkejut, tetapi ada rasa seakan tak sanggup menampik genggaman hangat itu.
" Tak perlu meminta maaf, karena kamu tidak salah."
Anne masih terdiam dan mencoba menahan tangisnya agar tak pecah. Sungguh, melihat kondisi Brian yang seperti ini membuat Anne sedih dan merasa bersalah. Di saat Brian sedang berjuang melawan penyakitnya, Ia justru menerima lamaran dari pria lain. Apalagi saat melihat tumpukan buku tentang islam, cara sholat, dsb. Hati Anne semakin teriris.
Jujur, Anne tak pernah menyangka hal ini terjadi. Di saat Anne yang terus berusaha melupakan Brian, pria itu justru sedang berjuang agar bisa bersamanya. Keterbalikan yang menyakitkan bukan?
" Ya," jawab Anne lembut.
" Aku merindukanmu," kata Brian yang membuat Anne tak sanggup lagi untuk menahan tangis.
Melihat Anne yang menitikkan air mata, membuat Brian berusaha untuk bangun dari posisinya agar bisa membantu menghapus buliran itu.
" Kakak mau ngapain?" tanya Anne yang mencondongkan tubuhnya saat melihat Brian berusaha untuk bangun dari posisi tidurnya.
Brian tersenyum, lalu mulai menghapus butiran kristal yang jatuh membasahi wajah cantik itu. Tubuh Anne seakan diam membeku layaknya sebuah patung tanpa jiwa.
" Jangan pernah menitikkan air mata ini hanya karena diriku, karena aku lebih senang melihat kamu tersenyum saat bersamaku."
Netra keduanya saling bertemu dan mengunci satu sama lain. Meski hubungan mereka sudah lama berakhir, ternyata masih ada benih cinta di dalam hati. Benih yang sudah berusaha untuk di hilangkan, tetapi masih terus berusaha untuk tetap tumbuh.
__ADS_1
" Anne, Brian! Sedang apa kalian!" seru Kean yang terlihat terkejut dengan posisi kedua adiknya itu.
Mendengar suara Kean datang, Anne langsung menjauhkan diri dari Brian. Ia terlihat canggung, gugup, dan takut jika sang Kakak marah dengan apa yang telah terjadi.
Dahi Brian terlihat berkerut tatkala melihat sosok laki-laki yang tak asing baginya hadir juga di dalam mimpi.
" Kak Kean kenapa datang juga?" tanya Brian yang masih dalam mode belum sadar jika ia bukan sedang dalam dunia mimpi.
" Maksud Kamu?" Kean justru bertanya balik.
" Ya, Kakak kenapa ikut masuk kedalam mimpiku?"
"Mimpi!" pekik Kean yang merasa keheranan. Mungkin efek terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan sehingga membuat Brian lebih mudah berhalusinasi dan tak bisa membedakan mana dunia nyata dan mimpi.
Kean menghembuskan nafas panjangnya, kemudian berjalan menghampiri Brian dan mencubit pipi yang semakin terlihat kurus.
" Au!" pekik Brian yang terdengar oleh Anne.
" Kakak! Kok Kak Brian di cubit sih! Kakak lupa, ya kalau dia itu lagi sakit!" omel Anne yang merasa tak terima melihat Kean mencubit Brian.
" Apakah sakit?" tanya Anne perhatian.
Kean langsung mencekal tangan Anne yang akan menyentuh pipi Brian.
" Jangan berlebihan! Kalian itu bukan mahram! "tandas Kean. Meski ia menyetujui untuk membawa Anne pergi menemui Brian, bukan berarti ia akan membebaskan Anne untuk berbuat semaunya. Tetap harus ada batasan.
" Sebentar, kenapa ini terasa seperti ... Nyata?"gumam Brian yang masih terdengar oleh Anne dan juga Kean.
" Memang ini nyata, siapa yang bilang mimpi?"ujar Kean membenarkan agar Brian sadar.
" Jadi ... Anne beneran datang menemuiku? Bukan hanya mimpi? "
__ADS_1
...****************...